Kisah Astin Nurdiana: Dari Keluarga Tukang Kayu ke Ilmuwan Kebumian di Jepang
Astin Nurdiana, seorang dosen Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung (ITB), menceritakan perjalanan hidupnya yang penuh tantangan dan prestasi. Lahir dari keluarga tukang kayu, ia berhasil membuktikan bahwa tekad dan kerja keras bisa mengantarkan seseorang menuju kesuksesan. Kini, ia berkarier sebagai ilmuwan kebumian di Jepang, terus berkarya dalam bidang penelitian yang sangat penting bagi dunia.
Awal Perjalanan Seorang Ilmuwan
Perjalanan Astin dimulai dari rumah sederhana di Kebumen, Jawa Tengah. Ayahnya bekerja sebagai tukang kayu pembuat mebel, sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga. Meski hidup dalam keterbatasan, kedua orang tuanya selalu menekankan pentingnya pendidikan. Mereka percaya bahwa pendidikan adalah kunci untuk memperbaiki masa depan.
“Dulu saya sering dibilang, perempuan sekolah tinggi nanti akhirnya ke dapur juga, tapi ayah selalu mengingatkan bahwa sekolah itu penting supaya kita bisa punya banyak pilihan dalam hidup,” kata Astin.
Sejak kecil, ia memiliki rasa ingin tahu yang besar dan gemar membaca. Di sekolah menengah, ia aktif mengikuti berbagai kegiatan dan tertarik mencoba hal baru.
Ketertarikan pada Ilmu Kebumian
Ketertarikan Astin pada ilmu kebumian muncul ketika ia mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang kebumian dan pulang membawa medali perak. Meskipun awalnya tidak terlalu paham tentang kebumian, ia tertarik karena materinya berbeda dari pelajaran sekolah biasanya.
“Waktu itu saya sebenarnya belum terlalu paham apa itu kebumian, cuma tertarik karena materinya berbeda dari pelajaran sekolah pada umumnya. Dan kebetulan ingin cari pelarian dari remidi matematika dan fisika,” ujarnya.
Setelah mengikuti pembinaan olimpiade, ketertarikannya semakin kuat. Ia mulai menyadari betapa menariknya bumi dengan berbagai proses alam yang bisa diamati dan dipelajari.

Jalur Pendidikan yang Mengubah Hidup
Mimpinya menempuh pendidikan tinggi makin terbuka ketika ia diterima di Teknik Geologi ITB melalui beasiswa Bidikmisi. Dukungan tersebut menjadi jalan bagi Astin untuk kuliah tanpa terbebani biaya.
“Bidikmisi benar-benar mengubah hidup saya. Dari situ saya bisa kuliah di ITB, sesuatu yang dulu rasanya jauh sekali dari jangkauan saya yang berasal dari desa. Jangankan untuk kuliah, untuk SMA pun saya dibantu dengan beasiswa,” ucapnya.
Selama menjadi mahasiswa, Astin dikenal tekun belajar sekaligus aktif membina siswa-siswa peserta olimpiade kebumian di berbagai daerah. Ketertarikannya pada dunia riset membawanya melanjutkan studi S2 ke Jepang melalui beasiswa Monbukagakusho (MEXT).

Studi di Jepang dan Kontribusi dalam Penelitian
Di Tohoku University, Astin mengikuti program integrasi magister dan doktoral di bidang ilmu kebumian. Awalnya, ia tidak menyangka bisa sampai ke Jepang. Namun, dengan beasiswa tersebut, ia mendapatkan kesempatan belajar di tempat dengan fasilitas dan lingkungan riset yang luar biasa.
Di Jepang, ia kembali mendalami riset mengenai interaksi batuan-air pada kondisi ekstrem. Bidang ini menjadi fokus kontribusinya dalam pengembangan energi panas bumi dan teknologi penyimpanan karbon.
Pengalaman tersebut tak hanya memperkaya wawasan ilmiahnya, tetapi juga mengajarkannya disiplin, manajemen waktu, serta sikap menghargai proses.
Kembali ke Indonesia
Setelah menyelesaikan studi S2 dan S3, Astin berkesempatan menjadi asisten profesor. Meski karier akademiknya terbuka lebar di Jepang, pada 2025 ia memilih pulang ke Indonesia.
Keputusan itu muncul dari kerinduannya terhadap tanah air dan keinginan untuk ikut membangun ekosistem riset yang lebih kuat. Ia ingin membawa semangat riset yang terstruktur dan efisien agar mahasiswa juga bisa merasakan bagaimana penelitian itu bisa menyenangkan dan bermakna.
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."











