"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Bagaimana Perang Dunia Kedua Memicu Kenaikan Harga Tempe



Ketergantungan Indonesia terhadap impor sejumlah komoditas pangan menjadi perhatian khusus dari para ahli ekonomi. Salah satunya adalah Tauhid Ahmad, ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), yang menyoroti risiko lonjakan harga di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global. Salah satu komoditas yang masih sangat bergantung pada impor adalah kedelai.

Menurut Tauhid, sekitar 80 persen kebutuhan kedelai nasional masih dipenuhi dari impor. Ia menjelaskan bahwa industri tempe, salah satu produk olahan kedelai yang sangat populer di Indonesia, sebagian besar menggunakan bahan baku impor karena produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Hal ini disampaikan oleh Tauhid dalam konferensi pers bertajuk “US–Indonesia Agreement on Reciprocal Tariff: Analisis Dampak Strategis Bagi Industri di Indonesia” di Hotel Des Indes, Jakarta Pusat, Kamis petang, 5 Maret 2026.

Tauhid berpandangan bahwa rencana pemerintah untuk mencapai swasembada pangan masih memerlukan waktu panjang apabila mencakup seluruh kebutuhan komoditas. Ia menilai ketergantungan impor, khususnya pada kedelai yang digunakan untuk industri tempe, menunjukkan bahwa produksi dalam negeri belum mampu menggantikan kebutuhan bahan baku tersebut.

Ia juga menyoroti potensi fluktuasi harga pangan di tengah dinamika geopolitik global. Menurut dia, ketegangan yang meningkat setelah serangan yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran berpotensi mempengaruhi stabilitas harga komoditas di pasar internasional. Meski dampak konflik biasanya lebih cepat terlihat pada komoditas energi, ia mengingatkan bahwa kenaikan harga pangan impor juga perlu diantisipasi oleh pemerintah, terutama bagi negara yang masih bergantung pada pasokan dari luar negeri.

Menurut Tauhid, apabila harga komoditas impor meningkat, Indonesia berisiko mengalami tekanan pada harga pangan domestik. Kondisi tersebut dapat terjadi pada komoditas seperti kedelai dan gandum yang sebagian besar masih dipenuhi melalui impor. Ia menilai pemerintah perlu mengantisipasi potensi kenaikan harga tersebut agar tidak menimbulkan tekanan lebih besar pada perekonomian domestik.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Yudi Sastro menyatakan bahwa pemerintah akan mengembangkan kedelai agar bisa swasembada secara bertahap. Caranya, pemerintah akan memperluas areal tanam kedelai seluas 73 ribu hektare pada tahun ini. Nantinya perluasan areal tanam difokuskan di wilayah sentra produksi seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Lampung. Yudi mengatakan perluasan areal tanam kedelai juga akan berlanjut pada tahun depan.

Selain memperluas areal tanam, Kementerian Pertanian akan mendorong perkembangan produksi kedelai dalam negeri melalui sejumlah insentif yakni bantuan benih, pupuk bersubsidi, serta alat mesin dan pertanian. Yudi mengatakan Kementerian Pertanian tidak buru-buru mengejar target swasembada kedelai. “Belum, kedelai itu kita masih banyak masalah,” ujar dia.

Adapun permasalahan dalam produksi kedelai antara lain varietas bibit. Yudi mengatakan saat ini kemampuan bibit kedelai hanya bisa memproduksi 1-1,5 ton per hektare. Sementara itu kebutuhan akan kedelai mencapai hingga 2,7 ton. Untuk itu, kata Yudi, diperlukan varietas unggul supaya menggenjot produksi.

Selain permasalahan bibit, Yudi mengatakan luas areal tanam menentukan produksi kedelai. Untuk itu, Kementerian Pertanian, kata dia, akan memperluas areal tanam kedelai secara bertahap. Dengan demikian, kebutuhan kedelai dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri atau dengan kata lain Indonesia bisa menekan importasi kedelai secara perlahan. “Secara gradual kita bertahap, enggak bisa sekaligus (berhenti impor),” tutur dia.

Data Kementerian Pertanian mengungkapkan Indonesia mengimpor sebagian besar kedelai dari Brasil, Amerika Serikat, dan Argentina. Pada 2023, nilai impor kedelai dari Brasil tercatat sebesar US$ 1,99 miliar atau 43,58 persen dari total impor kedelai. Adapun importasi dari asal Brasil dan Argentina sebagian besar dalam wujud olahan, yaitu bungkil dan residu padat kedelai selain dari tepung. Sementara untuk kedelai yang diimpor dari Amerika Serikat sebagian besar adalah dalam wujud segar.

Bahjah Jamilah

Bahjah Jamilah adalah seorang penulis berita yang menyoroti dunia kuliner dan perjalanan. Ia suka mengeksplorasi makanan baru, memotret hidangan, serta menulis ulasan perjalanan. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca blog kuliner. Motto: “Setiap rasa menyimpan cerita.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *