JAKARTA — Investor mulai beralih fokus pada daya beli konsumen AS menjelang musim belanja akhir tahun. Hal ini terjadi seiring dengan melemahnya sentimen pasar saham AS sepanjang November 2025.
Reli saham yang sebelumnya terjadi di pasar AS terhenti pada bulan November 2025 setelah indeks acuan S&P 500 mengalami penurunan lebih dari 4% sepanjang bulan tersebut. Meski kinerja kuartalan yang kuat dari perusahaan semikonduktor besar seperti Nvidia Corp pada Kamis (21/11/2025) berhasil memberikan sedikit optimisme, hal ini tidak cukup untuk meredakan kekhawatiran pasar. Kekhawatiran utama meliputi valuasi yang tinggi dan pertanyaan tentang imbal hasil investasi korporasi besar-besaran di bidang infrastruktur kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Belanja konsumen, yang menyumbang lebih dari dua pertiga aktivitas ekonomi AS, kini menjadi perhatian utama para investor dan pelaku pasar. Pekan perdagangan akan terpotong oleh libur Thanksgiving pada Kamis, diikuti oleh Black Friday dengan berbagai diskon besar-besaran, kemudian Cyber Monday serta rangkaian promosi lainnya.
Beberapa data terbaru menunjukkan penurunan sentimen konsumen, sementara indikator lainnya tertunda karena penutupan pemerintahan. Hal ini membuat sinyal belanja saat musim liburan menjadi lebih penting dari biasanya. Chris Fasciano, Chief Market Strategist Commonwealth Financial Network, mengatakan bahwa pembacaan data awal Black Friday dan Cyber Monday akan sangat penting karena minimnya rilis data yang tersedia.
“Seluruh periode belanja akhir tahun akan menjadi tolok ukur penting tentang kondisi konsumen dan implikasinya terhadap ekonomi,” ujarnya.
Meskipun Indeks S&P 500 masih naik 11% (year to date/YtD), indeks ini telah terkoreksi lebih dari 5% dari rekor tertingginya pada akhir Oktober. Indeks volatilitas Cboe pada Kamis mencatat penutupan tertinggi sejak April. Performa pasar saham berpotensi memengaruhi belanja akhir tahun, terutama bagi kelompok berpendapatan tinggi yang memiliki eksposur besar di ekuitas.
Meski mengalami gejolak, S&P 500 telah melesat lebih dari 80% sejak bull market terbaru dimulai tiga tahun lalu. Doug Beath, Global Equity Strategist Wells Fargo Investment Institute, mengatakan bahwa jika terjadi koreksi, sebagian besar kekayaan kelompok berpendapatan tinggi berada di pasar saham. Akan menarik melihat apakah mereka tetap belanja seperti sebelumnya.
Bulan ini, National Retail Federation memperkirakan bahwa penjualan liburan AS akan menembus US$1 triliun untuk pertama kalinya. Namun, proyeksi pertumbuhan 3,7%–4,2% pada November–Desember lebih lambat dibanding 4,3% pada 2024. Michael Pearce, Deputy Chief U.S. Economist Oxford Economics, menyebut bahwa neraca rumah tangga berada pada posisi yang sangat kuat, tetapi pertumbuhan lapangan kerja yang melambat dapat menekan belanja liburan.
“Faktor paling penting bagi belanja konsumen adalah kesehatan pasar tenaga kerja,” katanya.
Data dari laporan ketenagakerjaan bulanan yang tertunda dan dirilis Kamis menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja AS menguat pada September. Namun tingkat pengangguran justru naik ke level tertinggi empat tahun, yakni 4,4%. Inflasi yang tetap tinggi, termasuk akibat kenaikan tarif impor, juga dapat membebani belanja, tambah Pearce.
Musim belanja akhir tahun sangat krusial bagi peritel. Walmart pada Kamis menaikkan proyeksi tahunannya sebagai sinyal optimisme jelang akhir tahun. Namun, laporan dari peritel lain pekan ini menunjukkan hasil yang beragam.
Indikator lain soal konsumen akan terlihat dari rilis penjualan ritel AS untuk September pada Selasa, yang tertunda akibat penutupan pemerintah federal selama 43 hari. Masuknya tumpukan data yang tertahan dalam beberapa pekan ke depan berpotensi meningkatkan volatilitas pasar ketika investor menilai kesehatan ekonomi dan peluang Federal Reserve (The Fed) memangkas suku bunga pada pertemuan 9–10 Desember 2025.
Setelah laporan pekerjaan September—yang menjadi rilis terakhir sebelum pertemuan The Fed berikutnya—futures dana Fed pada Kamis malam mencerminkan peluang 67% bahwa bank sentral mempertahankan suku bunga stabil pada Desember, setelah dua kali pemangkasan masing-masing 25 bps pada pertemuan sebelumnya.
Ekonom Morgan Stanley menyatakan mereka tidak lagi memperkirakan pemangkasan suku bunga pada Desember, namun memproyeksikan tiga kali penurunan pada 2026. “Jalur kebijakan suku bunga sangat bergantung pada data. Menurut kami, laporan yang bercampur membuat komite ingin melihat data tambahan sebelum mengambil langkah berikutnya,” tulis para ekonom Morgan Stanley.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











