Pagi yang Berbeda di SDN 1 Benda Kota Tasikmalaya
Pagi itu, 22 Desember 2025, suasana di SDN 1 Benda Kota Tasikmalaya tampak berbeda dari biasanya. Sejak pukul 08.00, halaman sekolah telah dipenuhi oleh sejumlah orang tua murid yang datang lebih awal. Yang menarik perhatian adalah banyaknya para ayah yang datang ke sekolah untuk mengambil rapot anaknya. Ada yang berpakaian resmi dengan batik rapih, ada pula yang tampil santai namun penuh semangat, juga yang mengenakan jaket Ojeg Onlen.
Program Gerakan Ayah Mengambil Rapot ke Sekolah (GEMAR) menjadi salah satu inisiatif yang diluncurkan sebagai tindak lanjut dari Surat Edaran Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) No. 14 Tahun 2025. Tujuan utama dari program ini adalah menangani fenomena fatherless yang menjadi perhatian serius di Indonesia karena rendahnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan pendidikan anak.
Data UNICEF menunjukkan sekitar 20.9 persen anak Indonesia tumbuh tanpa peran aktif ayah dalam kehidupan sehari-hari, baik karena perceraian, kematian, ataupun pekerjaan yang jauh dari keluarga; kondisi yang bisa mempengaruhi perkembangan emosional dan sosial anak.
Dampak Nyata Fatherless
Fenomena fatherless bukan sekadar istilah, namun berdampak nyata bagi tumbuh kembang anak. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ketidakhadiran ayah dalam kehidupan anak dapat mempengaruhi keseimbangan emosional, identitas diri, relasi sosial, hingga prestasi akademik anak.
Anak tanpa keterlibatan ayah cenderung memiliki tingkat stres lebih tinggi, penurunan kepercayaan diri, dan kurangnya pengendalian diri. Dampak ini seringkali dirasakan jauh sampai masa remaja bahkan dewasa.
Sehubungan dengan itu, Surat Edaran GEMAR juga memberi insentif bagi ayah yang mengikuti kegiatan ini. Para ayah diberikan dispensasi keterlambatan kerja sesuai ketentuan instansi masing-masing sehingga tidak khawatir akan urusan jam kerja saat mengambil rapot anak di sekolah.
Sebagai tambahan motivasi, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN juga memberikan penghargaan kepada 10 ayah beruntung yang mengunggah foto atau video saat mengambil rapot dengan tagar #GATI dan #sekolahbersamaayah, serta menandai akun resmi @kemmendukbangga_bkkbn di Instagram.

Partisipasi Ayah di SDN 1 Benda Masih Sangat Variatif
Meskipun semangat ayah-ayah pagi itu tinggi, partisipasi secara kuantitatif masih menunjukkan tantangan. Misalnya di kelas 2 yang memiliki 22 siswa, baru 5 orang ayah yang hadir mengambil rapot anaknya. Menurut wali kelas Euis Aisyiah, S.Pd, kondisi ini bukan semata isu kedisiplinan, melainkan lebih kepada realitas sosial:
“Ini sifatnya himbauan, bukan kewajiban. Banyak anak yang tidak memiliki ayah, ada ayah yang sedang bertugas seperti anggota polisi, ada juga yang sedang keluar kota,” terang beliau.
Kehadiran ayah tentunya beragam karena situasi masing-masing keluarga.
Seorang ayah siswa, Majid, mengungkapkan dukungannya terhadap program ini. Ia bercerita bahwa waktu kecil dulu ayahnya selalu hadir saat pembagian rapor, dan kini ia ingin meneruskan tradisi itu kepada anaknya, meski harus izin kerja terlebih dahulu.
Namun ada juga yang memberi komentar jujur seperti Didin Wahyudin yang mengatakan bahwa jika tidak ada surat edaran seperti ini, mungkin ia tidak akan datang. Ia merasa sering merasa “minder” karena sebagian besar yang datang biasanya adalah ibu-ibu.

Kegiatan Pembagian Rapot dan Arahan Guru
Sebelum rapot dibagikan, Euis Aisyiah menyampaikan beberapa evaluasi terkait proses pembelajaran selama semester ganjil. Evaluasi ini mencakup pencapaian belajar siswa, pendekatan pembelajaran yang efektif, serta area yang perlu diperbaiki untuk semester berikutnya.
Selain itu, guru juga menyampaikan tugas liburan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, yaitu:
- Selama libur sekolah, siswa di rumah belajar untuk memasak
- Siswa membantu orangtua membersihkan rumah
- Membaca buku
- Membatasai penggunaan gadget
- Berlibur sesuai dengan kemampuan bersama keluarga
- Dan lain-lain
Suasana pagi di SDN 1 Benda tampak penuh energi dan kehangatan dengan hadirnya ayah-ayah yang datang mengambil rapot. Meski angka partisipasinya masih perlu ditingkatkan, kegiatan ini menjadi refleksi pentingnya peran ayah dalam pendidikan anak. Program GEMAR yang diinisiasi pemerintah membuka ruang apresiasi sekaligus dukungan terhadap perubahan sosial dalam keluarga Indonesia ke arah keterlibatan ayah yang lebih aktif, demi masa depan anak yang lebih baik.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."











