"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Rupiah Kian Tak Berdaulat

Doktrin Neoliberalisme dan Kekuasaan Uang

Dalam dunia ekonomi, ada beberapa konsep yang sering digunakan untuk menggambarkan peran uang dalam kehidupan masyarakat. Orang miskin adalah mereka yang tidak memiliki banyak uang meskipun memiliki banyak barang. Orang jenius adalah mereka yang menciptakan uang; orang cerdas mencari uang; sedang orang bodoh mencari pinjaman.

Inilah doktrin terbaru dari neoliberalisme. Jika ini dijadikan acuan maka, negeri ini miskin dan presiden kita “bodoh.” Banyak bukti nyata yang menunjukkan bahwa rupiah semakin hari semakin jeblok dan terdepresiasi. Setelah lebih dari 10 tahun republik ini digempur oleh narasi “daulat rupiah,” oleh para ekonom jenius kita, respon Bank Indonesia (BI) lumayan waras. Mereka menjawab dengan kegiatan festival rupiah berdaulat yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat akan peran pentingnya rupiah dalam sejarah bangsa, sekaligus menumbuhkan optimisme, semangat kebangsaan, dan memperkuat kedaulatan negara melaluinya.

Simbol Perjuangan dan Identitas Bangsa

Mestinya, pada uang kita dapati simbol perjuangan, alat tukar, alat perang, identitas diri/negara, alat ukur kekayaan dan representasi persatuan bangsa dari keberagaman budaya nusantara. Tapi, yang terjadi kini sebaliknya. Sungguh kita dibuat malu karena rupiah kita justru menjajah warganegara. Walau setidaknya, depresiasi rupiah (kehancuran uang kita) yang dahsyat dijawab dengan program ini. Harapannya ada tiga:

  • Pertama, menimbulkan rasa memiliki dan mencintai bangsa dengan mengingat para pahlawan.
  • Kedua, bangga bahwa rupiah pernah mendapat penghargaan sebagai uang terbaik di dunia sisi fiturnya yang aman.
  • Ketiga adalah memahami rupiah yang memiliki cita-cita, alat menabung, dan belanja dengan cermat.

Kekuatan Ekonomi dan Kedaulatan Negara

Di antara negara-negara Asean, mata uang rupiah termasuk yang lemah. Ia terus mengalami pelemahan secara terstruktur, masif dan sistematis. Sayangnya, proses depresiasi ini tidak dicarikan solusinya. Dalam konteks ekonometrik, “currency depreciation” atau depresiasi mata uang adalah hancurnya nilai tukar suatu mata uang terhadap mata uang lainnya atau terhadap standar tertentu dalam jangka waktu tertentu.

Depresiasi mata uang tentu saja merupakan penjajahan baru bagi negara postkolonial dan negara dengan ekonomi yang miskin karena kepemimpinannya lemah dan bodoh; defisit transaksi berjalan yang terus-menerus; serta tingginya tingkat inflasi; juga “patronase lokal” yang diimani para oligark serakah yang ganas.

Proses Terstruktur dan Sistematis

Tetapi, proses ini jika dicek akan terlihat sangat terstruktur: memiliki motif, tujuan dan pola yang disusun, dirangkai, direkayasa, diatur, atau diciptakan secara rapi: tak mudah dibaca awam. Dalam artian suatu desain (rancangan) disebut terstruktur ketika punya pola jelas sehingga dapat diruntut atau ditelusuri oleh para jenius.

Proses itu juga sangat sistematis karena langgamnya punya pasukan, barisan dan keteraturan yang solid, utuh, terpadu, saling terkait (menguatkan-melindungi) dari gabungan sejumlah komponen, pola, atau unsur yang saling mendukung dalam membentuk keutuhan sempurna sehingga sangat kuat dan tertradisi menjadi “kebenaran.”

Perang Mata Uang dan Kedaulatan Negara

Proses itu disempurnakan dengan sebesar dan sekuatnya menjadi masif. Di sini artinya gerakan yang kokoh, berjumlah banyak/besar, dan super padat sehingga seluruh komponen atau unsur di dalamnya tidak keropos, berongga, rapuh dan tidak tak terbunuh. Akibatnya tak banyak yang tahu bahwa perang dagang pasti ujung tombaknya adalah perang mata uang. Bahkan perang kedaulatan itu sesungguhnya perang mata uang.

Jika mata uang suatu negara kuat, maka kuatlah kedaulatan negara tersebut dan bahkan bisa menjajah negara lain. Demikian pula sebaliknya. Sesungguhnya, perang mata uang adalah perang ekonomi sekaligus perang dagang dunia.

Fakta Sejarah Perang Mata Uang

Fakta bahwa ini adalah perang terlihat dari persaingan negara imperial (penjajah-perampok) melemahkan nilai mata uangnya ke level terendah lalu menaikkannya pada top level. Hal ini dilakukan agar produk-produk yang mereka hasilkan bisa laku dan terjual di negara lain. Dalam sejarah dunia, perang mata uang ini sudah sering terjadi sejak 100 tahun lalu.

Tentu saja, negara dengan ekonomi-industri yang kuat akan kuat uangnya sehingga mampu menegaskan kedaulatannya dan memiliki kekuatan untuk memaksakan hegemoni dan pengaruhnya. Negara kuat pasti dinahkodai oleh pemimpin yang kuat, ekonom yang jenius dan elite yang paham geo-ekopolitik dunia.

Kepemimpinan dan Kemandirian Ekonomi

Sebaliknya, saat negara diisi oleh pemimpin lemah dan bodoh, semua masa depannya diserahkan ke pasar. Lalu, nilai tukar uangnya dibuat mengambang karena ditentukan oleh pasar. Padahal, bank sentral dan kementrian keuangan bisa kolaboratif merekayasa mata uangnya menjadi alat yang “mengkayakan” sekaligus “mendaulatkan” negaranya.

Dus, untuk melihat kedaulatan sebuah negara, bisa dilihat pada kemampuan elitenya meletakkan uangnya sebagai apa: sekedar alat tukar atau alat pendaulat.

Evaluasi dan Perubahan

Cermati, jika ekspornya menjadi lebih mahal, dan impornya menjadi lebih murah, berarti mereka kalah. Cepat ganti dengan yang lebih jenius dan patriotis. Itu saja.

Ratna Purnama

Seorang reporter yang gemar meliput isu publik, transportasi, dan dinamika perkotaan. Ia memiliki kebiasaan membaca opini koran setiap pagi untuk memperluas perspektif. Hobi utamanya adalah jogging, fotografi, dan menikmati senja. Motto: "Kepekaan adalah modal utama seorang penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *