"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Muhammadiyah dan Pendidikan: Dari Rumah ke 6.000 Sekolah

Sejarah Pendidikan Muhammadiyah yang Berakar Kuat



Purworejo, – Prof Dr Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa pendidikan bukan hanya sekadar urusan kurikulum, bangunan sekolah, atau angka kelulusan. Baginya, pendidikan adalah jalan panjang untuk membangun martabat manusia. Pandangan ini tidak muncul begitu saja, melainkan berakar kuat pada sejarah Muhammadiyah, organisasi yang sejak awal berdiri menempatkan pendidikan sebagai amal usaha utama.

“Jika kita membaca sejarah Muhammadiyah, pendidikan sudah dirintis bahkan sebelum organisasi ini resmi berdiri,” ujarnya saat berkunjung ke Purworejo pada Sabtu (24/1/2026). Ia mengingatkan bahwa pada 1911, setahun sebelum Muhammadiyah berdiri, Kiai Ahmad Dahlan telah menyelenggarakan pendidikan di emperan rumahnya. Dari ruang sempit itulah benih gerakan pendidikan Muhammadiyah tumbuh.

Madrasah Mu’allimin dan Mu’allimat menjadi amal usaha pertama, menandai keyakinan bahwa umat dan bangsa hanya bisa maju jika pendidikannya maju. “Pendidikan adalah yang pertama dan yang utama,” kata Mu’ti.

Kini, lebih dari seabad kemudian, Muhammadiyah mengelola hampir 6.000 sekolah di seluruh Indonesia. Jumlah itu membuat banyak orang terkejut. Menjadikan salah satu ormas Islam dengan sekolah terbanyak di Indonesia. Dari Aceh hingga Papua, lembaga pendidikan Muhammadiyah hadir dengan wajah yang beragam. Ada sekolah megah dengan antrean murid hingga bertahun-tahun ke depan, tetapi ada pula sekolah di daerah tertentu yang berjuang keras mencari peserta didik.

“Ini realitas kita. Ada yang sangat maju, ada yang masih berjuang. Tapi justru di situlah nilai perjuangannya,” kata Sekretaris PP Muhammadiyah ini. Di Papua, Muhammadiyah menunjukkan wajah pendidikan yang inklusif. Universitas Muhammadiyah Sorong (Unimuda) menjadi contoh nyata. Sekitar 85 persen mahasiswanya merupakan orang asli Papua. Bahkan di Kabupaten Purworejo, Universitas Muhammadiyah juga dipercaya sebagai kampus untuk non-muslim. Kampus itu tidak hanya berdiri, tetapi berkembang hingga meraih akreditasi unggul.

“Ini bukti bahwa pendidikan itu soal keberpihakan,” ujar Mu’ti. Muhammadiyah hari ini juga mengelola 164 perguruan tinggi dengan lebih dari 600.000 mahasiswa. Di bidang kesehatan, organisasi ini memiliki 128 rumah sakit di seluruh Indonesia. Semua itu berangkat dari satu keyakinan lama yang diwariskan para pendirinya jika orang lain bisa, maka umat Islam juga bisa.

Mu’ti mengenang kisah Kiai Sudja pada 1921 yang ditertawakan karena menggagas pendirian rumah sakit. “Hum rijal wa nahnu rijal,” ujar Mu’ti mengutip syair Arab mengutip Kiai Sudja yang berarti “mereka adalah lelaki, kita juga lelaki.” Dari ejekan itu lahir Rumah Sakit PKU Muhammadiyah, yang kini menjadi jaringan rumah sakit besar di Indonesia.

Sebagai Sekretaris Umum PP Muhammadiyah periode 2022–2027, sekaligus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah dalam Kabinet Merah Putih 2024–2029, Mu’ti berada di persimpangan antara sejarah dan kebijakan. Ia membawa spirit Muhammadiyah ke ruang negara, menjadikannya fondasi dalam merancang kebijakan pendidikan nasional.

Baginya, membangun sumber daya manusia tidak cukup dengan memperbaiki gedung sekolah. Guru harus ditingkatkan kualitas dan kesejahteraannya, pembelajaran harus relevan dengan zaman, dan pendidikan harus tetap berpihak pada nilai kemanusiaan. “Negeri ini dibangun oleh orang-orang yang percaya pada pendidikan. Dan Muhammadiyah sejak awal memilih jalan itu,” kata dia.

Di Purworejo, di hadapan para pendidik dan pengelola sekolah, Mu’ti tidak berbicara sebagai pejabat semata. Ia berbicara sebagai bagian dari sejarah panjang sebuah gerakan. Sejarah yang bermula dari emperan rumah dan kini ikut menentukan arah pendidikan bangsa.

Badriyah Fatinah

Reporter yang menaruh minat pada isu-isu transportasi, publik, dan urbanisasi. Ia gemar naik kereta untuk mengamati dinamika kota, membaca laporan transportasi, dan memotret suasana perjalanan. Motto: “Setiap perjalanan menyimpan cerita baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *