Indonesia kini menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi yang mencolok di dunia. Dalam proyeksi ekonomi global tahun 2025, Indonesia menempati peringkat ke-17 dunia dengan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar $1,4 Triliun. Angka ini tidak hanya menjadi indikator pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjadi tanda bahwa Indonesia mulai memainkan peran penting dalam peta ekonomi global.
Namun, di balik angka-angka tersebut, muncul pertanyaan mendalam tentang bagaimana nilai-nilai syariah dapat diterapkan dalam sistem ekonomi yang semakin besar dan kompleks. Pertanyaan ini menjadi fokus utama bagi para pemangku kepentingan di bidang Ekonomi dan Keuangan Syariah di tanah air.
Perkembangan Ekonomi: Sebuah Tantangan dan Peluang
Dengan PDB sebesar $1,4 Triliun, Indonesia memiliki daya beli yang sangat besar. Namun, konsumen Muslim Indonesia masih lebih banyak mengandalkan produk halal yang diimpor dari luar negeri, bukan produk lokal yang telah memiliki sertifikasi halal. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun kita menjadi pasar yang signifikan, kita belum mampu menjadi produsen utama yang mampu bersaing secara global.
Laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2024/2025 menunjukkan bahwa Indonesia berada di posisi teratas sebagai konsumen produk halal, namun sering kali absen di 10 besar negara pengekspor produk halal global. Ironisnya, negara-negara seperti Brazil dan Australia masih menjadi raja daging halal, sedangkan Korea Selatan dan Jepang menguasai pasar kosmetik dan pariwisata ramah Muslim.
Dengan PDB yang begitu besar, Indonesia harus mulai melihat dirinya sebagai pemain utama, bukan sekadar target pasar. Ekonomi syariah harus bertransformasi dari sekadar “sertifikasi halal” menjadi strategi industri yang kuat dan berkelanjutan.
Bank Syariah: Masih Terbatas Skalanya
Di tengah pertumbuhan ekonomi yang pesat, pangsa pasar perbankan syariah di Indonesia masih terbatas. Meskipun bank syariah seperti BSI telah berkembang, pangsa pasar mereka masih berkisar antara 7-8%. Ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara potensi ekonomi yang besar dengan penggunaan instrumen keuangan syariah yang belum optimal.
Ekonomi syariah harus mampu memberikan solusi untuk membiayai proyek strategis nasional yang mendukung pertumbuhan ekonomi. Jika pertumbuhan ekonomi Indonesia dibiayai oleh utang berbasis bunga atau investasi asing non-syariah, maka kerapuhan fundamental akan tetap mengintai.
Masa Depan Ekonomi Syariah
Data Visual Capitalist menunjukkan bahwa Indonesia kini melebihi Arab Saudi dalam volume ekonomi. Hal ini membuka peluang baru bagi diplomasi ekonomi syariah. Dengan ekonomi sebesar $1,4 Triliun, Indonesia memiliki leverage untuk menuntut investasi balik dari dana abadi negara-negara Teluk ke sektor riil di Indonesia.
Lebih jauh lagi, Indonesia harus berani mengambil alih kepemimpinan standar halal global. Standar halal Indonesia (BPJPH/MUI) harus menjadi acuan dunia, bukan sebaliknya. Dengan pasar domestik yang besar, Indonesia memiliki potensi untuk menjadi pusat pengembangan standar halal yang bisa diakui secara internasional.
ZISWAF: Solusi untuk Kesejahteraan yang Inklusif
Angka PDB adalah agregat yang buta terhadap ketimpangan. Jika $1,4 Triliun hanya terkonsentrasi pada segelintir orang, maka pertumbuhan ekonomi tidak akan berdampak positif bagi seluruh masyarakat. Di sinilah peran Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf (ZISWAF) menjadi penting.
Instrumen ZISWAF harus dikelola secara modern dan efektif. Dengan kue ekonomi yang besar, potensi zakat korporasi dan wakaf uang sangat besar. Wakaf produktif harus masuk ke sektor strategis seperti rumah sakit, sekolah bertaraf internasional, hingga pusat bisnis yang keuntungannya kembali ke umat.
Kesimpulan
Masuknya Indonesia ke jajaran elit ekonomi dunia dengan PDB $1,4 Triliun di tahun 2025 sejatinya adalah lonceng peringatan yang nyaring. Ibarat raksasa, Indonesia telah bangkit secara fisik dengan otot ekonomi yang besar, namun secara jiwa atau sistem ekonomi, ia masih terombang-ambing mencari bentuk terbaiknya.
Bagi para praktisi, regulator, dan akademisi ekonomi syariah, grafik pertumbuhan ini merupakan sebuah ultimatum yang menuntut perubahan radikal. Sudah saatnya kita mengubah narasi Indonesia dari sekadar pasar konsumen terbesar menjadi pabrik halal dunia. Di sektor keuangan, bank syariah dituntut untuk meningkatkan skalabilitasnya agar mampu bermain di level global, bukan sekadar menjadi jago kandang.
Lebih jauh lagi, instrumen sosial Islam (Ziswaf) harus dioptimalkan secara agresif untuk memastikan kue pertumbuhan $1,4 Triliun ini inklusif dan tidak justru melahirkan ketimpangan sosial yang akut.
Dunia kini telah mengakui besarnya volume ekonomi kita secara data. Sekarang adalah giliran kita untuk membuktikan bahwa besarnya ekonomi ini mampu berjalan beriringan dengan nilai-nilai keberkahan, keadilan, dan etika syariah yang substantif.
Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."











