"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Pecco Selamatkan Ducati, Marquez Dihukum

Kinerja Ducati di GP Amerika yang Menjadi Perhatian

Hasil yang diraih oleh pabrikan motor asal Italia, Ducati, dalam balapan GP Amerika lalu tidak cukup memuaskan. Meskipun memiliki dua pembalap utama, Marc Marquez dan Pecco Bagnaia, keduanya gagal konsisten berada di tiga besar dalam dua balapan yang digelar di Circuit of the Americas (COTA). Hal ini menimbulkan kekhawatiran terhadap performa tim dan membuat CEO Ducati, Gigi Dall’Igna, meminta adanya perbaikan di berbagai sektor.

Pada balapan GP Amerika lalu, hasil yang diperoleh tidak bisa disebut maksimal. Marc Marquez, yang sempat diharapkan menjadi titik baliknya di COTA, justru mengalami kekecewaan. Ia mengakhiri balapan Sprint dengan kondisi terpukul akibat kecelakaan bersama Fabio Di Giannantonio, sehingga tidak mendapatkan poin sama sekali. Namun, ia berhasil bangkit pada balapan utama yang digelar sehari setelahnya. Marquez finish di posisi kelima, mengantongi 11 poin.

Sementara itu, kisah Francesco Bagnaia juga tidak begitu baik. Meski sempat memberikan harapan besar setelah finish di posisi kedua pada Sprint Race, ia gagal mempertahankan performa tersebut di balapan utama. Hasilnya hanya berada di posisi kesepuluh, yang menunjukkan bahwa Ducati masih mencari bentuk terbaiknya musim ini.

Aprilia Mengungguli Ducati

Ambisi Ducati untuk menjadi pabrikan terbaik tampaknya harus melawan tantangan dari Aprilia, yang tampil luar biasa selama tiga balapan awal. Selama periode ini, Aprilia tidak pernah absen menempatkan pembalapnya di podium. Baik dalam sesi Sprint Race maupun balapan utama, setidaknya satu pembalap utama Aprilia, yaitu Marco Bezzecchi atau Jorge Martin, selalu muncul sebagai pemenang.

Performa Aprilia yang luar biasa ini memaksa Ducati untuk segera melakukan evaluasi dan perbaikan. Perkataan Gigi Dall’Igna, CEO Ducati, mengisyaratkan bahwa pabrikan Italia ini masih memiliki banyak pekerjaan rumah untuk diselesaikan. Ia mengakui bahwa hasil kurang maksimal di seri awal tahun ini menjadi penggugah bagi Ducati untuk segera bangkit.

“Yang paling jelas adalah kami harus bekerja keras untuk meningkatkan performa dan menempatkan pembalap kami di posisi terbaik,” kata Dall’Igna dikutip dari GPOne.

“Terutama musim ini, tim-tim lain tampil sangat kompetitif dengan pembalap masing-masing.”

“Di GP Amerika, kami benar-benar kesulitan, bahkan melebihi dari apa yang kami antisipasi.”

“Ini harusnya menjadi tanda bagi kami untuk segera bangkit dan kembali ke jalur kemenangan.”

“Saya percaya peruntungan kami akan membaik,” paparnya.

Masalah yang Diungkap oleh Fabio Di Giannantonio

Salah satu pembalap yang menggunakan mesin Ducati, Fabio Di Giannantonio, mencoba menjelaskan masalah yang ada di motornya. Setelah balapan di Austin, ia mengungkapkan bahwa Ducati GP26 memiliki keterbatasan serius pada bagian depan (front-end). Hal ini memaksa pembalap bekerja ekstra keras pada bagian belakang, yang ujung-ujungnya memicu keausan ban yang berlebihan.

“Saat berada di posisi keempat, saya memperoleh banyak keuntungan di sektor pertama karena motor kami sangat lincah dan saya bisa menekan habis-habisan, bahkan sampai tangan saya terasa remuk,” ungkap Diggia.

Namun, kelincahan itu harus dibayar mahal saat balapan memasuki fase krusial.

“Ketika tiba saatnya membuat motor melakukan apa yang saya inginkan, segalanya menjadi lebih sulit.”

“Rival kami bisa mengerem lebih lambat, memasuki tikungan sambil mengerem, dan menggunakan bagian depan untuk membelokkan motor.”

“Sementara kami sudah sangat dekat dengan batas maksimal dan harus sangat mengandalkan bagian belakang,” jelasnya.

Hendra Susanto

Reporter online yang antusias menjelajahi isu terkini dengan pendekatan analitis. Ia suka membaca buku motivasi, mendengarkan musik akustik, dan membuat catatan ide. Menurutnya, menulis adalah proses belajar yang tak berakhir. Motto: "Setiap paragraf harus mengandung nilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *