"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Pendapatan Pemdes Rp 5,1 M, Warga Dapat THR Rp 250 Ribu, Kades: Tahun Ini Naikkan

Pembagian THR oleh Pemdes Wunut untuk Warganya

Pemerintah Desa Wunut, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, kembali membagikan Tunjangan Hari Raya (THR) kepada warganya. Pembagian dilakukan pada Kamis (5/3/2026) di Gedung Serbaguna Desa Wunut. THR ini berasal dari pendapatan desa yang diperoleh melalui pengelolaan Objek Wisata Umbul Pelem.

Kepala Desa Wunut, Iwan Sulistiya Setiawan, menjelaskan bahwa tahun ini terjadi peningkatan pendapatan yang signifikan. Sehingga, warga mendapat bantuan sebesar Rp 250 ribu per kepala. Anggaran yang dialokasikan untuk pembagian THR mencapai Rp 585.250.000, dengan jumlah penerima sebanyak 2.341 jiwa.

Peningkatan Pendapatan dan Jumlah Penerima

Tahun lalu, jumlah THR yang dibagikan adalah Rp 200 ribu per orang. Namun, untuk tahun ini, nominalnya naik menjadi Rp 250 ribu. Selain itu, jumlah penerima juga meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun 2025, tercatat ada 2.289 jiwa yang menerima THR, sedangkan pada tahun 2026 jumlahnya meningkat menjadi 2.341 jiwa.

Iwan mengungkapkan bahwa pendapatan dari objek wisata Umbul Pelem pada tahun 2025 mencapai Rp 5,1 miliar, meningkat dari tahun 2024 yang sebesar Rp 4,7 miliar. Dengan pendapatan yang meningkat, pemerintah desa memutuskan untuk membagikan THR kepada warga.

Perkembangan Objek Wisata Umbul Pelem

Umbul Pelem merupakan salah satu destinasi wisata air yang terletak di Desa Wunut. Tempat ini berupa kolam pemandian alami yang bersumber dari mata air bawah tanah yang sangat jernih dan segar. Airnya terus mengalir secara alami tanpa memerlukan bahan kimia seperti kaporit.

Keindahan air yang bening, suasana pedesaan yang asri, serta fasilitas wisata yang cukup lengkap menjadikan Umbul Pelem sebagai salah satu destinasi wisata favorit di Kabupaten Klaten. Lokasinya berada di Jalan Tegalgondo–Janti dan mudah dijangkau dari pusat Kota Klaten maupun wilayah Solo dan Yogyakarta.

Nama “Pelem” berasal dari bahasa Jawa yang berarti mangga. Dahulu di sekitar sumber mata air tersebut banyak terdapat pohon mangga yang tumbuh rindang. Masyarakat sekitar sering memanfaatkan tempat ini untuk mandi, mencuci hasil pertanian, atau sekadar beristirahat di bawah pohon mangga.

Awalnya, area yang kini menjadi objek wisata Umbul Pelem hanyalah lahan sederhana yang digunakan untuk budidaya selada air. Pada tahun 2016, pemerintah Desa Wunut mulai menggagas pemanfaatan potensi sumber mata air tersebut sebagai destinasi wisata desa.

Pengembangan dan Investasi

Proses pembangunan dilakukan secara bertahap selama beberapa tahun, termasuk pembangunan kolam, fasilitas wisata air, serta sarana pendukung seperti gazebo, tempat parkir, dan warung makan. Total investasi pembangunan yang dikeluarkan pemerintah desa untuk pengembangan Umbul Pelem diperkirakan mencapai sekitar Rp1,6 miliar pada periode 2016–2019.

Setelah proses pembangunan selesai, objek wisata ini resmi dibuka untuk umum pada Mei 2018. Pengelolaan wisata Umbul Pelem kemudian dipercayakan kepada BUMDes Sumber Kamulyan milik Desa Wunut.

Pertumbuhan Pengunjung

Sejak dibuka pada tahun 2018, jumlah pengunjung Umbul Pelem terus mengalami peningkatan. Beberapa data jumlah pengunjung yang tercatat antara lain:

  • 2022: sekitar 569.673 pengunjung dalam satu tahun.
  • 2023: sekitar 616.520 pengunjung, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
  • 2024: sekitar 544.000 pengunjung.
  • 2025: sekitar 566.521 pengunjung dengan pendapatan lebih dari Rp6,7 miliar.

Pada musim liburan tertentu, seperti libur Natal dan Tahun Baru, jumlah kunjungan bisa meningkat tajam. Misalnya pada awal tahun 2026 tercatat lebih dari 7.500 pengunjung dalam satu hari, menunjukkan bahwa Umbul Pelem telah menjadi salah satu destinasi wisata air yang populer di wilayah Klaten dan sekitarnya.

Halwa Futuhan

Penulis yang rajin memberitakan kegiatan masyarakat lokal dan peristiwa lapangan. Ia gemar berkunjung ke pasar tradisional, memotret aktivitas warga, dan mencatat percakapan menarik. Hobinya termasuk mendengar musik tempo dulu. Motto: “Cerita kecil sering kali memiliki dampak besar.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *