Penutupan Sementara Operasional SPPG Susulaku TTU Pasca Insiden Dugaan Keracunan
Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Susulaku (SPPG Susulaku) Kecamatan Insana, Kabupaten Timor Tengah Utara pasca insiden dugaan keracunan siswa SMA Negeri 1 Insana. Keputusan ini diambil berdasarkan surat Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan, Direktur Wilayah Pemantauan dan Pengawasan Wilayah III, yang ditandatangani Rudi Setiawan, S. IP., M. Han tertanggal 5 Maret 2026.
Surat tersebut dikeluarkan berdasarkan laporan pengaduan dari Koordinator Regional dan Kepala SPPG Timor Tengah Utara Insana Susulaku Provinsi Nusa Tenggara Timur tanggal 3 Maret 2026 terkait gangguan pencernaan, hasil investigasi singkat di lapangan, dan laporan dari Koordinator Regional Provinsi Nusa Tenggara Timur tanggal 3 Maret 2026 serta pertimbangan pimpinan BGN terkait terjadinya kejadian menonjol (KM) Gangguan Pencernaan.
Dalam surat itu, pihak BGN menegaskan bahwa dalam rangka investigasi dan menunggu hasil uji pemeriksaan laboratorium dari Dinas Kesehatan dan BPOM tanggal 3 Maret 2026, untuk sementara SPPG Timor Tengah Utara Insana Susulaku dihentikan operasionalnya sementara terhitung mulai tanggal 5 Maret 2026 sampai batas waktu yang tidak ditentukan.
Keputusan ini sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Surat Edaran Kepala BGN Nomor 4 Tahun 2025 tanggal 29 September 2025 tentang Percepatan Pengelolaan Keamanan Pangan pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi.
Tanggapan Yayasan Nekmese Mafiti Matulun
Perwakilan Yayasan Nekmese Mafiti Matulun, Novelino Christianzen Naisoko menyampaikan tanggapan ihwal insiden siswa-siswi SMA Negeri 1 Insana mengalami gejala sakit perut, mual dan muntah usai mengonsumsi makanan yang disajikan Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Susulaku.
Novelino menyebut, yayasan menilai terlalu dini jika kasus yang dialami oleh siswa-siswi SMA Negeri 1 Insana disebut sebagai keracunan. Pasalnya, untuk membuktikan bahwa siswa-siswi terindikasi dugaan keracunan harus menanti hasil dari laboratorium.
Satgas MBG Kabupaten TTU melalui Dinas Kesehatan sudah mengambil sampel makanan yang disajikan SPPG Susulaku pada tanggal 4 Maret 2026 untuk diuji di laboratorium. “Bagi kami, kita menunggu saja dulu hasil dari pemeriksaan laboratorium ini,” ungkapnya saat dikonfirmasi.
Ia mengatakan, setiap Dapur SPPG memiliki tim pengelola makanan bergizi gratis. Tim tersebut merupakan bagian dari Badan Gizi Nasional (BGN). Novelino mengaku percaya terhadap pengelolaan dari Tim Dapur SPPG Susulaku. Berdasarkan informasi yang mereka peroleh bahwa, ada sejumlah anak yang mengalami gejala sakit perut.
“Yang di mana ada Kepala SPPG, tenaga ahli akuntan dan tenaga ahli gizi ada perwakilan dari yayasan yakni PIC dan asisten lapangan yang ada di setiap SPPG,” ungkapnya.
Novelino juga mengklaim korelasi antara kejadian sakit perut dan makanan yang dikonsumsi siswa pada hari sebelumnya rentang waktunya cukup jauh untuk menyimpulkan bahwa, insiden yang dialami siswa disebabkan oleh MBG.
Di sisi lain, sebanyak 2566 penerima manfaat yang menjadi sasaran Program MBG yang dikelola SPPG Susulaku. Sasaran ini tidak hanya menyasar siswa-siswi tetapi juga menyasar kelompok rentan seperti bayi, balita dan ibu hamil. Apabila terjadi dugaan keracunan, semestinya kelompok rentan ini juga mengalami hal serupa.
“Jadi alangkah baiknya para media, sebelum terkait dengan isu yang diangkat kemarin, alangkah baiknya mengkonfirmasi terlebih dahulu kepada tim pengelola yang ada di SPPG Susulaku karena bagi kami, 7 orang tidak bisa mewakili kesimpulan yang dimuat oleh berita sebelumnya,” pungkasnya.
Penyangkalan dari Kepala SPPG Susulaku
Sebelumnya diberitakan, Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Timor Tengah Utara Insana Susulaku, Petrus Renoldy Kii membantah informasi ihwal ratusan siswa di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Insana diduga mengalami keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang disajikan Dapur SPPG Susulaku.
Menurutnya, jumlah ratusan siswa tersebut belum dapat diverifikasi kebenarannya. Pasalnya, indikator mereka dinyatakan keracunan tersebut belum bisa dipastikan melalui pemeriksaan kesehatan di fasilitas kesehatan atau pihak yang berkompeten seperti tenaga kesehatan.
Di sisi lain, sebanyak 10 siswa yang kemudian berdasarkan data yang disampaikan pihak Puskesmas Oelolok kepada Satgas MBG TTU sempat diberikan penanganan medis dan dirawat di fasilitas kesehatan itu.
Ia menjelaskan, pada Rabu, 4 Maret 2026 sekira pukul 08.30 WITA, SPPG Susulaku didatangi 2 orang guru dari SMA Negeri 1 Insana yang menyampaikan keluhan bahwa ada beberapa siswa yang mengeluhkan sakit perut karena mengkonsumsi MBG pada hari Selasa, 3 Maret 2026.
