Kehidupan Seorang Penjual Hik Keliling di Kota Solo
Pak Senen adalah contoh nyata dari seorang pedagang yang tetap setia pada metode berdagang tradisional. Setiap hari, ia menyusuri jalanan Kota Solo dengan memanggul dua keranjang berisi dagangan di pundaknya. Dengan cara ini, ia menjual aneka gorengan seperti bakwan, tahu isi, tempe goreng, dan pisang goreng yang tersusun rapi dalam wadah. Selain itu, terdapat pula sate-satean seperti sate usus dan telur puyuh, serta berbagai camilan kering yang dikemas dalam plastik.
Cara berjualan seperti ini dulunya cukup umum, namun kini mulai ditinggalkan karena dianggap kurang praktis dan membutuhkan tenaga fisik yang besar. Namun, Pak Senen tetap bertahan dengan cara tersebut. Meski menghadapi tantangan, ia tidak pernah meninggalkan tradisi yang telah ia jalani selama bertahun-tahun.
Pada sore hari, Pak Senen biasanya mangkal sejenak di sekitar RS Brayat. Lokasi ini cukup strategis karena ramai oleh aktivitas warga dan pengunjung rumah sakit. Ia memanfaatkan waktu tersebut untuk beristirahat sekaligus melayani pembeli yang datang silih berganti. Keberadaannya di lokasi ini memberikan kesempatan bagi warga untuk menikmati camilan sederhana dengan suasana yang hangat dan akrab.
Memasuki malam hari, Pak Senen kembali melanjutkan perjalanan menuju kawasan Terminal Tirtonadi. Area ini dikenal sebagai salah satu pusat keramaian di Solo, terutama pada malam hari, sehingga menjadi lokasi potensial untuk berjualan. Di tempat ini, ia berharap bisa menemui banyak pembeli yang ingin menikmati hidangan tradisional yang disajikan langsung dari pikulannya.
Keberadaan Pak Senen tidak hanya menjadi alternatif kuliner bagi masyarakat, tetapi juga menghadirkan nuansa nostalgia. Banyak pembeli yang mengaku teringat masa lalu ketika pedagang pikul masih mudah ditemui di berbagai sudut kota. Sensasi membeli langsung dari pikulan, lengkap dengan interaksi sederhana, menjadi pengalaman tersendiri yang sulit tergantikan.
Di tengah maraknya layanan pesan antar dan gerobak modern, pilihan Pak Senen untuk tetap berjualan secara tradisional menunjukkan keteguhan sekaligus ketahanan pelaku usaha kecil. Cara ini memang tidak mudah, mengingat ia harus berjalan cukup jauh sambil memikul beban dagangan setiap harinya. Namun, ia tetap bersikeras untuk menjaga tradisi yang ia anggap penting.
Sejumlah warga berharap keberadaan pedagang seperti Pak Senen tetap bisa bertahan. Selain sebagai bagian dari mata pencaharian, tradisi berdagang dengan cara dipikul juga merupakan warisan budaya yang mencerminkan kesederhanaan dan kerja keras. Kisah Pak Senen menjadi potret nyata bahwa di balik kemajuan zaman, masih ada sosok-sosok yang memilih bertahan dengan cara lama.
Di Solo, kehadirannya bukan sekadar penjual hik, tetapi juga simbol kegigihan dan tradisi yang belum sepenuhnya hilang. Dengan setiap langkah yang ia ambil, Pak Senen membuktikan bahwa nilai-nilai tradisional masih memiliki tempat di tengah perubahan yang cepat.











