"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Siswa SD Ngada NTT, Surat Terakhir yang Menyentuh Hati Ibu

Siswa SD Ditemukan Meninggal Dunia di Desa Naruwolo

Sosok siswa SD yang berinisial YBR (10 tahun) menjadi perbincangan masyarakat. Dia dikenal sebagai anak yang pintar dan jujur. Namun, nasib malang menimpa YBR, yang ditemukan meninggal dunia secara mengenaskan di Desa Naruwolo, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kejadian tersebut terjadi pada Kamis (29/1/2026).

Dalam surat perpisahan yang ditemukan di samping jasadnya, korban meminta ibundanya untuk merelakan dia pergi lebih dulu. Pada bagian akhir tulisan tangan tersebut terdapat gambar yang menyerupai emoji dengan wajah menangis.

Sosok Korban yang Dikenal Baik

Kepala UPTD SD Negeri Rj, Maria Ngene menyampaikan dukacita atas kematian YBR. “Pihak sekolah menyampaikan duka mendalam kepada keluarga korban,” ucap Maria saat ditemui pada Rabu (4/1/2026).

Maria menjelaskan bahwa YBR dikenal sebagai siswa yang berperilaku baik dan tidak pernah menimbulkan masalah selama mengikuti kegiatan belajar mengajar. “Dia anak baik, ramah dengan teman-temannya, dan tidak pernah membuat keributan,” katanya.

Menurut Maria, pemantauan kebutuhan pribadi siswa umumnya dilakukan oleh wali kelas masing-masing. Ia juga menyatakan bahwa pihak sekolah belum menerima informasi soal kekurangan perlengkapan belajar YBR.

Anak Pintar dan Jujur

Wali Kelas korban, Bonivasius Snae juga menyampaikan hal serupa. Menurutnya, YBR selalu ceria dan termasuk anak yang pintar serta jujur. Kelas IV SD tersebut terdiri dari lima laki-laki dan tiga perempuan.

Boni mengatakan YBR tidak pernah bercerita mengenai permasalahan di rumahnya. “Anak ini selalu ceria di dalam kelas,” kata Boni dikutip dari tayangan youtube TV One, Rabu (4/2/2026).

Selain itu, Boni mengatakan bahwa korban membawa perlengkapan alat tulis lengkap. Bahkan sebelum kejadian, dirinya masih memberikan pembelajaran dalam kelas tersebut. Korban terlihat membawa buku dan bolpoin serta mengerjakan tugas.

Keterbatasan Bantuan Pendidikan

Meski hidup dalam keterbatasan, YBR tercatat tetap membayar uang sekolah, meskipun tidak selalu tepat waktu. Pembayaran dilakukan oleh ibu atau neneknya melalui bendahara komite sekolah.

“Pembayaran uang sekolah tetap berjalan, walaupun kadang terlambat. Entah ibunya atau neneknya yang membayar, kami tetap menerima,” ujar Maria.

Ia juga menjelaskan bahwa sejak kelas I hingga kelas III, YBR belum pernah menerima bantuan pendidikan, termasuk Program Indonesia Pintar (PIP), karena terkendala administrasi kependudukan.

Kondisi Keluarga dan Permasalahan Administratif

YBR tinggal bersama neneknya WN (80) menempati gubuk bambu di kebun. Sedangkan ibunya Maria Goreti Te’a (47) dan empat kakak YBR tinggal di rumah terpisah. Ayah YBR merantau ke Kalimantan sudah selama 12 tahun.

Maria Goreti mengisahkan kejadian sebelum anaknya mengakhiri hidup. Pada Kamis pagi, YBR mengeluh pusing sehingga tidak mau pergi ke sekolah. Maria Goreti khawatir anaknya ketinggalan pelajaran sehingga meminta YBR tetap masuk sekolah.

Peninjauan dan Langkah Kepala Dinas

Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Ngada, Gerardus Reo meninjau lokasi dan bertemu keluarga korban. “Setelah membaca berita di media, saya sangat tersentuh. Saya ingin memastikan langsung apakah benar korban tinggal bersama nenek di pondok. Dan setelah saya lihat, itu benar,” kata Gerardus Reo, Selasa (3/2/2026).

Ia juga menemukan persoalan administrasi kependudukan yang membuat keluarga ini luput dari sistem bantuan. “Ibu korban masih ber-KTP Nagekeo,” ujarnya. “Saat itu juga kami langsung mendata dan memproses pindah penduduk. Besok, seluruh dokumen kependudukan sudah selesai,” tambah Gerardus Reo.

Perhatian Nasional

Kapolda Nusa Tenggara Timur (NTT), Irjen Pol Rudi Darmoko menegaskan bahwa kasus dugaan seorang siswa sekolah dasar (SD) mengakhiri hidup di Kabupaten Ngada menjadi perhatian serius, tidak hanya di tingkat daerah, tetapi juga nasional.

“Ini sangat-sangat menjadi atensi, bahkan bukan hanya menjadi kasus lokal NTT, namun sudah sampai ke istana. Saya sampai ditelepon terkait kasus ini,” ujarnya.

Ia menegaskan, Polda NTT telah mengambil langkah cepat dan serius, khususnya dengan melibatkan jajaran Ditreskrim PPA dan PPO untuk menangani kasus tersebut secara komprehensif.

Langkah Penanganan dan Pendampingan

Kapolda NTT telah memerintahkan Kapolres Ngada untuk segera turun langsung ke rumah duka sebagai bentuk kehadiran negara di tengah duka keluarga korban. “Saya sudah memerintahkan Kapolres Ngada untuk menuju rumah duka guna memberikan bantuan, baik material maupun pendampingan mental kepada keluarga korban,” jelasnya.

Selain itu, Polda NTT juga telah mengirimkan tenaga profesional untuk memberikan pendampingan psikologis kepada keluarga korban. “Psikolog dan konselor sudah kita kirim kepada keluarga korban. Kita harap ini bisa membantu meringankan kesulitan dan beban psikologis mereka,” lanjut Kapolda NTT.

Motif Kejadian

Terkait motif kejadian, Rudi Darmoko menjelaskan bahwa berdasarkan penyelidikan awal dan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), terdapat indikasi faktor ekonomi yang menjadi pemicu, meski hal tersebut masih terus didalami oleh penyidik.

“Motif utama sementara dari hasil penyelidikan awal dan olah TKP masih kita dalami lagi. Namun informasi pertama dari petugas lapangan yang saya terima, motifnya karena korban meminta dibelikan alat tulis kepada ibunya, namun karena kondisi ekonomi yang tidak baik, anak sekecil itu memilih mengakhiri hidupnya,” bebernya.




Badriyah Fatinah

Reporter yang menaruh minat pada isu-isu transportasi, publik, dan urbanisasi. Ia gemar naik kereta untuk mengamati dinamika kota, membaca laporan transportasi, dan memotret suasana perjalanan. Motto: “Setiap perjalanan menyimpan cerita baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *