Persiapan Menyambut Kapal Pesiar Oceania Vista di Kupang
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sedang mematangkan persiapan untuk menyambut kedatangan kapal pesiar Oceania Vista yang akan bersandar di Pelabuhan Tenau Kupang pada 20 April 2026 mendatang. Momentum ini menjadi peluang strategis untuk mempromosikan pariwisata daerah ke kancah internasional.
Kapal pesiar tersebut dijadwalkan membawa lebih dari seribu penumpang dengan rute dari Sydney. Dari jumlah tersebut, sekitar 400 wisatawan akan turun dan mengikuti berbagai paket wisata selama delapan jam singgah di Kupang, mulai pukul 08.00 hingga 15.00 WITA.
Perwakilan PT Flores Komodo Tours, Yenny Nggadas, menjelaskan bahwa para wisatawan akan diajak mengunjungi sejumlah destinasi unggulan seperti Baun, kawasan city tour Kota Kupang, museum, Pantai Lasiana, serta Oebelo. Di Baun, wisatawan akan diperkenalkan pada situs peninggalan kerajaan serta kuliner khas, termasuk proses pengasapan daging se’i babi secara tradisional.
Sementara di Pantai Lasiana, mereka akan mendapatkan edukasi tentang pengolahan pohon aren hingga menjadi gula lempeng. Hal ini diharapkan mampu memberikan pengalaman yang berbeda dan menarik bagi para wisatawan.
Untuk mendukung kunjungan wisatawan, sebanyak 35 pemandu wisata dari Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) akan dilibatkan untuk mendampingi wisatawan. Selain itu, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) juga ikut ambil bagian dalam prosesi penyambutan melalui penyediaan selendang khas daerah.
Transportasi untuk mendukung mobilitas wisatawan akan dilayani oleh agen travel resmi. Meski demikian, wisatawan juga memiliki opsi menggunakan jasa transportasi individu di sekitar pelabuhan. Gubernur NTT, Melki Laka Lena menegaskan pentingnya penataan layanan transportasi, khususnya taksi dan ojek individu, agar memenuhi standar pelayanan yang baik dan profesional.
“Untuk taksi atau ojek individu, perlu ada standarisasi yang jelas. Sebelum kedatangan kapal pesiar, kita beri arahan, pelatihan, dan pembekalan terkait tata kelola pelayanan wisatawan. Semua yang terlibat harus terdata, terlatih, dan mengikuti mekanisme resmi,” ujarnya.
Mantan Anggota DPR RI itu berharap kunjungan kapal pesiar ini dapat dimanfaatkan sebagai ajang promosi pariwisata NTT secara maksimal. Paling tidak, ada cerita yang dibawa kembali oleh para wisatawan tentang NTT.
Dalam pertemuan itu, pihak Komodo Trans Travelindo turut menyampaikan sejumlah masukan untuk meningkatkan kualitas layanan pariwisata di NTT. Sementara itu, PT Flores Komodo Tours berharap Gubernur NTT dapat hadir langsung menyambut wisatawan saat kapal pesiar tiba di Kupang.
Rencana Penyambutan Wisatawan Internasional
Penyambutan wisatawan internasional ini melibatkan berbagai pihak, termasuk instansi pemerintah, organisasi pariwisata, dan komunitas lokal. Beberapa langkah telah dipersiapkan untuk memastikan pengalaman yang maksimal bagi para tamu.
-
Pemandu Wisata:
Sebanyak 35 pemandu wisata dari HPI akan mendampingi wisatawan selama kunjungan mereka. Mereka akan memberikan informasi lengkap mengenai destinasi yang dikunjungi serta budaya lokal. -
Kerajinan Lokal:
Dekranasda turut berkontribusi dengan menyediakan selendang khas NTT sebagai bagian dari prosesi penyambutan. Ini menunjukkan apresiasi terhadap seni dan budaya setempat. -
Transportasi:
Agen travel resmi akan menjadi andalan dalam mengatur transportasi wisatawan. Namun, opsi lain seperti taksi dan ojek individu tetap tersedia, dengan penekanan pada standarisasi layanan. -
Pelatihan dan Pembekalan:
Semua pihak yang terlibat dalam penyambutan akan mendapatkan pelatihan dan pembekalan agar mampu memberikan pelayanan yang profesional dan ramah.
Selain itu, pihak-pihak terkait juga sedang melakukan koordinasi intensif untuk memastikan segala sesuatu berjalan lancar. Termasuk dalam rencana adalah pengaturan jalur lalu lintas, pengelolaan sampah, serta penyiapan fasilitas umum.
Dengan persiapan yang matang, NTT siap menjadi tujuan wisata yang menarik bagi para wisatawan internasional. Keberhasilan penyambutan kapal pesiar ini diharapkan bisa menjadi awal dari kerjasama yang lebih luas antara pemerintah daerah dan industri pariwisata.











