Pemenuhan Kebutuhan Hidup Layak Masih Jauh dari Upah Minimum Provinsi
Kepala daerah di 36 provinsi di Indonesia telah mengumumkan besaran Upah Minimum Provinsi (UMP) terbaru yang berlaku mulai 1 Januari 2026. UMP 2026 ini akan menjadi acuan bagi para pengusaha dalam memberikan gaji kepada karyawannya. Namun, besaran UMP 2026 di sejumlah wilayah ternyata masih di bawah Kebutuhan Hidup Layak (KHL) yang dirilis oleh Kementerian Ketenagakerjaan.
Sebagai contoh, UMP 2026 Yogyakarta ditetapkan senilai Rp 2.417.495, naik 6,78 persen dari tahun sebelumnya. Namun, kenaikan tersebut masih jauh dari biaya kebutuhan hidup layak di Jogja yang mencapai Rp 4.604.982. Di Jawa Tengah, Gubernur Ahmad Luthfi menetapkan UMP 2026 menjadi Rp 2.327.386, yang naik Rp 158.037 dari tahun sebelumnya. Akan tetapi, angka tersebut masih jauh dari kebutuhan hidup layak di Jawa Tengah yang mencapai Rp 3.512.997.
Lantas, mungkinkah pekerja bisa hidup dengan ideal dan layak jika gaji yang diterima kurang dari biaya kebutuhan hidup layak?
Cara Menyiasati Pengeluaran Agar Tetap Hidup Ideal
Perencana Keuangan Andi Nugroho menjelaskan bahwa pekerja yang memiliki gaji sesuai UMP yang ditetapkan pemerintah tapi masih jauh dari kebutuhan hidup layak perlu menyiasati pengeluaran agar bisa hidup dengan ideal. Ia menyarankan pekerja untuk berpikir dan menyiasati agar penghasilannya bisa memenuhi berbagai kebutuhan secara semaksimal mungkin.
Andi menambahkan bahwa pekerja tidak bisa terus-menerus menuntut tempat kerja untuk memberikan penghasilan sesuai kemauan pribadi karena penghasilan pekerja sudah diperhitungkan oleh pemberi kerja. Ia menekankan bahwa meskipun bekerja lembur atau mencapai target, penghasilan tetap terbatas dan dapat diprediksi jumlahnya.
Oleh karena itu, Andi mengimbau agar pekerja menyiasati pengeluaran yang sehat di tengah kebutuhan yang tinggi. Pastikan pengeluaran tidak lebih banyak dari pemasukan. Berikut ini skema pengaturan gaji bulanan yang bisa digunakan:
- 40 persen untuk kebutuhan sehari-hari
- 30 persen untuk cicilan hutang
- 20 persen untuk ditabung atau diinvestasikan
- 10 persen untuk dana amal
Skema di atas tidak bersifat mutlak dan bisa disesuaikan tergantung pada prioritas pengeluaran. Prioritas pertama adalah pengeluaran yang bersifat penting dan wajib, seperti membayar cicilan hutang, uang sekolah anak, tagihan air pam, serta beli token listrik. Prioritas berikutnya adalah kebutuhan penting namun bisa diatur ulang dan ditekan jumlah pengeluarannya, seperti makan sehari-hari dan uang transport. Prioritas terakhir adalah kebutuhan yang bersifat kesenangan dan keinginan.
Cara Hidup Layak di Tengah Gaji yang Rendah
Selain mengatur skema pengeluaran, Anda juga bisa mencari penghasilan tambahan untuk meningkatkan pemasukan. Miliki penghasilan tambahan apapun itu, baik dengan bekerja lembur, bekerja di beberapa tempat, pekerjaan sampingan, atau menjalankan bisnis sendiri. Andi juga menyarankan untuk mengendalikan gaya hidup dengan tidak mudah merasa iri atas pencapaian orang lain. Sikap seperti itu justru bisa membuat penghasilan cepat habis hanya karena mengejar “ketertinggalan”.
Jangan pula merasa malu dengan kondisi saat ini ataupun gengsi untuk bekerja ekstra atau berbisnis sampingan. Terakhir, terus upgrade skill dan kemampuan agar kapabilitas bisa meningkat sehingga mendapatkan income lebih besar lagi.
Upah Rendah Pengaruhi Psikologis Pekerja
Masalah finansial juga dapat memengaruhi kondisi mental seseorang. Psikolog dari Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal menjelaskan bahwa UMP yang dirasa tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup layak bisa menimbulkan perasaan tertekan dan cemas. Masalah finansial bukan sekadar angka di rekening, melainkan beban emosional yang berat karena berkaitan langsung dengan rasa aman dan harga diri.
Dampak psikologis yang mungkin dirasakan pekerja dengan upah yang tidak layak antara lain:
- Mudah stres: Kekurangan uang memicu hormon stres secara kronis.
- Penyempitan pola pikir: Kemiskinan atau kekurangan sumber daya menyedot kapasitas kognitif.
- Merasa rendah diri: Ketidakmampuan mengikuti standar gaya hidup lingkungan sering memicu rasa rendah diri.
- Kehilangan minat: Tekanan finansial dapat membuat hal-hal yang dulu menyenangkan terasa tawar.
Cara Mengatasi Stres di Tengah Kondisi Ekonomi Sulit
Mengubah kebijakan upah di luar kendali seseorang. Oleh karena itu, cara terbaik untuk meresponsnya adalah dengan mengubah pola pandang. Berikut ini tips dari psikolog untuk mengatasi stres di tengah kondisi ekonomi yang sulit:
- Kendalikan yang bisa dikendalikan: Ambil kembali kendali kecil, misalnya dengan mencatat keuangan secara transparan dan menetapkan prioritas.
- Manfaatkan gotong royong: Hindari memikul beban sendirian. Cari teman atau komunitas yang mengalami nasib serupa.
- Mengurangi media sosial: Media sosial sering menjadi racun saat kondisi ekonomi sedang sulit.
- Akses ke layanan kesehatan mental: Jika stres mulai mengganggu fungsi sehari-hari, cobalah untuk memeriksakan diri ke layanan medis.
- Temukan kebahagiaan tanpa biaya: Lakukan aktivitas yang melepaskan endorfin tanpa biaya, seperti jalan kaki di taman kota, mendengarkan musik/podcast gratis, atau berolahraga ringan.
Danti menekankan bahwa kondisi ekonomi di masa depan memang semakin menantang, tapi ingatlah bahwa harga diri kita tidak ditentukan oleh angka gaji semata. Kita bersama-sama sedang berjuang di tengah sistem yang sulit, dan bertahan sejauh ini adalah sebuah pencapaian yang layak diapresiasi.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











