"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"
Daerah  

Sebelum Viral, 24 Jamaah Umroh Lubuklinggau Gagal Berangkat Karena Visa Tak Terbit

Kasus Gagal Berangkat Umroh di Lubuklinggau

Kasus gagal berangkat umroh yang dialami oleh sejumlah jamaah di Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan, ternyata bukanlah hal baru. Diketahui ada 24 jamaah yang sebelumnya juga mengalami kegagalan dalam proses pemberangkatan karena masalah visa yang tidak kunjung terbit. Kejadian ini menimpa koordinator jamaah, Ustad YP, yang akhirnya harus menjual aset pribadinya untuk membiayai perjalanan umroh jamaah tersebut.

Kegagalan Awal dan Janji Penggantian

Ustad YP, yang bertugas sebagai koordinator ibadah umroh, awalnya berhasil mengumpulkan 24 jamaah yang ingin menunaikan ibadah umroh. Setelah uang mereka disetor, para jamaah dijanjikan akan diberangkatkan pada akhir Juli 2025. Namun, ketika mendekati tanggal keberangkatan, jamaah malah gagal berangkat karena visa tidak terbit.

Menurut pengakuan Abdul Aziz, pengacara Ustad YP, keluarga jamaah sudah melakukan persedekahan, namun tak satu pun dari mereka bisa berangkat. Ustad YP dan jamaah kemudian menemui pihak travel dan sepakat bahwa jika keberangkatan bulan Agustus gagal, maka uang akan dikembalikan pada bulan September. Sayangnya, hingga bulan September, kasus yang sama kembali terjadi.

Tindakan Ekstrem untuk Memenuhi Janji

Akibat tekanan dari jamaah, Ustad YP merasa malu karena uang jamaah telah disetorkan ke travel. Akhirnya, ia memutuskan untuk memberangkatkan sendiri 24 jamaah tersebut melalui travel lain. Untuk membiayai perjalanan tersebut, Ustad YP menjual mobil dan harta pribadinya.

Sementara itu, pihak travel sempat menawarkan penggantian dengan sebidang tanah kepada Ustad YP. Namun, hingga kini tanah tersebut belum diberikan. Bahkan, kasus serupa kembali muncul, kali ini dengan alasan yang sama yaitu visa tidak terbit.

Tindakan Hukum yang Dipertimbangkan

Karena janji penggantian tanah belum terealisasi, Ustad YP dan keluarganya berencana mengambil langkah hukum. Hal ini dilakukan karena pihak travel tidak menunjukkan itikad baik dan tetap melakukan tindakan yang sama seperti sebelumnya.

Viralnya Kasus Penipuan Travel Umroh

Sebelumnya, sebuah video dugaan penipuan travel umroh viral di media sosial (Medsos) Kota Lubuklinggau. Video dari akun Facebook bernama Endi Semeteh menarik perhatian ratusan ribu orang. Dalam video tersebut, dibahas dugaan penipuan yang dialami seorang nenek bernama A Rivai, warga Musi Rawas, oleh sebuah biro perjalanan travel haji dan umroh di Lubuklinggau.

Nenek A Rivai bersama rombongan 20 orang berangkat dari Palembang pada 4 Februari lalu. Mereka dijanjikan bisa berangkat ke Jeddah untuk menunaikan ibadah umroh. Namun, kenyataannya justru berbeda. Rombongan hanya sampai di Jakarta dan terlantar selama 15 hari tanpa kepastian keberangkatan.

Dari 20 orang rombongan, hanya 12 orang yang akhirnya bisa berangkat umroh. Namun, mereka harus mencari travel lain dan kembali menyetor uang. Bahkan, dua orang di antaranya harus menambah dana hingga sekitar Rp70 juta agar bisa tetap berangkat.

Sementara itu, nenek A Rivai harus pulang ke Musi Rawas dari Jakarta menggunakan uang pribadi. Ia membawa pulang kekecewaan yang mendalam. Uang yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit untuk beribadah ke Tanah Suci kini lenyap tanpa kepastian.

Harapan Keluarga Korban

Keluarga korban berharap pihak travel bertanggung jawab dan mengembalikan seluruh kerugian yang dialami. Mereka juga meminta pemerintah daerah turun tangan untuk memfasilitasi penyelesaian masalah ini agar tidak ada lagi masyarakat kecil yang menjadi korban janji manis perjalanan ibadah.

“Jangan hanya janji-janji manis,” tegas keluarga korban, menuntut kejelasan dan pengembalian dana yang menjadi hak mereka.

Di tempat terpisah, wartawan Tribunsumsel masih mencoba mengkonfirmasi biro perjalanan tersebut via WhatsApp, namun hingga saat ini belum ada jawaban.

Rizal Hartanto

Penulis berita dengan ketertarikan pada human interest dan kisah inspiratif. Ia senang berbincang dengan masyarakat untuk memahami realitas kehidupan. Ketika tidak menulis, ia menikmati hobi memasak dan mendengar podcast. Motto: "Menulis adalah cara merawat empati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *