Sisi Lain dari Peristiwa Pengeroyokan di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur
Sejumlah pengakuan siswa SMKN 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi mengungkap sisi lain Agus Saputra (AS), guru yang menjadi korban pengeroyokan. Meski hingga kini, guru Agus belum angkat bicara mengenai pernyataan para siswa, beberapa siswa memberikan penjelasan tentang kronologi kejadian tersebut.
Bunga, seorang siswi kelas 2 ATP yang berada di lokasi kejadian pengeroyokan, membeberkan kronologi yang memicu kemarahan para siswa hingga berujung pada tindakan fisik. Menurut Bunga, emosi siswa meledak bukan tanpa alasan. Emosi itu muncul karena ucapan sang guru yang dinilai merendahkan profesi dan harga diri orang tua mereka.
Ketegangan sebenarnya sudah dimulai sehari sebelum insiden penamparan terhadap Lupi (salah satu siswa). Konflik tersebut dipicu oleh masalah sepele, yakni pintu kelas. Namun, situasi memanas ketika AS mulai melontarkan kata-kata yang menyinggung ranah pribadi para siswa.
Bunga menceritakan saat itu ia diminta rekannya, Jamil, untuk menutup pintu kelas atas permintaan rekannya, Jamil. Namun, AS merasa tersinggung dengan tindakan tersebut dan menyuruh pintu dibuka kembali sambil memarahi para siswa dengan sebutan “kurang ajar”.
Siswa Merasa Terhina Karena Hinaan Terhadap Orang Tua
Saat masuk ke kelas, AS dikabarkan langsung meluapkan emosinya dengan kata-kata yang dinilai sangat kasar oleh para siswa. “Beliau ini marah-marah dengan kami semua, bilang kami kurang ajar cuma masalah pintu ditutup. Terus ujung-ujungnya dia bawa-bawa ayah kami,” ungkap Bunga dengan nada kecewa.
Para siswa merasa terhina ketika profesi dan perjuangan ayah mereka dalam membayar uang komite sekolah justru dijadikan senjata oleh AS untuk merendahkan mereka. Bagi para siswa, ucapan tersebut adalah penghinaan terhadap kepala keluarga yang telah bersusah payah membiayai pendidikan mereka.
Bunga, yang juga melihat jelas detik-detik AS menampar rekannya yang bernama Lupi, menegaskan bahwa akumulasi sakit hati karena hinaan terhadap orang tua itulah yang memicu keributan. “Masalah awal itu pintu, tapi beliau tersinggung dan membawa-bawa ayah kami. Itu yang membuat kami benar-benar tersinggung,” pungkasnya.
Kronologi Versi Siswa yang Terlibat
Muhammad Lupi Fadila, salah satu siswa yang terlibat, juga membeberkan kronologi versinya yang memicu kemarahan massa siswa. Kemarahan itu hingga berujung pada aksi kekerasan di area kantor sekolah.
Menurut Lupi, ketegangan bermula dari kesalahpahaman di ruang kelas saat jam pelajaran hampir usai. Situasi kelas yang bising membuat Lupi spontan berteriak meminta rekan-rekannya diam. Namun hal itu justru memicu reaksi keras dari sang guru.
Lupi mengaku terkejut saat guru tersebut tiba-tiba masuk ke kelas tanpa permisi kepada guru yang sedang mengajar dan langsung mencari siapa yang berteriak. “Tiba-tiba beliau langsung masuk ke dalam kelas tanpa permisi ke guru yang ada di dalam, langsung tanya ‘siapa yang bilang woi?’. Terus saya jawab ‘saya Prince’ kayak gitu, terus spontan saya ke depan langsung ditampar,” ungkap Lupi.
Menariknya, penggunaan panggilan “Prince” ternyata merupakan permintaan khusus dari sang guru sendiri. Lupi menjelaskan bahwa guru tersebut kerap marah jika disapa dengan sebutan “Bapak” dan lebih memilih dipanggil dengan sebutan tersebut.
Aksi Pengeroyokan sebagai Reaksi Spontan
Situasi semakin memanas ketika para siswa menuntut permintaan maaf sang guru karena dianggap telah menghina orang tua salah satu siswa. Meski sudah dimediasi oleh guru lain dan komite sekolah untuk berpidato di depan siswa, sang guru justru membahas hal lain yang memicu kekecewaan.
