Aksi Damai Aremania untuk Pertandingan Arema FC vs Persebaya Surabaya
Sejumlah besar suporter Arema FC, yang dikenal sebagai Aremania, menggelar aksi damai di Polres Malang pada hari Kamis (16/4/2026). Mereka meminta pihak kepolisian agar pertandingan antara Arema FC dan Persebaya Surabaya tetap digelar di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk protes terhadap keputusan Forkopimda Kabupaten Malang yang sebelumnya menyatakan bahwa Derby Jatim belum siap digelar di stadion tersebut.
Aksi yang dilakukan oleh Aremania ini di antaranya merespons hasil rapat koordinasi yang diadakan oleh Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Malang pada Rabu (15/4/2026) di Polres Malang. Dalam rapat tersebut, disampaikan bahwa Stadion Kanjuruhan belum siap digunakan sebagai tempat penyelenggaraan laga Derby Jatim karena berbagai pertimbangan. Hal ini membuat Aremania merasa tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan tersebut.
Penolakan atas Keputusan Forkopimda
Juru Bicara Aremania Bergerak, Dede Arisandi, menyampaikan bahwa Aremania merasa tidak dilibatkan sebagai suporter utama dalam pertandingan Arema FC. Ia menilai Forkopimda Kabupaten Malang tidak mempertimbangkan masukan dari Aremania.
“Kalau Polres Malang ingin melakukan mitigasi tolonglah kami juga dilibatkan,” ujarnya. “Makanya kami di sini meminta klarifikasi, instrumen apa yang dijadikan sebagai nilai mitigasi oleh orang-orang yang diundang kemarin kok sehingga menyatakan belum siap.”
Aremania menegaskan bahwa Stadion Kanjuruhan adalah rumah bagi mereka dan Aremanita. Mereka meminta sikap tegas dari Forkopimda Kabupaten Malang untuk menjaga komitmen terkait penggunaan kembali Stadion Kanjuruhan sebagai homebase Arema FC.
Permintaan untuk Gelar Laga di Stadion Kanjuruhan
Mereka meminta agar laga Arema FC melawan Persebaya Surabaya yang akan digelar pada 28 April 2026 mendatang tetap digelar di Stadion Kanjuruhan. Menurut Aremania, penggunaan kembali stadion ini menjadi langkah penting untuk mengobati luka akibat peristiwa buruk yang pernah terjadi.
“Kalau ngomong trauma healing, inilah trauma healing yang paling bagus (pertandingan di Stadion Kanjuruhan).”
“Kalau ini ditunda-tunda akan menjadi trauma baru yang berkepanjangan,” jelasnya.
Di sisi lain, Aremania juga menyatakan komitmen untuk membantu keamanan jika pertandingan diselenggarakan di homebase. Mereka bersedia melakukan penguatan atau solidaritas dari suporter untuk membantu kepolisian.
“Kalau pengamanan kan urusannya polisi, tapi kalau kita kan membantu karena kita ini sebagai tuan rumah ingin menjadi supporter yang bermartabat, ingin berbenah.”
“Tolong. Jangan direcoki, tolong jangan dijudge bahwa kita ini masih belum berubah atau belum siap,” pungkas dengan sapaan Pak Wo.
Tanggapan dari Kapolres Malang
Kapolres Malang, AKBP Muhammad Taat Resdi, menyampaikan bahwa aspirasi yang disampaikan, baik yang mendukung maupun menolak penyelenggaraan pertandingan di Stadion Kanjuruhan, menjadi pertimbangan bagi pihaknya sebelum mengambil keputusan.
“Ada atau tidak ada tuntutan yang kami lakukan adalah melakukan kajian, analisis, dan kemudian mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan yang objektif.”
“Makanya apa yang dilakukan malam hari ini itu menjadi bagian dari bahan pertimbangan,” sambung Taat.
Setiap saran dan masukan yang diterima oleh Polres Malang akan dikoordinasikan atau disampaikan ke Polda Jatim sesuai dengan mekanisme. Ia menegaskan, sampai dengan saat ini, pihaknya belum mengeluarkan rekomendasi.
Menurutnya, rekomendasi ini akan keluar sebelum pertandingan Arema FC melawan Persebaya. Paling tidak sebelum tanggal 28 April 2026 pihak kepolisian segera mengambil keputusan.
“Untuk mengambil bahan keputusan ini bukan hanya dilakukan dalam waktu semalam, seminggu, ini sudah kami lakukan selama kurang lebih dua bulan terakhir.”
“Ketika semua teman-teman belum aware kita sudah mengantisipasi jauh-jauh. hari,” tegasnya.











