JAKARTA — Pada tahun 2025, sektor industri pengolahan dan pertanian mencatat pertumbuhan yang signifikan. Kedua sektor ini menunjukkan rekor pertumbuhan tertinggi sejak tahun 2015, dengan angka di atas 5%. Pertumbuhan sektor industri pengolahan secara keseluruhan mencapai 5,3% (YoY) sepanjang tahun 2025, lebih tinggi dibandingkan tahun 2024 yang hanya 4,43%. Sementara itu, sektor pertanian tumbuh eksponensial hingga 5,3%, jauh melampaui pertumbuhan tahun 2024 yang hanya 0,6%.
Menurut Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, sektor industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi terbesar pada 2025, dengan kontribusi sebesar 1,07%. Angka ini merupakan yang tertinggi dalam empat tahun terakhir. Di sisi lain, sektor pertanian juga menjadi sumber pertumbuhan ekonomi terbesar Indonesia dalam empat tahun terakhir, dengan kontribusi sebesar 0,60%. Angka ini melebihi level 2022 yang hanya 0,29%.
Namun, meskipun kedua sektor ini mengalami pertumbuhan yang positif, ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan. Sektor industri pengolahan tumbuh ketika impor bahan baku turun dan sektor padat karya mengalami tekanan. Tekanan ini terlihat dari tingginya angka pemutusan hubungan kerja (PHK) dan semakin tidak efektifnya investasi dalam menyerap tenaga kerja. Kontribusi sektor industri pengolahan pun tidak pernah bisa menyentuh angka 20% sejak tahun 2015.
Sementara itu, sektor pertanian yang tumbuh 5,33% (YoY) pada tahun lalu juga menjadi sumber pertumbuhan ekonomi tertinggi Indonesia dalam empat tahun yakni 0,60%. Namun, tingginya pertumbuhan dan kontribusi sektor pertanian ke PDB tidak selamanya menjadi kabar yang menggembirakan. Hal ini bisa diartikan bahwa transformasi ekonomi Indonesia ke arah industrialisasi tidak berjalan optimal alias stagnan.
Struktur Ekonomi Tidak Berubah
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti mengungkapkan bahwa struktur perekonomian Indonesia belum mengalami perubahan signifikan. Pertanian tetap menjadi kontributor besar terhadap perekonomian Indonesia, sementara industri manufaktur mengalami degradasi. Esther menjelaskan bahwa pertumbuhan tinggi pada sektor industri pengolahan tidak mencerminkan pertumbuhan pada sektor padat karya.
Salah satu sektor yang mengalami kesulitan adalah sektor tekstil. Esther menilai tantangan yang dialami sektor tekstil datang dari berbagai sisi, mulai dari mahalnya bahan baku hingga gempuran baju asal impor. Di pasar domestik, produk-produk dari China yang lebih murah dan berkualitas tinggi memberikan serangan berat terhadap sektor tekstil lokal.
Selain itu, Esther menyoroti masalah fundamental pada sektor tekstil. Dari segi investasi, ia menilai pemerintah perlu mendatangkan lebih banyak investor di sektor tekstil agar terciptanya ekosistem dari hulu hingga ke hilir. Menurutnya, sebagian pengusaha sudah memiliki alat produksi yang canggih, namun kualitasnya masih kalah saing dengan industri luar negeri jika dilihat dari sisi pengembangan SDM.
Catatan di Sektor Padat Karya
Ekonom dari Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda juga melihat pola serupa pada pertumbuhan industri manufaktur. Ia menilai sejumlah industri pengolahan menunjukkan pertumbuhan produksi signifikan, seperti industri logam dasar yang tumbuh 15,71% dan industri mesin serta perlengkapan yang naik 13,98%. Namun, kedua sektor ini bukan sektor padat karya. Justru industri padat karya mengalami penurunan, seperti industri kayu, karet, dan alat angkutan.
Investasi Bergelut dengan PHK
Pemerintah berharap investasi yang masuk ke Indonesia dapat meningkatkan pasar tenaga kerja. Namun, data Kementerian Investasi dan Hilirisasi menunjukkan bahwa selama 2025, kenaikan investasi tidak sebanding dengan kenaikan penyerapan tenaga kerja. Realisasi investasi mencapai Rp1.931,2 triliun sepanjang 2025, namun penyerapan tenaga kerjanya hanya mencapai 2.710.532 orang. Artinya, setiap 1 tenaga kerja yang terserap memerlukan investasi sekitar Rp712,48 juta.
PHK Cetak Rekor Pasca-Covid-19
Tren pemutusan hubungan kerja (PHK) pada tahun 2025 justru mencetak rekor tertinggi pasca-pandemi. Data Kementerian Ketenagakerjaan mencatat jumlah tenaga kerja yang mengalami PHK sebanyak 88.519 orang pada periode Januari–Desember 2025. Jawa Barat menjadi provinsi dengan kasus PHK tertinggi, dengan total 18.815 orang terkena PHK.
Pekerja Pertanian Tetap Dominan
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa sektor pertanian, perdagangan, dan pengolahan menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia hingga November 2025. Secara terperinci, sektor pertanian menyerap 27,99% tenaga kerja Tanah Air per November tahun lalu. Sementara itu, sektor perdagangan menyerap porsi tenaga kerja 18,67%, dan industri pengolahan menyerap 13,86%.