Puncak pengeroyokan terjadi saat sang guru dibawa ke kantor oleh Bapak Komite. Lupi mengeklaim sang guru justru mengejek dan tersenyum sinis ke arah para siswa. Saat Lupi mendekat untuk meminta kejujuran, ia mengaku justru mendapat bogem mentah.
“Pas saya sampai depan muka dia, dia langsung meninju saya bagian hidung. Pas dia ninju itu, kebetulan kawan saya yang di dekat-dekat dia itu lihat semua. Spontan kawan saya langsung mengeroyok dia. Sebenarnya kalau enggak ada dia ninju duluan, enggak ada pengeroyokan itu,” tegas Lupi.
Lupi menekankan bahwa aksi pengeroyokan tersebut merupakan reaksi spontan rekan-rekannya setelah melihat dirinya ditampar di kelas dan dipukul di bagian hidung saat berada di area kantor.
Pesan Gubernur Jambi
Gubernur Jambi Al Haris meminta Dinas Pendidikan Provinsi Jambi untuk menyikapi kasus yang terjadi di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur. Al Haris meminta kasus ini ditempuh dengan penyelesaian secara bijak dan damai, setelah menerima laporan dari Kapolres Tanjab Timur terkait peristiwa tersebut.
Pemerintah Provinsi Jambi mengambil peran sentral dalam memfasilitasi mediasi antara pihak sekolah, guru, dan siswa guna memastikan konflik di SMKN 3 Berbak tidak berlarut-larut dan merusak iklim pendidikan.
Dengan mengedepankan pendekatan restorative justice, langkah ini bertujuan untuk menciptakan solusi jangka panjang yang tidak hanya meredam ketegangan hukum, tetapi juga memulihkan keharmonisan di lingkungan sekolah melalui kebijaksanaan dan perdamaian yang proporsional bagi semua pihak.
Al Haris menyebut insiden yang terjadi di SMKN 3 Tanjab Timur tidak baik bagi dunia pendidikan, namun karena peristiwa tersebut telah terjadi, pemerintah daerah berupaya mencari jalan keluar yang mengedepankan kebijaksanaan dan perdamaian.
“Proses mediasi telah dilakukan oleh pihak Kepolisian Resor Tanjab Timur dengan melibatkan kedua belah pihak yang berselisih, sebagai upaya penyelesaian tanpa memperpanjang konflik,” ujar Al Haris di Halaman Kantor Gubernur Jambi, Senin (19/01/2026).
Menurut Al Haris, Pemerintah Provinsi Jambi juga berupaya mencegah agar kejadian serupa tidak kembali terjadi di lingkungan pendidikan. Gubernur menegaskan bahwa pihaknya menghormati profesi guru sekaligus melindungi hak-hak anak didik, sehingga seluruh pihak yang terlibat perlu ditempatkan secara proporsional.
Ia menyampaikan bahwa dalam lingkungan sekolah, guru memiliki peran penting sebagai pendidik dan pembimbing bagi siswa, sementara di sisi lain para siswa juga memiliki hak-hak individu yang perlu diperhatikan.
Terkait Guru Bahasa Inggris SMKN 3 Tanjab Timur, Agus Saputra, Al Haris memastikan yang bersangkutan akan dipindahkan dari sekolah tersebut. Selain pemindahan, Al Haris juga meminta dilakukan pemeriksaan kejiwaan terhadap Agus Saputra untuk menilai kelayakannya dalam menjalankan tugas sebagai tenaga pendidik.
Menurutnya, pemeriksaan tersebut diperlukan mengingat profesi guru menuntut kondisi kejiwaan yang mendukung proses pendidikan dan pembinaan siswa. Al Haris juga meminta pihak terkait untuk melakukan pemeriksaan terhadap para siswa yang terlibat dalam kasus tersebut guna memastikan kondisi psikologis mereka.
Ia menegaskan, langkah tersebut dilakukan untuk memperoleh gambaran menyeluruh sebelum mengambil kebijakan lanjutan terkait penanganan kasus di SMKN 3 Tanjab Timur.
Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.











