Inisiatif Mahasiswa Teknik Sipil UMPR Memperbaiki Jalan Lingkungan
Masalah lubang di jalan lingkungan dan gang permukiman masih menjadi isu yang sering muncul di Palangka Raya. Meskipun ukurannya tidak selalu besar, lubang-lubang ini dapat mengganggu kenyamanan pengguna jalan, terutama pengendara sepeda motor yang melintas setiap hari. Hal ini mendorong mahasiswa Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Palangkaraya (UMPR) untuk melakukan tindakan nyata dengan memanfaatkan limbah praktikum mereka sebagai bahan penambal jalan.
Kegiatan tersebut dilakukan pada hari Sabtu, 14 Februari 2026, di dua titik jalan lingkungan di Kota Palangka Raya, yaitu Jalan Patih Rumbih dan Jalan Damang Leman. Di Jalan Patih Rumbih, lubang berada di ruas jalan yang ramai dilalui warga dan dekat dengan fasilitas umum. Sementara itu, di Jalan Damang Leman, lubang aspal berada di area tikungan yang cukup menyulitkan pengendara.
Awal Mula Ide Kegiatan
Ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil UMPR, Muhammad Hairil Anwar (20), menjelaskan bahwa kegiatan ini dimulai dari kebingungan dirinya dan rekan-rekannya setelah menyelesaikan rangkaian praktikum di laboratorium. Limbah aspal hasil pengujian yang tersisa selama ini kerap tidak termanfaatkan.
“Setelah praktikum selesai, kami bingung limbah aspal ini mau dibawa ke mana. Daripada dibuang, kami berpikir bagaimana caranya supaya hasil praktikum ini bisa memberi manfaat langsung ke masyarakat,” ujar Hairil, pada Senin (16/2/2026).
Dari keresahan sederhana itu, Hairil bersama rekan-rekannya sepakat memanfaatkan limbah praktikum untuk menambal lubang jalan lingkungan yang paling dekat dengan aktivitas warga sehari-hari. Kegiatan ini sekaligus menjadi pengalaman pertama bagi mereka turun langsung melakukan penambalan jalan.
Proses Penambalan Jalan
Aspal yang digunakan merupakan bahan praktikum yang sebelumnya telah melalui perhitungan campuran di laboratorium. Setelah praktikum selesai, aspal dihancurkan menjadi bagian-bagian kecil, lalu dipanaskan kembali menggunakan kompor, wajan, dan blower sederhana hingga mencair.
Sebelum aspal dituangkan ke jalan berlubang, mahasiswa membersihkan lubang jalan dari air dan kotoran. Kerikil dan pasir ditaburkan sebagai lapisan dasar agar aspal dapat merekat, sebelum akhirnya dituangkan dan diratakan secara manual.
Hairil mengatakan, ia bersama rekan-rekannya di Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil UMPR belum dapat memastikan sepenuhnya daya tahan aspal hasil praktikum yang digunakan, mengingat kegiatan tersebut masih menjadi bagian dari proses belajar.
Meski demikian, berdasarkan perhitungan campuran saat praktikum, aspal tersebut diperkirakan cukup kuat untuk dilalui kendaraan ringan seperti sepeda motor dan mobil tanpa muatan.
Persiapan dan Dukungan Warga
Sebelum melakukan penambalan, Hairil bersama rekan-rekannya terlebih dahulu berkoordinasi dan meminta izin kepada Ketua RT setempat. Izin lingkungan tersebut menjadi pegangan utama agar kegiatan penambalan dapat dilakukan dengan aman dan diterima warga.
“Kami izin ke Ketua RT dan dibolehkan. Warga juga bersyukur karena lubang jalan yang sudah cukup lama itu akhirnya bisa ditambal, meskipun sederhana,” ujar Hairil.
Saat proses penambalan berlangsung, suasana jalan sempat berubah. Pengendara yang melintas memperlambat laju kendaraan, sementara beberapa warga secara spontan membantu mengatur arus lalu lintas agar kendaraan tetap bisa lewat. Penambalan dilakukan bergantian di sela-sela kendaraan yang melintas, sehingga aktivitas warga tetap berjalan.
Manfaat dan Pengalaman Lapangan
Tidak ada keluhan dari warga. Justru mereka senang karena lubang yang selama ini mengganggu akhirnya tertutup dan lebih aman dilewati.
Bagi Hairil dan rekan-rekannya, kegiatan ini bukan sekadar menambal jalan. Lebih dari itu, menjadi pengalaman lapangan yang melengkapi pembelajaran di bangku kuliah, mulai dari menghadapi kondisi jalan lingkungan hingga keterbatasan alat di lapangan.
“Ini pembelajaran besar buat kami. Kami jadi tahu bagaimana kondisi di lapangan sebenarnya, tidak hanya teori di bangku kuliah,” ujarnya.
Melalui kegiatan tersebut, Hairil berharap perhatian terhadap jalan-jalan lingkungan dan gang permukiman dapat terus ditingkatkan. Menurutnya, jalan kecil yang setiap hari dilalui warga memiliki peran penting bagi mobilitas masyarakat dan perlu penanganan berkelanjutan dari pemerintah daerah.
“Harapan kami sederhana, jalan-jalan lingkungan lebih bisa diperhatikan. Jangan hanya jalan utama saja. Lubang kecil pun tetap berisiko bagi masyarakat,” pungkasnya.











