Kalsel Menghadapi Musim Kemarau yang Lebih Kering
Seiring dengan mendekatnya musim kemarau, sejumlah titik panas atau hotspot telah terdeteksi di wilayah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel). Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Syamsudin Noor merilis laporan terbaru mengenai pantauan titik panas di wilayah Kalsel.
Berdasarkan hasil deteksi satelit yang diperbarui pada tanggal 18 April 2026, terpantau sebanyak 27 titik panas yang tersebar di tujuh kabupaten berbeda. Tingkat kepercayaan dari titik-titik tersebut secara umum berada pada kategori sedang atau berwarna kuning.
Dari data yang dirilis, Kabupaten Tapin mencatatkan jumlah titik panas tertinggi dengan total 15 titik. Wilayah Lokpaikat menjadi area yang paling banyak menunjukkan titik panas. Selain Tapin, wilayah lain seperti Hulu Sungai Selatan, Tabalong, dan Balangan juga terdeteksi adanya titik panas.
Berikut rincian penyebaran titik panas di beberapa kabupaten:
- Tabalong: 3 titik
- Kotabaru: 1 titik
- Hulu Sungai Selatan: 4 titik
- Baritokuala: 1 titik
- Banjar: 1 titik
- Kabupaten Balangan: 2 titik
Kepala Stasiun Meteorologi, Ota Welly Jenni Talo, menjelaskan bahwa hotspot yang terdeteksi tidak selalu merupakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tetapi bisa juga berasal dari aktivitas lain seperti area tambang.
“Ya sudah mulai terdeteksi (hotspot), tapi mungkin juga ada area tambang,” katanya kepada BPost.
Ota menegaskan bahwa monitoring hotspot ini terus dilakukan sebagai langkah deteksi dini guna mencegah terjadinya karhutla yang lebih luas di wilayah Kalsel.
Karakteristik Musim Kemarau yang Lebih Kering
Sebelumnya, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Kalimantan Selatan, Klaus Johannes Apoh Damanik, menjelaskan bahwa musim kemarau tahun ini memiliki karakteristik yang lebih kering dari kondisi rata-rata. Artinya, curah hujan selama periode kemarau diperkirakan berada di bawah 85 persen dari kondisi normal. Kondisi ini berpotensi memicu kekeringan di sejumlah wilayah.
“Curah hujan yang lebih rendah dari normal membuat potensi kekeringan meningkat, terutama di daerah yang bergantung pada air hujan,” ujarnya.
Selain berdampak pada ketersediaan air, sektor pertanian juga diperkirakan ikut terdampak. Berkurangnya curah hujan dapat mengganggu pola tanam serta menurunkan produktivitas lahan pertanian masyarakat.
Puncak musim kemarau sendiri diprediksi terjadi pada Agustus 2026 dan mencakup hampir seluruh wilayah Kabupaten Banjar. Mulai dari kawasan padat penduduk seperti Martapura dan Gambut hingga daerah hulu seperti Pengaron, Sambung Makmur, Sungai Pinang, dan Paramasan.
Durasi Musim Kemarau yang Lebih Panjang
Tak hanya itu, durasi kemarau juga diperkirakan lebih panjang dari biasanya. BMKG memperkirakan lama musim kemarau berkisar antara 13 hingga 21 dasarian atau sekitar empat hingga tujuh bulan. Di sebagian wilayah, durasi tersebut bahkan berpotensi bertambah lebih dari tiga dasarian dibandingkan kondisi normal.
Klaus menambahkan, kemarau yang lebih kering juga berdampak pada kondisi vegetasi yang lebih cepat mengering. Hal ini membuat sejumlah kawasan menjadi lebih rentan terhadap kebakaran hutan dan lahan.
“Kondisi vegetasi yang cepat kering akan meningkatkan kerentanan kebakaran, terutama di wilayah dengan lahan gambut atau area terbuka,” katanya.
Pengalaman pada tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa kemarau dengan sifat kering sering berkorelasi dengan meningkatnya jumlah titik panas atau hotspot. Karena itu, berbagai pihak diingatkan untuk meningkatkan kewaspadaan sejak dini.
Langkah Mitigasi yang Perlu Dilakukan
Selain pengendalian karhutla, pengelolaan sumber daya air juga menjadi langkah penting untuk mengurangi dampak musim kemarau. Menurut Klaus, informasi prakiraan iklim ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pemerintah daerah, dunia usaha, hingga masyarakat dalam menyusun langkah antisipasi.
“Informasi klimatologi ini penting dimanfaatkan agar upaya mitigasi bisa dilakukan lebih awal dan tepat sasaran,” ujarnya.











