.CO.ID, JAKARTA —
Senin, 12 Januari 2026, menjadi momen penting dalam sejarah pendidikan Indonesia. Presiden Ke-8 RI Prabowo Subianto meresmikan ratusan Sekolah Rakyat di berbagai daerah. Apa yang membuat peristiwa ini begitu istimewa?
Masalah Utama Pendidikan di Indonesia
Salah satu masalah terbesar dalam dunia pendidikan adalah akses. Terutama bagi masyarakat miskin. Anak-anak dari keluarga petani miskin, pemulung, buruh tani, kuli, dan kelompok lainnya sering kesulitan mendapatkan akses pendidikan. Mereka tidak hanya kesulitan memenuhi kebutuhan pokok, tetapi juga menghadapi tantangan untuk mendapatkan pendidikan berkualitas.
Pendidikan berkualitas sering dianggap sebagai barang mewah. Hanya orang dengan kemampuan finansial tinggi yang bisa menikmatinya. Biaya masuk sekolah swasta, baik nasional maupun internasional, sangat mahal. Ini menjadikannya tidak terjangkau bagi masyarakat kelas bawah.
Sekolah Rakyat: Inovasi Berani
Presiden Prabowo menyebut Sekolah Rakyat sebagai inovasi yang memberi dampak langsung bagi masyarakat. Dalam satu semester, Sekolah Rakyat telah menunjukkan pencapaian luar biasa. Banyak siswanya sudah bisa menggunakan Bahasa Inggris, bahkan ada yang menjuarai olimpiade matematika.
Sekolah Rakyat bukan hanya tentang nilai ujian atau angka kuantitatif. Fokusnya adalah pada pengembangan potensi siswa. Mereka diajak untuk percaya diri dan mengeksplorasi bakat mereka. Ada yang mengembangkan kemampuan menulis puisi, bermain teater, bernyanyi, atau keterampilan lainnya.
Konsep Self Efficacy
Salah satu aspek penting dalam kurikulum Sekolah Rakyat adalah penumbuhan self efficacy. Menurut Albert Bandura, keberhasilan belajar sangat dipengaruhi oleh keyakinan seseorang terhadap kemampuannya sendiri. Sekolah Rakyat berbeda dengan sekolah formal yang menitikberatkan pada persaingan nilai.
Di Sekolah Rakyat, siswa diberi ruang untuk mencoba, gagal, dan belajar dari kesalahan. Lingkungan yang suportif dan dialogis membuat peserta merasa dihargai dan didengar. Hal ini membantu meningkatkan self efficacy secara alami.
Perbedaan dengan Sekolah Formal
Anak-anak jalanan di sekolah formal sering kali merasa minder karena tidak memiliki uang jajan, pakaian seragam yang bagus, atau tempat tinggal yang layak. Di Sekolah Rakyat, tidak ada kewajiban memakai seragam. Mereka bisa datang dengan pakaian sehari-hari. Tidak ada rasa takut atau minder karena kondisi serupa dialami semua siswa.
Selain itu, Sekolah Rakyat menyediakan asrama dan program MBG (Makanan Berkualitas) untuk memastikan kebutuhan dasar terpenuhi. Persaingan di sini terjadi antara siswa dan diri mereka sendiri, bukan antar sesama.
Investasi untuk Masa Depan
Pendidikan adalah investasi jangka panjang. Teori Modal Manusia oleh Gary Becker dan Theodore Schultz menjelaskan bahwa pendidikan memberikan keuntungan jangka panjang bagi individu dan negara. Dengan pendidikan yang baik, peluang pendapatan dan kesuksesan di masa depan meningkat.
Sekolah Rakyat ingin membangkitkan potensi terbaik dari setiap peserta didik. Siapa tahu, dari sana lahir sastrawan baru, seniman baru, atau ahli-ahli berbakat lainnya.
Evaluasi dan Perkembangan
Meski Sekolah Rakyat masih dalam tahap perkembangan, program ini patut diapresiasi. Tidak ada sistem pendidikan yang sempurna. Selalu ada ruang untuk evaluasi dan penyempurnaan. Kritik diperlukan untuk melihat apa yang belum berfungsi dan apa yang perlu diperbaiki.
Keberanian untuk menjalankan terobosan seperti Sekolah Rakyat adalah langkah penting. Program ini akan terus berkembang bersama masyarakat, belajar dari pengalaman, dan melahirkan inovasi baru. Tujuannya adalah pendidikan yang lebih manusiawi, inklusif, dan relevan bagi semua anak Indonesia. Wajib dukung!











