"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Latihan Kompetensi IPAS Kelas 10 SMK Halaman 134

Pembahasan Soal IPAS Kelas 10 SMK: Mengatasi Pemborosan Listrik di Sekolah

Materi pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) kelas 10 SMK mengajak siswa untuk berpikir kritis dan inovatif dalam menyelesaikan masalah nyata. Salah satu topik yang dibahas adalah tentang pemborosan listrik akibat lampu selasar yang menyala terus-menerus. Hal ini menjadi dasar bagi siswa untuk merancang solusi teknologi yang dapat membantu menghemat energi listrik.

Soal-soal yang diberikan tidak hanya bertujuan untuk menguji pemahaman siswa, tetapi juga melatih kemampuan mereka dalam merancang solusi, mengomunikasikan hasil kerja, serta memahami prinsip-prinsip dasar teknologi. Berikut adalah penjelasan lengkap dari latihan soal Uji Kompetensi IPAS kelas 10 SMK halaman 134.

Masalah Utama yang Dihadapi oleh Pak Sofyan

Pertanyaan pertama dalam uji kompetensi ini menanyakan masalah utama yang dihadapi oleh Pak Sofyan, seorang pimpinan di sebuah SMK swasta. Dari wacana yang diberikan, dapat disimpulkan bahwa:

  • Listrik di selasar yang menyala terus

    Lampu-lampu di selasar sekolah sering kali tidak dimatikan setelah digunakan, sehingga menyebabkan pemborosan listrik.

  • Meningkatnya tagihan listrik

    Biaya penggunaan listrik sekolah meningkat rata-rata 10 persen dalam dua bulan terakhir. Hal ini disebabkan oleh penggunaan listrik yang tidak efisien.

Alternatif Solusi untuk Mengatasi Masalah

Siswa diminta membuat tabel alternatif solusi untuk membantu menyelesaikan masalah Pak Sofyan. Beberapa solusi yang dapat dipertimbangkan antara lain:

  • Membuat teknologi lampu menyala otomatis menggunakan sensor cahaya
  • Membuat alarm otomatis untuk memberi tahu apabila ada listrik masih menyala pada siang hari

Dengan solusi-solusi ini, diharapkan bisa mengurangi pemborosan listrik dan mendorong penggunaan energi secara lebih efisien.

Pemilihan Solusi yang Tepat

Salah satu solusi yang paling efektif adalah penggunaan lampu otomatis berbasis sensor cahaya (photocell) atau sensor gerak. Alasan pemilihan solusi ini adalah:

  • Lampu akan menyala hanya saat dibutuhkan, seperti malam hari atau ketika ada aktivitas.
  • Lampu akan mati secara otomatis pada siang hari, sehingga mengurangi ketergantungan pada tenaga manusia.
  • Solusi ini relatif mudah diterapkan dan cocok untuk area selasar yang sering terlewat dimatikan.
  • Selain itu, solusi ini juga bisa membantu menekan kenaikan tagihan listrik secara berkelanjutan.

Rancangan Desain Purwarupa

Untuk merealisasikan solusi tersebut, siswa diminta membuat rancangan desain purwarupa. Berikut adalah contoh rancangan:

Judul Purwarupa: Lampu Selasar Otomatis Berbasis Sensor Cahaya

Tujuan: Menghemat penggunaan listrik di selasar sekolah dengan sistem lampu yang dapat menyala dan mati secara otomatis sesuai kondisi cahaya.

Komponen Utama:
– Sensor cahaya (LDR/photocell)
– Lampu LED hemat energi
– Relay sebagai penghubung arus listrik
– Sumber listrik (PLN/adaptor)
– Kabel dan fitting lampu
– Kotak pelindung rangkaian

Cara Kerja:
– Sensor cahaya akan mendeteksi intensitas cahaya lingkungan.
– Saat kondisi gelap (malam hari), sensor mengaktifkan relay sehingga lampu menyala.
– Saat kondisi terang (siang hari), sensor memutus relay sehingga lampu mati secara otomatis.

Bentuk Purwarupa:
– Purwarupa dibuat dalam skala kecil menggunakan satu lampu LED yang dipasang pada papan atau miniatur selasar, lengkap dengan sensor cahaya dan rangkaian sederhana yang menunjukkan prinsip kerja sistem.

Hasil yang Diharapkan:
– Lampu selasar dapat menyala dan mati tanpa harus dioperasikan secara manual, sehingga penggunaan listrik menjadi lebih efisien dan biaya listrik sekolah dapat ditekan.

Uji Efektivitas Purwarupa

Untuk memastikan bahwa purwarupa bekerja sesuai harapan, siswa perlu melakukan uji coba dengan variabel yang sesuai. Contohnya, uji coba dapat dilakukan dengan mengubah kondisi cahaya dan melihat respons lampu.

Cara Mengomunikasikan Hasil Purwarupa

Hasil dari purwarupa dapat dikomunikasikan kepada pihak lain melalui berbagai cara, seperti:

  • Membuat pameran untuk menunjukkan hasil kerja
  • Menyusun jurnal ilmiah untuk dokumentasi
  • Melakukan seminar atau presentasi di depan guru dan teman sejawat

Dengan demikian, siswa tidak hanya belajar tentang teknologi, tetapi juga mengasah kemampuan berkomunikasi dan presentasi. Hal ini sangat penting dalam mengembangkan keterampilan holistik sesuai dengan Kurikulum Merdeka.


Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *