"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Mengapa petani Bangka Barat lebih memilih sawit meski harga lada tinggi

Penurunan Produksi Lada di Bangka Barat

Produksi lada di Kabupaten Bangka Barat mengalami penurunan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini disebabkan oleh semakin sedikitnya petani yang menanam lada, karena banyak dari mereka beralih ke komoditas lain yang dinilai lebih mudah dikelola dan menguntungkan. Salah satu komoditas yang menjadi pilihan utama adalah kelapa sawit.

Alasan Petani Beralih ke Kelapa Sawit

Banyak petani memilih untuk beralih menanam kelapa sawit karena beberapa alasan. Pertama, kelapa sawit dianggap lebih mudah dirawat dibandingkan lada. Kedua, biaya produksi untuk kelapa sawit lebih rendah. Ketiga, risiko gagal panen pada kelapa sawit jauh lebih kecil dibandingkan lada.

Petani juga mengeluhkan tingginya biaya pupuk, perawatan, serta ancaman penyakit kuning yang bisa menyebabkan gagal panen pada tanaman lada. Meskipun harga lada saat ini mencapai Rp142.000 per kilogram, hal tersebut belum cukup untuk mengembalikan minat petani.

Pengalaman Petani yang Beralih

Marman, seorang petani lada asal Desa Pangek, Kecamatan Simpang Teritip, mengungkapkan bahwa ia dulu pernah berkebun lada dengan hasil panen hingga 1,2 ton. Namun, kini ia telah beralih menjadi petani kelapa sawit. Ia mengatakan bahwa biaya produksi lada sangat tinggi, termasuk pengeluaran untuk pupuk, perawatan, upah, dan lain-lain. Selain itu, risiko gagal panen akibat penyakit kuning membuatnya merasa tidak sebanding dengan keuntungan yang diperoleh.

“Harga lada saat ini memang tinggi, tetapi tidak sesuai dengan biaya yang saya keluarkan,” katanya.

Sementara itu, Juned, petani lada asal Mentok, juga mengalami pengalaman serupa. Ia beralih ke kelapa sawit karena dinilai lebih mudah dirawat, harga stabil, dan tidak rentan terhadap penyakit seperti lada.

Perbedaan Teknis antara Lada dan Kelapa Sawit

Dari sisi teknis, Juned menjelaskan bahwa lada dan kelapa sawit sama-sama berbuah dan ditanam di kebun. Namun, lada membutuhkan perawatan yang lebih rumit, seperti penggunaan junjung kayu. Risiko gagal panen pada lada juga lebih besar, terutama jika terserang penyakit kuning.

“Pada kelapa sawit, kendala umumnya hanya terkait pemupukan yang kurang optimal. Masa produktif kelapa sawit bisa mencapai 20 tahun, sedangkan lada bisa mati dalam waktu satu tahun jika tidak dirawat dengan baik,” ujarnya.

Upaya Pemerintah Daerah

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bangka Barat, Azmal, mengatakan bahwa pihaknya berupaya keras untuk mengembalikan kejayaan lada, terutama Muntok White Pepper yang memiliki Indikasi Geografis (IG) dan brand yang diakui dunia.

“Bupati sangat konsen mengembalikan kejayaan lada karena salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN). Pemerintah akan menggelontorkan bantuan kepada petani,” kata Azmal.

Ia berharap program-program yang dirancang dapat memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

Data Produksi Lada di Bangka Barat

Berdasarkan data dari DKPP Babar, luas areal produksi lada di Kabupaten Bangka Barat pada tahun 2025 mencapai total 525,34 hektar (Ha) dengan produksi 115.914,63 kg dan produktivitas 706,80 kg.


Hendra Susanto

Reporter online yang antusias menjelajahi isu terkini dengan pendekatan analitis. Ia suka membaca buku motivasi, mendengarkan musik akustik, dan membuat catatan ide. Menurutnya, menulis adalah proses belajar yang tak berakhir. Motto: "Setiap paragraf harus mengandung nilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *