"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Bioetanol Jadi Solusi Saat Pasokan Minyak Tersendat



JAKARTA – Indonesia berhasil mengendalikan kenaikan harga minyak mentah akibat konflik di kawasan Timur Tengah, tetapi peristiwa ini menjadi pengingat bagi pemerintah untuk menyusun strategi yang lebih tangguh dalam menghadapi ketidakstabilan pasokan energi global. Salah satu upaya yang kembali diperkuat adalah program percepatan pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (BBN).

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia segera merespons ancaman kekurangan pasokan minyak mentah dalam waktu dekat. Ia menyampaikan bahwa pemerintah meminta adanya mandatori penggunaan BBN. Biodiesel kembali menjadi fokus utama. Sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia dan pengguna bahan bakar campuran sawit dengan porsi tertinggi, Indonesia memiliki keyakinan diri yang cukup kuat.

Pada tahun ini, Bahlil menyatakan bahwa mandatori biodiesel yang sebelumnya 35% (B35) harus ditingkatkan menjadi 50% (B50). Strategi ini diharapkan mampu menjaga stabilitas harga energi, sambil memberi waktu bagi pemerintah untuk mengelola subsidi selama harga minyak melonjak. Di sisi lain, BBN tidak hanya terbatas pada biodiesel. Indonesia masih memiliki potensi besar dalam mengembangkan bioetanol sebagai alternatif energi berbasis sumber terbarukan.

Setelah dua dekade lalu, wacana pengembangan bioetanol belum sepenuhnya terealisasi. Mandatori awal sebesar 5% ditetapkan sejak 2016, dan pada tahun ini seharusnya masuk fase campuran etanol 20% (E20). Namun, target tersebut hanya sedikit direalisasikan hingga saat ini.

Di sisi lain, berbagai negara telah mengadopsi campuran etanol dengan porsi yang semakin besar. Contohnya, Brasil berhasil memperkuat ketahanan energi sekaligus mengurangi emisi karbon. Etanol telah membantu Brasil mencapai penghematan devisa sebesar US$261 miliar per tahun. Selain itu, negara tersebut juga sukses mengurangi emisi karbon sebesar 1,34 miliar ton setara CO2.

Brasil terus meningkatkan produksi etanol, dengan target mencapai 50 miliar liter per tahun dari saat ini 36,83 miliar liter. Selain tebu, Brasil juga menanam jagung untuk produksi etanol. Kebijakan ini menarik investasi segar, seperti yang baru-baru ini dilaporkan oleh valorinternational.globo.com, yaitu pencairan dana sebesar US$23 miliar untuk ekspansi bioetanol berbasis jagung.

Negara-negara lain seperti India, Filipina, dan Amerika Serikat juga mulai menggenjot produksi etanol. Meski Indonesia terbilang lamban dalam pengembangan bioetanol, tidak ada kata terlambat untuk mengubah pandangan. Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiyani menyampaikan bahwa bioetanol berbasis molases lokal bisa menjadi solusi.

Pemerintah juga telah menerbitkan kebijakan baru tentang BBN, yaitu Kepmen No.114/2026, yang menargetkan mandatori E10 mulai 2028. Namun, banyak tantangan teknis yang menghambat realisasi. Untuk mencapai E10, dibutuhkan sedikitnya 5 juta kiloliter etanol, padahal kemampuan produksi dalam negeri baru sekitar 63.000 kiloliter.

Hambatan ini berasal dari keengganan produsen untuk terlibat dalam industri bioetanol. Harga yang tidak kompetitif dan persaingan bahan baku dengan sektor lain seperti makanan dan minuman menjadi alasan utama. Impor etanol, terutama dari Amerika Serikat, juga menjadi kendala karena bebas tarif.

Menurut Ketua Asosiasi Produsen Spiritus dan Etanol (Apsendo) Izmirta Rachman, diperlukan otoritas yang menggabungkan berbagai kewenangan kementerian untuk mendukung pengembangan bioetanol. Contoh yang layak dicontoh adalah National Biofuels Board (NBB) di Filipina. Lembaga ini mengkoordinasikan tata niaga, penetapan harga, dan rantai pasok bahan baku.

Selain itu, pengembangan bioetanol juga harus dilihat dalam konteks pelestarian lingkungan. Seperti Brasil, apakah Indonesia bisa menjaga keseimbangan antara produksi bahan baku yang berasal dari tanaman tanpa mengorbankan hutan? Semoga saja, Indonesia dapat mencapai tujuan ini.

Erina Syifa

Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *