"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Perubahan Taman Nasional Tesso Nilo 2009-2025: 85% Hutan Berubah Fungsi

Taman Nasional Tesso Nilo Terancam Kehilangan Ekosistemnya

Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) yang berada di Kabupaten Pelalawan, Riau, kembali menjadi perhatian masyarakat setelah 85 persen wilayahnya dilaporkan berubah menjadi perkebunan sawit. Kawasan ini sebelumnya merupakan hutan hujan dataran rendah yang menjadi habitat penting bagi satwa langka seperti gajah sumatera dan harimau sumatera.

Berdasarkan data dari Kementerian Kehutanan, TNTN memiliki keanekaragaman hayati yang luar biasa. Dalam kawasan ini terdapat 360 jenis flora, 107 jenis burung, 23 jenis mamalia, tiga jenis primata, 50 jenis ikan, 15 jenis reptilia, dan 18 jenis amfibia. Namun, kondisi tersebut kini mengalami penurunan drastis akibat alih fungsi lahan.

Pada Juli 2025, Gubernur Riau Abdul Wahid dan Bupati Pelalawan Zukri melakukan peninjauan udara yang menemukan bahwa sekitar 70.000 hektar dari total 81.793 hektar TNTN telah berubah menjadi perkebunan sawit ilegal. Temuan ini juga dilaporkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup.

Kejaksaan Agung melalui Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) juga mencatat bahwa luas Taman Nasional Tesso Nilo terus mengalami penggerusan sejak 2014. Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Harli Siregar menyebutkan bahwa pada 2014 luasan TNTN sekitar 81.739 hektar, namun dalam perkembangannya mengalami penggerusan.

Perubahan Wilayah Taman Nasional Tesso Nilo

Foto-foto dari tahun ke tahun menunjukkan perubahan signifikan pada kawasan Taman Nasional Tesso Nilo. Melalui fitur Google Timelapse di Google Earth, aktivitas alih fungsi lahan terlihat jelas. Pada 2009, kawasan tersebut masih hijau, menandakan adanya vegetasi hutan yang padat. Namun, mulai 2012, sebagian wilayah mulai berwarna coklat yang menandakan perubahan lingkungan.

Kondisi ini terus berkembang hingga 2014, di mana hampir separuh kawasan berwarna coklat. Pada tahun-tahun berikutnya, hutan di Taman Nasional Tesso Nilo terlihat semakin menghilang. Berikut adalah perbandingan foto dari tahun ke tahun:

  1. Foto Taman Nasional Tesso Nilo tahun 2009-2014

    Pada masa ini, kawasan masih tampak hijau dan penuh dengan vegetasi hutan.

  2. Foto Taman Nasional Tesso Nilo tahun 2017-2022

    Tampilan kawasan mulai menunjukkan tanda-tanda perubahan, dengan beberapa area berwarna coklat.

  3. Foto Taman Nasional Tesso Nilo tahun 2025

    Saat ini, kawasan terlihat sangat berbeda, dengan banyak area yang sudah berubah menjadi perkebunan sawit.

Dampak Perambahan pada Ekosistem dan Masyarakat

Perambahan di Taman Nasional Tesso Nilo memiliki dampak serius terhadap ekosistem dan kehidupan satwa liar. Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Supartono, menyampaikan bahwa perambahan menyebabkan habitat dan ruang hidup satwa seperti gajah sumatera berkurang. Hal ini membuat gajah-gajah tersebut kehilangan sumber makanan dan tempat berlindung, sehingga mereka masuk ke perkebunan warga dan memicu konflik.

Selain gajah, satwa liar lain seperti harimau juga masuk ke permukiman dan menyerang warga. Supartono khawatir jika kondisi ini dibiarkan, populasi satwa liar yang langka akan terancam punah.

Data Komandan Satgas Garuda mencatat bahwa populasi gajah di TNTN terus menurun bersamaan dengan perluasan degradasi kawasan karena aktivitas ilegal para pendatang dalam 20 tahun terakhir.

Tidak hanya mengganggu satwa, warga di sekitar lokasi juga merasa dirugikan. Sebuah video viral di media sosial merekam aksi warga yang berdemo di kantor Satgas PKH di Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau di Pekanbaru, pada Kamis (20/11/2025). Mereka meminta supaya anggota Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) yang menggunakan senjata api laras panjang meninggalkan kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) di Kabupaten Pelalawan, Riau.

Protes ini terjadi karena ada sebanyak 20.000 jiwa warga yang terdampak klaim kawasan hutan oleh pemerintah. Mereka merasa tidak nyaman dengan keberadaan Satgas PKH di kawasan tersebut.

Gusun Fawaida

Gusun Fawaida merupakan seorang Penulis yang fokus pada isu lingkungan kerja, produktivitas, dan human interest. Ia senang mengamati perilaku manusia, membaca buku self-improvement, dan minum kopi sambil menulis ide. Motto: “Tulislah untuk memberi dampak.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *