Jakarta Garuda Jaya Kalah Telak dari Jakarta LavAni dalam Laga Final Four Proliga 2026
Laga pamungkas Final Four Proliga 2026 seri Solo yang berlangsung di GOR Sritex Arena pada Sabtu (11/4/2026) menjadi momen yang sangat mengecewakan bagi Jakarta Garuda Jaya. Tim muda ini harus menerima kekalahan telak dengan skor 0-3 (19-25, 21-25, 18-25) dari Jakarta LavAni Livin Transmedia. Meski lawan hanya turun dengan komposisi pemain pelapis dan tanpa diperkuat pemain asing, kelas mereka tetap terasa jauh di atas rata-rata.
Jakarta Garuda Jaya yang digawangi oleh Dawuda Alahimassalam dan rekan-rekannya gagal memperlihatkan performa yang maksimal. Hasil ini tidak hanya mengubur mimpi mereka untuk memperebutkan gelar juara, tetapi juga membuka jalan bagi Jakarta LavAni menuju Grand Final.
Rapor Merah Sektor Block dan Receive
Pelatih Jakarta Garuda Jaya, Nur Widayanto, secara terbuka mengakui bahwa timnya masih memiliki beberapa kelemahan yang perlu segera diperbaiki. Dalam sesi konferensi pers usai pertandingan, ia menyebut dua aspek utama yang menjadi penyebab kegagalan timnya mengimbangi permainan cepat LavAni.
“Kekurangan di kita ada di block sama receive,” ujar Nur Widayanto dengan tegas.
Kemampuan penerimaan bola pertama (receive) yang lemah membuat alur serangan Garuda Jaya mudah terbaca dan tidak bervariasi. Hal ini diperparah dengan pertahanan di depan net (block) yang sering kali terlambat mengantisipasi gempuran pemain lawan, seperti Boy Arnez dan kawan-kawan. Akibatnya, poin demi poin dengan mudah dipanen oleh kubu lawan.
Masalah Jam Terbang Pemain Muda
Kekalahan dari tim pelapis LavAni bukan disebabkan oleh faktor mental yang menciut. Nur Widayanto menegaskan bahwa anak asuhnya tidak merasa gentar dengan nama besar LavAni. Namun, perbedaan pengalaman di atas lapangan menjadi pembeda yang sangat mencolok dalam laga tersebut.
“Jadi masalah di tim kami saat lawan Jakarta LavAni yang menurunkan cadangan atau pelapis ada di jam terbang karena didominasi pemain muda campuran kelahiran 2008-2009,” papar sang juru taktik.
Mayoritas penggawa Garuda Jaya memang dihuni oleh talenta muda yang dipersiapkan untuk masa depan voli Indonesia. Menghadapi pemain cadangan LavAni yang secara rutin mencicipi kompetisi ketat rupanya tetap menjadi ujian berat bagi para pemain kelahiran 2008 dan 2009 ini.
Incar Posisi Ketiga dan Siasat Lawan Samator
Menyadari realitas di lapangan, Jakarta Garuda Jaya kini mengalihkan fokus secara total. Nur Widayanto mengakui bahwa secara matematis dan performa, mengejar poin Jakarta LavAni maupun Bhayangkara Presisi adalah misi yang mustahil untuk saat ini.
“Kami tetap fokus perebutan posisi ke-3 dan keempat. Untuk mengejar poin LavAni sama Bhayangkara Presisi susah,” akunya secara realistis.
Target realistis mereka kini adalah mengamankan peringkat ketiga di Grand Final Proliga 2026. Lawan yang diprediksi akan menjadi penghalang adalah tim kawakan Surabaya Samator. Sang pelatih pun telah menginstruksikan skuadnya untuk mulai membedah pola permainan lawan guna menyiapkan siasat jitu.
“Jadi kami fokus nanti melihat evaluasi kita kemarin lawan Surabaya Samator. Sama nanti melihat pertandingan Samator di pertandingan sebelumnya. Jadi kita fokusnya di Samator,” tutup Nur.
Seorang jurnalis online yang gemar membahas tren baru dan peristiwa cepat. Ia menyukai fotografi jalanan, nonton dokumenter, dan mendengar musik jazz sebagai relaksasi. Menulis baginya adalah cara memahami arah dunia. Motto hidupnya: "Setiap berita harus memberi manfaat, bukan sekadar informasi."











