JAKARTA, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan Selasa (30/12/2025) belum mampu melewati level psikologis 9.000. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada pergerakan naik, indeks masih mengalami keterbatasan dalam mencapai target yang sebelumnya diharapkan.
Beberapa faktor utama yang memengaruhi laju IHSG antara lain:
-
Penipisan likuiditas musiman
Likuiditas pasar cenderung menurun menjelang akhir tahun, terutama karena adanya kebijakan dan aktivitas perusahaan yang berdampak pada pengurangan aliran dana ke pasar saham. Kondisi ini menjadi salah satu hambatan utama bagi penguatan indeks. -
Melemahnya saham-saham berkapitalisasi besar (big caps)
Sementara sebelumnya saham-saham big caps menjadi penopang utama kenaikan IHSG, kini mereka justru menunjukkan pelemahan. Hal ini menyebabkan indeks kehilangan tenaga pendorong yang signifikan. -
Kurangnya dukungan fundamental emiten
Penguatan IHSG lebih didorong oleh sentimen jangka pendek dan faktor teknikal, bukan oleh kinerja perusahaan yang solid secara keseluruhan. Perbaikan kinerja emiten secara menyeluruh belum terlihat secara signifikan.
Menurut Azharys Hardian, Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), dinamika pasar saham domestik menjelang akhir tahun cenderung melambat. Ia menjelaskan bahwa kondisi ini merupakan pola musiman yang biasanya terjadi setiap tahun. Akibatnya, indeks kesulitan melanjutkan reli yang lebih agresif.
Selain itu, fenomena window dressing yang lazim terjadi menjelang akhir tahun juga turut memengaruhi pergerakan pasar. Meski demikian, dampaknya lebih bersifat menjaga stabilitas indeks secara psikologis, bukan menjadi motor penggerak reli lanjutan.
“Alih-alih memicu rally signifikan, efek window dressing saham-saham ini hanya menjadi penopang psikologis pasar, bukan pendorong kuat untuk mengejar 9.000,” ucap Azharys.
Di sisi lain, Nafan Aji Gusta dari Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas menilai bahwa ekspektasi pasar terhadap Santa Claus rally tidak sepenuhnya terwujud di pasar saham domestik. Ia mencatat bahwa pola Santa Claus rally di Indonesia berbeda dengan yang terjadi di pasar global.
Menurut Nafan, penguatan IHSG baru mulai terlihat memasuki pekan keempat Desember. Sebelumnya, indeks cenderung bergerak terbatas dan memasuki fase konsolidasi. Menjelang Natal hingga 31 Desember 2025, IHSG sempat bergerak mendatar sebelum akhirnya menutup bulan dengan kondisi konsolidasi yang relatif stabil.
Ia juga menambahkan bahwa pergerakan IHSG lebih banyak dipengaruhi oleh saham-saham konglomerasi, serta saham lapis kedua dan ketiga yang menjadi perhatian investor ritel dan semi-institusi. Sebaliknya, saham-saham blue chip masih menunjukkan kinerja harga yang relatif kurang agresif.
Dari sisi domestik, Nafan menilai fondasi ekonomi Indonesia sebenarnya masih cukup kuat. Permintaan domestik tetap solid, inflasi relatif terjaga, serta terdapat peluang pelonggaran kebijakan moneter oleh Bank Indonesia (BI) pada tahun depan. Pelonggaran tersebut diperkirakan dapat dilakukan sebanyak dua kali, masing-masing pada akhir kuartal I-2026 dan akhir kuartal II-2026.
Namun, dari sisi global, pelaku pasar masih dibayangi berbagai sentimen negatif, terutama terkait dinamika geopolitik yang meningkatkan sikap kehati-hatian investor. Selain itu, ekspektasi terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat juga sempat menekan pasar, seiring berkurangnya harapan pelonggaran agresif dari Federal Reserve (The Fed).
Meski demikian, rilis data ekonomi Amerika Serikat yang lebih baik dari perkiraan, seperti data Producer Price Index (PPI) dan estimasi kedua pertumbuhan ekonomi AS (US GDP) kuartal III, kembali memunculkan optimisme pasar. Data tersebut membuka peluang bahwa The Fed masih memiliki ruang untuk mempertimbangkan pelonggaran moneter lanjutan.
Kondisi tersebut membuat dampak Santa Claus rally global lebih terasa pada awal hingga pertengahan Desember, khususnya di pasar Amerika Serikat yang didominasi saham-saham teknologi dan sentimen kecerdasan buatan (AI). Sementara di Indonesia, tanpa dukungan reli yang kuat dari saham-saham blue chip, penguatan indeks menjadi terbatas.
Pada akhirnya, kombinasi likuiditas yang menipis, melemahnya saham-saham penopang utama, serta kehati-hatian investor membuat IHSG belum mampu menembus level 9.000 hingga akhir tahun. Jika saham-saham berkapitalisasi besar di Tanah Air mampu melanjutkan reli yang lebih kuat dan Santa Claus rally berlangsung sepanjang Desember, IHSG berpeluang mencapai level tersebut, sejalan dengan target yang pernah disampaikan oleh Purbaya maupun Bursa Efek Indonesia (BEI). Namun hingga akhir 2025, target tersebut masih tertahan oleh realitas pasar yang bergerak lebih hati-hati.











