Kebijakan AS yang Mengubah Dinamika Pasar Minyak Dunia
Amerika Serikat (AS) menghadapi tantangan besar dalam mengendalikan harga minyak dunia, terutama setelah aksi militer terhadap Iran. Alih-alih menambah sanksi terhadap negara tersebut, AS justru mencabut sanksi terhadap 140 juta barel minyak Iran untuk menurunkan harga minyak di pasar global. Langkah ini dilakukan oleh Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, yang menyatakan bahwa pencabutan sanksi tersebut akan membawa sekitar 140 juta barel minyak ke pasar global dan membantu mengurangi tekanan pada pasokan energi.
Langkah AS ini muncul sebagai respons terhadap kenaikan harga minyak yang signifikan, yaitu naik sekitar 50% menjadi lebih dari $100 per barel—angka tertinggi sejak 2022. Peningkatan ini dikhawatirkan akan berdampak negatif pada bisnis dan konsumen AS menjelang pemilihan paruh waktu November. Partai Republik berharap untuk mempertahankan kendali Kongres dari tekanan Demokrat.
Namun, kebijakan ini juga menimbulkan kekhawatiran bahwa tindakan AS justru dapat menguntungkan upaya perang Iran. Teheran bisa memanfaatkan pelonggaran sanksi ini untuk membangun kembali kekuatan militernya guna menghadapi agresi Paman Sam dan Zionis Israel.
“Dengan membuka sementara pasokan yang ada ini untuk dunia, Amerika Serikat akan dengan cepat membawa sekitar 140 juta barel minyak ke pasar global, memperluas jumlah energi di seluruh dunia dan membantu mengurangi tekanan sementara pada pasokan yang disebabkan oleh Iran,” ujar Bessent dalam sebuah pernyataan di X.
“Pada intinya, kita akan menggunakan barel minyak Iran untuk melawan Teheran guna menjaga harga tetap rendah saat kita melanjutkan Operasi Epic Fury.”
Ini adalah ketiga kalinya AS mencabut sanksi sementara dalam waktu sekitar dua minggu. Sebelumnya, AS telah melonggarkan sanksi terhadap minyak Rusia, dan pada hari Jumat lalu mengeluarkan izin umum yang mengizinkan penjualan minyak mentah dan produk minyak bumi Iran yang dimuat di kapal mulai Jumat hingga 19 April.
Para pejabat pemerintahan Trump berupaya keras untuk mengamankan setiap barel minyak yang tersedia di tengah krisis energi yang semakin memburuk—bahkan jika itu berarti mencabut sanksi terhadap negara yang sedang mereka perangi.
Setelah tiga minggu perang dengan Iran, pemerintahan Trump kehabisan pilihan untuk menahan kenaikan harga minyak dan gas yang meroket. Penutupan Selat Hormuz membuat harga minyak semakin menggila. Para pejabat Trump kini secara pribadi memperkirakan bahwa kenaikan harga yang dipicu oleh perang dapat bertahan selama berbulan-bulan.
“Terutama karena pertempuran di Timur Tengah semakin intensif dan jalur melalui Selat Hormuz hampir mustahil dilalui,” kata tiga orang yang mengetahui diskusi pemerintahan Trump.
“AS telah menggunakan semua kebijakan andalannya untuk mengurangi guncangan pasokan yang melanda ekonomi global,” kata orang-orang tersebut.
Pemerintahan Trump telah setuju untuk melepaskan ratusan juta barel dari cadangan strategisnya, melonggarkan beberapa sanksi terhadap minyak Rusia, dan mengambil langkah-langkah di dalam negeri untuk mempercepat aliran minyak mentah di seluruh AS. Namun, tindakan-tindakan tersebut hanya sedikit memperlambat lonjakan harga di seluruh dunia.
Para pejabat kini melangkah lebih jauh dengan mencabut sementara sanksi terhadap barel minyak Iran yang saat ini berada di laut.
Presiden Donald Trump mengatakan pada Jumat bahwa ia sedang mempertimbangkan untuk “mengakhiri” operasi militer terhadap Iran. Trump mengatakan di platform Truth Social miliknya bahwa AS hampir mencapai tujuan dalam perang dengan mempertimbangkan untuk mengakhiri upaya militer besar di Timur Tengah.
Unggahannya merupakan indikasi terkuat hingga saat ini bahwa ia mungkin siap untuk segera mengakhiri permusuhan yang dimulai pada 28 Februari.
Sekretaris pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan di X tak lama setelah pesan Trump. “Presiden dan Pentagon memperkirakan akan membutuhkan waktu sekitar 4-6 minggu untuk mencapai misi ini.”
Di tengah meningkatnya kekhawatiran atas harga minyak dan kekurangan pasokan global, Departemen Keuangan AS mengatakan akan mencabut sementara sanksi terhadap minyak Iran yang telah dimuat ke kapal. Otorisasi tersebut memungkinkan pengiriman dan penjualan minyak mentah Iran dan produk minyak bumi lainnya yang dimuat ke kapal sebelum 20 Maret dan akan berlangsung hingga 19 April, katanya.
Sementara itu, Iran melancarkan gelombang serangan drone dan rudal baru terhadap Arab Saudi dan Israel, setelah pemimpin tertinggi Mojtaba Khamenei mengklaim telah memberikan “pukulan telak” kepada musuh-musuh negaranya. Sebagai tanggapan, militer Israel melancarkan serangan terhadap “target rezim” di Teheran pada Sabtu pagi.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











