Harga BBM Subsidi Tetap Stabil Meski Harga Minyak Mentah Dunia Melonjak
Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam negeri, khususnya jenis subsidi, dipastikan tidak akan mengalami kenaikan meskipun harga minyak mentah dunia (crude oil) melonjak akibat konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran. Hal ini disampaikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang menegaskan bahwa harga BBM subsidi seperti Pertalite tetap stabil.
“Kalau harga BBM yang subsidi, yang bensin Pertalite, itu mau (harga minyak dunia) naik berapa pun, tetap harganya sama sebelum ada perubahan dari pemerintah,” ujar Bahlil dalam Konferensi Pers Perkembangan Terkini Timur Tengah dan Implikasi Terhadap Sektor ESDM di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu 3 Maret 2026.
BBM Nonsubsidi Berpotensi Naik
Berbeda dengan BBM subsidi, harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax akan mengikuti mekanisme pasar dan fluktuasi harga minyak mentah dunia. Analis Pasar Modal dari Traderindo, Wahyu Laksono, menyebut jika harga minyak Brent bertahan di atas US$ 85–US$ 90 per barel, kenaikan harga BBM nonsubsidi di SPBU hampir bisa dipastikan terjadi pada awal bulan berikutnya.
“Harga jenis ini sangat berpotensi naik setiap bulannya karena mengikuti mekanisme pasar. Jika harga Brent bertahan di atas US$ 85-90, kenaikan harga di SPBU hampir bisa dipastikan terjadi pada awal bulan depan,” ujarnya, Rabu (04/03/2026).
Dampak ke APBN 2026 Jika BBM Subsidi Ditahan
Menahan harga BBM subsidi di tengah lonjakan harga minyak dunia akan berdampak langsung pada beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Wahyu menjelaskan, setiap kenaikan US$1 pada Indonesian Crude Price (ICP) di atas asumsi APBN berpotensi menambah beban subsidi dan kompensasi energi sebesar Rp6 triliun–Rp7 triliun.
Dengan asumsi APBN 2026 mematok ICP di kisaran US$ 70–US$ 80 per barel, kenaikan ke level US$ 95 berpotensi menambah beban belanja negara hingga lebih dari Rp 100 triliun. “Idealnya, harga minyak yang aman bagi postur APBN 2026 adalah di kisaran US$ 75–US$ 82 per barel,” jelasnya.
Tiga Skenario Harga Minyak dan Dampaknya
Berikut proyeksi skenario pergerakan harga minyak dan implikasinya terhadap APBN:
-
Eskalasi Terbatas
Harga minyak US$ 80–US$ 85 per barel (masih dalam batas atas asumsi APBN). -
Konflik Meluas
Harga minyak US$ 90–US$ 100 per barel (melampaui asumsi APBN). -
Skenario Terburuk – Blokade Selat Hormuz
Harga minyak di atas US$ 120 per barel, berisiko memicu krisis energi global.
Secara historis, ICP bergerak searah dengan Brent dengan selisih diskon atau premi tertentu. Jika Brent menyentuh US$ 100 per barel, ICP diperkirakan berada di kisaran US$ 95–US$ 98.
Harga Minyak Dunia Melonjak
Sebagai informasi, harga minyak mentah dunia ditutup naik 4,7 persen pada perdagangan Selasa (3/3/2026), menjadi level tertinggi sejak Januari 2025. Harga berjangka Brent ditutup naik US$ 3,66 atau 4,7 % menjadi US$ 81,40 per barel. Sejak konflik dimulai, harga Brent telah melonjak sekitar 12 %. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup naik US$ 3,33 atau 4,7 % menjadi US$ 74,56 per barel. Lonjakan ini dipicu gangguan pengiriman energi dari Timur Tengah serta kekhawatiran konflik yang berkepanjangan.











