"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"
Daerah  

Keluarga miskin di Purwokerto tinggal di gubuk sampah dekat lapangan padel mewah

Kondisi Memprihatinkan Keluarga Pemulung di Purwokerto

Di tengah keramaian kota yang terus berkembang, ada satu keluarga pemulung di Purwokerto yang hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Mereka tinggal di sebuah gubuk sempit yang bercampur dengan tumpukan sampah plastik. Gubuk tersebut berada tidak jauh dari lapangan padel yang ramai dikunjungi warga.

Keluarga ini terdiri dari empat orang, yaitu Andai Iskandar (74 tahun), Edah (70 tahun), anak mereka Nia Purnamasari (42 tahun), serta seorang anak perempuan bernama Aura Nabila Putri (10 tahun). Mereka tinggal di ruangan sempit tanpa kompor dan fasilitas mandi, cuci, dan kakus (MCK). Tempat tinggal mereka bahkan hanya berjarak sekitar 50 meter dari lapangan padel yang ramai pengunjung.

Hidup di Tengah Tumpukan Sampah

Setiap hari, keluarga ini mengandalkan penghasilan dari memulung dan sesekali mengemis. Rata-rata pendapatan mereka hanya sekitar Rp20 ribu per hari untuk mencukupi kebutuhan makan. Tumpukan botol plastik dan sampah hasil memulung berada sangat dekat dengan tempat tidur mereka. Lalat, tawon, dan hewan melata seperti kadal sering terlihat di dalam gubuk. Bahkan, beberapa hari sebelumnya, ular sempat masuk ke area tersebut.

Untuk memasak, mereka menggunakan tungku kayu bakar karena tidak memiliki kompor. Fasilitas MCK pun tidak tersedia. Mereka hanya membuat bilik kecil untuk mandi, sementara untuk buang air harus pergi ke sekolah dasar terdekat. Kontras yang jelas terlihat karena gubuk tersebut berdiri tak jauh dari pusat olahraga padel yang ramai didatangi warga kalangan menengah ke atas.

Perantau Asal Tasikmalaya

Keluarga ini merupakan perantau asal Tasikmalaya, Jawa Barat. Logat Sunda masih kental terdengar dalam percakapan mereka. Meski demikian, status administrasi kependudukan mereka telah terdaftar sebagai warga Banyumas, dengan alamat di Jalan Gerilya Timur, RT 3 RW 10, Kelurahan Karangklesem, Kecamatan Purwokerto Selatan. Mereka telah menetap di Purwokerto selama sekitar lima tahun.

Nenek Edah mengaku bahwa kondisi ekonomi keluarga semakin sulit, terlebih setelah dirinya mengalami kecelakaan. “Saya juga habis ketabrak motor jadi tidak bisa jalan jauh. Kalau bantuan ada kaya beras kadang sebulan kadang dua bulan sekali,” katanya. Ia juga menyampaikan bahwa mereka belum pernah menerima bantuan hunian layak.

“Kalau bantuan hunian layak gak ada, tapi kita menempati tanah orang, tanahnya milik pak dokter THT di PMI, kata dokternya gak papa, boleh selama sama nenek, boleh diperbaiki asal jangan permanen,” katanya.

Kondisi Kesehatan Memprihatinkan

Kondisi kesehatan Kakek Iskandar juga menjadi perhatian. Ia telah mengalami sakit selama sekitar dua tahun dan lebih banyak terbaring di ruang sempit tersebut. “Sudah sakit 2 tahunan karena ketbrak. Tapi gak ada yang tanggungjawab. Kalau berobat gratis, sudah dua kali ke RS tapi ini belum cek lagi, karena uangnya buat ongkos belum ada. Kalau pakai taxi online butuh Rp50 ribu,” katanya.

Menurut keluarga itu, para pengunjung lapangan padel datang dengan mobil. Aktivitas di lapangan tersebut ramai hingga malam hari, bahkan sampai tengah malam. Lapangan padel itu baru berdiri beberapa bulan. Sebelumnya, lokasi tersebut hanyalah lahan kosong yang sepi.

Harapan untuk Hunian yang Layak

Nia mengatakan gubug yang kini mereka tempati sebenarnya dulu merupakan warung. “Saya tinggal bersama, dulunya jualan gorengan, ini dulunya warung gorengan, jadi malah habis buat beli dagangan gak pada balik modal. Mamah nanti jualan opak juga di BJ (sebuah perbelanjaan),” katanya. Nia menegaskan tanah tersebut bukan miliknya, hanya menumpang.

“Ini tanah bukan milik saya, saya hanya numpang, kalau pemerintah mau bongkar harus tanah sendiri,” katanya. Nia bekerja sebagai pemulung rongsok. Penghasilannya kadang hanya cukup untuk makan. Ia biasa mengumpulkan rongsok di sekitar Andhang Pangrenan atau di area pusat perbelanjaan, lalu menjualnya ke pengepul.

“Harapannya adalah ada bantuan pengen punya hunian yang layak. Mudah-mudahan ada rejeki aja,” katanya. Ia mengaku merantau dari Tasikmalaya, namun kini sudah ber-KTP Purwokerto. Sementara itu, keponakannya, Aura, saat ini bersekolah di SD 3 Purwokerto Kulon.

Tanggapan Dinas Sosial

Dari pihak Dinas Sosial Kabupaten Banyumas, mereka ikut menanggapi adanya kondisi warga yang memprihatinkan tersebut. “Ini nanti sekitar pukul 10.00 WIB akan kita cek dengan tim karena sebelumnya sudah kita daftarkan ke panti tapi masih daftar tunggu,” ucap Sekdin Dinsos, Budi Suharyanto, Rabu (18/2/2026).

Di tengah geliat pembangunan dan gaya hidup baru, potret kemiskinan seperti ini seharusnya tidak luput dari perhatian pemerintah daerah. Ternyata hanya berjarak puluhan meter dari lapangan padel yang ramai pengunjung, satu keluarga harus hidup di gubug tanpa kompor, tanpa MCK, dan bertahan dari hasil memulung yang tak seberapa.




Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *