"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Harapan Siswa dan Guru SDN 10 Linge Aceh, Rumah dan Sekolah Hanyut, Semangat Belajar Tetap Menggelora

Sekolah Darurat di Tenda: Kondisi Siswa dan Guru Pasca-Bencana



Di kawasan Takengon, siswa-siswi SD Negeri 10 Linge berbondong-bondong memasuki tenda berukuran 6 x 12 meter dengan warna oranye yang bertuliskan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Di dalam tenda tersebut, para murid membentuk lingkaran dan siap mengikuti pelajaran.

Guru kelas seperti Laina Fitri, Jasmadi, dan Arma Selamat sudah menunggu di dalam tenda. Masing-masing guru mengajar satu kelompok kelas. Kelas I dan II diampu oleh Laina Fitri, sementara Kelas III dan IV di bawah arahan Arma Selamat.

Selain tenda BNPB, terdapat pula tenda putih milik Balai Peningkatan Mutu Pendidikan (BPNP) Aceh yang digunakan sebagai tempat belajar untuk siswa SD serta sebuah tenda dari Taman Kanak-Kanak Nanda Lestari.

Para siswa kemudian serius mengikuti pelajaran dengan mengeluarkan buku catatan dan alat tulis dari tasnya. Guru-guru memberikan arahan kepada siswa di dalam tenda, yang menggunakan terpal plastik biru sebagai pengganti kursi.

Kondisi ini terjadi pasca-bencana banjir dan longsor yang menghancurkan bangunan sekolah mereka. Sekolah SD Negeri 10 Linge berada di Kampung Reje Payung. Setelah bencana, sekolah ini dipisah menjadi beberapa kelas yang berjarak jauh.

Alasan utamanya adalah karena siswa berasal dari tiga desa, yaitu Reje Payung, Jamat, dan Delung Sekinel. Pasca-bencana, bangunan sekolah tidak lagi bisa digunakan untuk belajar mengajar. Akses jalan juga semakin sulit karena rusak parah.

Letak sekolah di Reje Payung menyulitkan siswa dari Desa Delung Sekinel dan sebagian dari Desa Jamat. Mayoritas murid dari dua desa tersebut harus melintasi jalan yang sangat sulit untuk menuju sekolah.

“Kecuali siswa dari Dusun Bayur dan Dusun Nasuh, Desa Jamat, mereka masih bisa ke tenda belajar Reje Payung karena sudah ada jembatan apung,” ujar Kepala Sekolah SD Negeri 10 Linge, Nurdinsyah Muhammad Sedim, saat ditemui di tenda belajar darurat 02, di Dusun Jamat, Desa Jamat, Kecamatan Linge, Aceh Tengah.

Pihak sekolah terpaksa membagi siswa ke dalam dua lokasi tenda darurat. Tenda 03 dan 02 berada di Dusun Jamat, sedangkan Tenda 01 berada di Sekolah Induk SD Negeri 10 Linge, di Kampung Reje Payung.

“Karena jarak antara Tenda 01 kemarin karena sungai belum ada jembatan apung, namun sekarang sudah ada. Tetapi, akses jalan dari Delung Sekinel dan Dusun Jamat ke Reje Payung belum memungkinkan untuk dilalui,” ucap Nurdin.

Tenda 01 di Reje Payung dan Dusun Bayur Jamat dan Asuh berjumlah 59 orang, sedangkan Tenda 02 berjumlah 33 orang. Keseluruhan siswa ada 92 orang, guru 13, dan 1 penjaga sekolah.

SD Negeri 10 Linge termasuk sekolah berstatus Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) karena letaknya sekitar 3 jam dari Takengon, ibu kota Aceh Tengah, serta akses jalan menuju sekolah itu tidak beraspal sejak Indonesia merdeka.

“Sementara guru yang mengajar pakai shift, 1 guru masuk 3 hari, per hari ada 3 orang guru, 1 guru menangani 2 kelas,” lanjut Nurdin.

Ia merasa prihatin terhadap kondisi para siswa karena akses jalan jauh dan sulit sehingga pihak sekolah dan masyarakat bersepakat membuat dua sekolah dengan tenda darurat.

“Ke depan terserah pemerintah, karena ada permintaan relokasi. Apabila tidak direlokasi, mudah-mudahan ada pembuatan tanggul atau sejenisnya untuk mengantisipasi menghindari bencana serupa,” terang Nurdin, sembari berharap ada jembatan permanen untuk bisa dilalui dari Desa Jamat menuju Reje Payung, baik berupa bailey atau sejenisnya.

Sebagian dari para siswa itu telah kehilangan tempat tinggal karena terbawa banjir dan longsor akhir November lalu. Jika digabungkan dengan tiga desa, terdapat 27 siswa rumah hanyut, rusak berat 27 siswa, rusak ringan siswa, dan rumah tidak terdampak 25 siswa.

“Jadi, kami mendata berdasarkan jumlah siswa karena ada dalam satu keluarga yang belajar di sekolah ini,” ucap Nurdin.

Rumah Hanyut

Sementara tujuh rumah orang guru SD Negeri 10 Linge hanyut sehingga mereka mengungsi, 6 rumah guru lain mengalami kerusakan. “Sebagian besar guru mengungsi di Camp Pengungsian kemukiman di Delung Sekinel dan Jamat serta Reje Payung,” terang Nurdin.

Ia pun berupaya memberikan semangat kepada para siswa dan guru yang terdampak bencana karena pekerjaan mendidik masih harus dilakukan. “Kita tidak boleh larut, kami harus kuat dan harus memberikan yang terbaik bagi para siswa, meskipun komputer, papan tulis, kursi dan meja, serta perlengkapan lain sudah hilang dan hancur, seperti memulai dari awal lagi,” terangnya.

Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *