Implementasi B50 Mulai 2026, Dampak pada Ekspor CPO dan Kesiapan Teknis
Implementasi biodiesel berbahan baku minyak kelapa sawit (CPO) dengan kandungan 50% atau B50 diharapkan mulai diterapkan pada 1 Juli 2026. Penerapan ini diprediksi akan memberikan dampak signifikan terhadap kuota ekspor CPO Indonesia. Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Gulat Manurung, menyatakan bahwa produksi CPO Indonesia pada 2025 mencapai 56 juta ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 32 juta ton diekspor, sedangkan 24 juta ton sisanya digunakan untuk kebutuhan domestik.
Dari 24 juta ton CPO yang digunakan dalam negeri, sekitar 12 juta ton dialokasikan untuk produksi biodiesel. Namun, dengan penerapan B50, kebutuhan CPO untuk biodiesel diperkirakan meningkat menjadi 19 juta ton. Hal ini berarti peningkatan sebesar 7 juta ton dibandingkan sebelumnya. Jika pengurangan ekspor dilakukan, maka sisa ekspor hanya sekitar 25 juta ton, yang menurut Gulat masih masuk akal dan rasional.
Pengurangan ekspor dari sisi lain akan memengaruhi penerimaan dari pungutan ekspor yang dikelola oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP). Pemerintah telah menetapkan implementasi B50 sebagai bagian dari roadmap panjang pengembangan biodiesel nasional. Menurut Gulat, program ini bisa menjadi solusi untuk mengurangi dampak kenaikan harga minyak global serta menekan impor BBM, khususnya solar.
“Sejak 2024 sudah direncanakan bahwa di 2026 itu akan memasuki B50. Jadi rangkaian panjang dari B5, B10, B15, B20, B30, B35, sampai B40 itu bagian dari rantai riset yang berkelanjutan,” ujarnya.
Meski dari sisi bahan baku dinilai cukup, Gulat menyebut ada pekerjaan rumah terkait kesiapan teknis penggunaan B50 pada mesin diesel. “Permasalahannya adalah apakah uji tuntas penggunaan B50 sudah sesuai dengan standar mesin diesel. Ini yang harus dipastikan lagi,” ujarnya.
B50 Bisa Tekan Impor, Tapi Bukan Solusi Tunggal
Ekonom dari Center of Reform on Economics, Yusuf Rendy Manilet, menilai dari sisi pasokan bahan baku, Indonesia relatif siap karena merupakan produsen sawit terbesar dunia. Namun, tantangannya terletak pada alokasi CPO yang harus bersaing antara kebutuhan ekspor, pangan, dan energi.
“Cukup secara agregat, tapi tetap ada trade-off yang harus dikelola. Karena CPO juga dipakai untuk ekspor, minyak goreng, dan industri lainnya,” ujarnya.
Dari sisi kesiapan industri, Yusuf menyebut ekosistem biodiesel Indonesia sudah cukup matang karena telah berkembang sejak program B20 dan B30. Mulai dari produsen Fatty Acid Methyl Ester (FAME) alias bahan baku nabati, infrastruktur pencampuran atau blending, hingga distribusi. Namun, kapasitas produksi masih perlu ditingkatkan untuk mendukung implementasi penuh B50.
Dengan konsumsi solar Indonesia sekitar 35–38 juta kiloliter per tahun, kebutuhan biodiesel untuk B50 diperkirakan berada di kisaran 17–19 juta kiloliter. Sementara kapasitas produksi biodiesel saat ini masih sekitar 15–16 juta kiloliter. “Artinya masih ada gap produksi sekitar 2–4 juta kiloliter yang harus ditutup,” kata Yusuf.
Ia juga menekankan bahwa program B50 tidak serta-merta menghilangkan ketergantungan impor BBM secara keseluruhan karena program ini hanya menyasar solar. Sementara konsumsi BBM Indonesia masih didominasi bensin seperti Pertalite dan Pertamax.
“Kalau ditarik ke level nasional, kontribusi B50 terhadap substitusi total BBM sebenarnya hanya sekitar 15–20 persen. Cukup signifikan, tapi belum membuat kita mandiri energi,” ujarnya.
Meskipun demikian, Yusuf menilai program B50 tetap penting karena dapat mengurangi impor solar dan menahan tekanan dari kenaikan harga minyak global. Dalam skenario optimal, kontribusi B50 terhadap substitusi solar bahkan bisa mendekati 40–45 persen dengan potensi penghematan devisa yang cukup besar.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