“Informasi dari guru itu hanya sebatas keluhan tidak langsung menyatakan bahwa, ini kesalahan dari MBG,” ujarnya, Kamis, 5 Maret 2026.
Setelah menerima informasi tersebut, Petrus Renoldy tidak memiliki ekspektasi lebih bakal akan ada siswa-siswi yang dilarikan ke Puskesmas Oelolok. Ia sempat mengikuti rapat di Kota Kefamenanu. Ketika sedang mengikuti rapat itu, ia menerima informasi bahwa sebanyak 7 orang anak dilarikan ke Puskesmas Oelolok.
Setelah menerima informasi ini, Petrus bergegas kembali ke SMA Negeri 1 Insana. Ketika tiba di sekolah itu, diterima informasi dari pihak sekolah sebagaimana yang disampaikan para guru sebelumnya dimana beberapa orang siswa mengalami sakit perut, mulas dan diare.
“Informasinya ada 7 siswa yang dibawa ke puskesmas untuk diidentifikasi. Jadi, dari 7 siswa itu, 4 orang rawat jalan dan 3 orang sempat diberikan infus,” ungkapnya.
Petrus Renoldy bergerak menuju ke Puskesmas Oelolok untuk memastikan informasi itu dan menerima informasi sebanyak 7 orang anak mengalami sakit perut dan mules. Ia tidak memungkiri bahwa, data yang disampaikan oleh oleh Puskesmas Oelolok perihal 10 siswa lebih valid. Lantaran mereka yang menangani langsung para pasien.
Penjelasan dari Ketua Satgas MBG TTU
Sebelumnya diberitakan, Ketua Satuan Tugas (Satgas) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Kamillus Elu, S. H membeberkan data terkini jumlah siswa-siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Insana yang bertobat ke Puskesmas Oelolok, Kecamatan Insana, Kabupaten TTU, NTT diduga mengalami keracunan usai mengkonsumsi makanan yang disajikan dari Program Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Ia menjelaskan, berdasarkan catatan pihak Puskesmas Oelolok, pada Rabu, 4 Maret 2026 sekira pukul 08.30 WITA, sebanyak 3 orang siswa SMA Negeri 1 Insana mendatangi Puskesmas Oelolok. Mereka menyampaikan keluhan mengalami lemas, muntah dan diare.
Tiga orang siswa ini kemudian dilakukan penanganan darurat berupa pemberian infus dan terapi oleh dokter. Sekira pukul 10.00 WITA, 7 orang Siswa SMAN 1 Insana mendatangi Puskesmas Oelolok dengan keluhan mengalami mual dan sakit perut.
Sebanyak 7 orang siswa tersebut diberikan terapi obat dan diperiksa oleh dokter. Dengan demikian, total sebanyak 10 orang yang dilarikan ke Puskesmas Oelolok pada Rabu, 4 Maret 2026.
“Mereka lalu diizinkan pulang atau melakukan rawat jalan,” ujarnya.
Ia menerangkan, SPPG Susulaku memberikan pelayanan kepada 542 siswa-siswi SMA Negeri 1 Insana. Dengan total sasaran sebanyak 2566 sasaran.
Kamillus menyebut, berdasarkan laporan yang disampaikan Dinas Kesehatan, gading ayam yang disajikan oleh Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Susulaku di bawah naungan Yayasan Nekmese Mafiti Matulun pada Selasa, 3 Maret 2026 tidak matang. Daging ayam yang disajikan terlihat kemerahan dan belum menunjukkan tanda-tanda matang sempurna. Selain itu, sayur-sayuran yang disajikan sudah basi.
“Laporan dari Dinas Kesehatan itu, daging (ayam) itu masaknya tidak sampai matang. Kemudian ada sayur yang sudah basi,” ujarnya.
Dinas Kesehatan Kabupaten TTU telah mengambil sampel makanan pada tanggal 3 Maret 2026 dan dikirim ke Kupang demi kepentingan pemeriksaan di laboratorium.
Dikatakan Kamillus, dalam beberapa kali rapat Satgas MBG Kabupaten TTU, ia sudah menyampaikan teguran kepada Korwil SPPI Kabupaten TTU, SPPI dan pemilik Dapur SPPG agar berhati-hati dalam menyajikan makanan kepada sasaran. Pasalnya, mereka dibiayai oleh negara untuk melaksanakan program itu.
Ia juga sudah menegaskan kepada SPPI dan pengelola SPPG agar menggunakan daging segar untuk menyajikan makanan bukan daging beku. Pasalnya, proses produksi daging beku belum diketahui secara pasti dari aspek higienis dan jangka waktu proses pembekuan.
Semestinya ahli gizi yang telah dibiayai oleh negara untuk memastikan kelayakan makanan melakukan pengawasan dan pemeriksaan secara maksimal.
Program MBG ini sangat baik. Kendati demikian, pengelola Dapur SPPG ini semestinya melakukan pengawasan ketat terhadap setiap produk makanan.
Di Kabupaten TTU, kata Kamillus, penyajian MBG sudah mengalami beberapa kali kasus seperti makanan berulat, anak-anak keracunan makanan dan lain-lain. Belajar dari kasus ini, semestinya SPPI dan pemilik Dapur SPPG harus mewanti-wanti proses penyajian makanan.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











