Inara Rusli Laporkan Virgoun ke Komnas PA
Inara Rusli, mantan istri dari musisi Virgoun, melaporkan suaminya tersebut ke Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) terkait dugaan pengambilan anak secara paksa dan pemutusan akses komunikasi sepihak. Laporan ini dilakukan karena Inara merasa hak asuh anaknya yang sah telah dilanggar oleh Virgoun.
Dalam laporan tersebut, Inara mengungkapkan bahwa tindakan yang dilakukan oleh Virgoun dinilai melanggar aturan Mahkamah Agung dan putusan pengadilan. Menurut hukum, hak asuh anak sepenuhnya berada di tangan Inara setelah perceraian mereka. Namun, Virgoun diduga melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan aturan tersebut.
Tindakan yang Dianggap Kekerasan Psikis
Komnas PA menyatakan bahwa tindakan Virgoun dapat dikategorikan sebagai bentuk kekerasan psikis terhadap anak. Ketua Umum Komnas PA, Agustinus Sirait, membenarkan bahwa pihaknya telah menerima laporan resmi dari Inara Rusli. Dalam pertemuan tersebut, Inara menjelaskan kronologi bagaimana anak-anaknya diduga dibawa pergi tanpa persetujuannya.
Agustinus menegaskan bahwa tindakan pengambilan anak secara sepihak sangat keliru karena menabrak putusan pengadilan. “Kami tidak bisa membiarkan siapa pun, bahkan ayah kandungnya, untuk mengambil anak tanpa persetujuan dari ibunya yang memiliki hak asuh,” ujarnya.
Selain itu, Inara juga mengklaim bahwa Virgoun sengaja memutus akses komunikasi sehingga ia kesulitan memantau kondisi anaknya. Keadaan ini memaksa Inara harus mendatangi sekolah secara diam-diam hanya untuk bisa bertemu dan melihat wajah sang anak.
Upaya Mediasi dari Komnas PA
Sebagai tindak lanjut, Komnas PA berkomitmen segera memanggil Virgoun untuk memberikan klarifikasi melalui forum mediasi. “Kami menyarankan Ibu IR supaya dilakukan mediasi terhadap Bapak kandungnya. Kami mintakan nanti untuk memanggil ke Komnas Perlindungan Anak supaya bisa mengklarifikasi ini dan kita cari titik temu,” ujar Agustinus.
Kesedihan Ibu Virgoun
Ibunda Virgoun, Eva Manurung, terus kepikiran dengan nasib ketiga cucunya di tengah kasus yang menyeret nama Inara Rusli. Eva mengaku hatinya diliputi kesedihan ketika memikirkan nasib tiga cucunya kelak. Ia menilai persoalan yang terjadi berakar dari ibu ketiga anak tersebut.
“Peristiwa (masalah Inara) ini karena itu kan dari ibunya tiga cucuku.”
“Sampai kapan pun ini cerita nggak ada ending-nya.”
“Apa nggak sedih gue?” ujar Eva.
Tangis Eva pecah saat membayangkan kemungkinan cucu-cucunya harus menerima dampak sosial akibat konflik orang tua mereka. “Gimana itu nanti anak-anak mereka di saat 15 tahun terus ada yang berkata-kata yang nggak enak di mulut, gimana ngadepinnya?”
“Itu yang selalu aku bawa perasaan gitu lho. Nggak kuat,” ucap Eva sembari menangis.
Eva juga berpendapat, Inara seharusnya menjadikan anak-anaknya sebagai pengingat agar lebih berhati-hati dalam bersikap dan tidak terjerumus pada hal-hal yang bisa merugikan. “Betul semua orang ada khilafnya. Tapi ya, dia bawa dirinya seenak-enaknya, lupa ekornya ada tiga.”
“Coba kalau kita selalu sematkan itu anak di hati kita tiga orang, aku rasa itu rem untuk berbuat yang aneh-aneh,” papar Eva.











