Fenomena lubang raksasa yang muncul di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, semakin meluas dan menimbulkan kekhawatiran bagi warga setempat. Berikut adalah kronologi terjadinya fenomena ini yang kini ditetapkan sebagai zona merah oleh pemerintah.
Awal Mula Fenomena
Lubang raksasa bermula dari retakan kecil yang terjadi di pinggir kebun warga Kampung Pondok Balik. Pada awalnya, retakan tersebut tidak menarik perhatian banyak orang, namun ternyata menjadi tanda awal dari bencana geologi besar. Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Aceh Tengah mencatat bahwa pergerakan tanah sudah terdeteksi sejak awal 2000-an. Pada tahun 2004, lubang mulai melebar secara perlahan, dan dua tahun kemudian, tepatnya pada 2006, longsoran besar memutus jalan penghubung antara Aceh Tengah dan Bener Meriah.
Perkembangan Selanjutnya
Pemerintah kemudian membangun jalur alternatif untuk menjaga konektivitas antarwilayah. Namun, proses alam terus berlangsung. Dalam periode 2013–2014, kondisi tanah semakin labil. Akibatnya, warga Kampung Bas Rempah akhirnya direlokasi ke Serempah Baru demi keselamatan mereka. Luasan lubang terus bertambah secara signifikan. Pada tahun 2021, luas area tercatat sekitar 20 ribu meter persegi, dan hanya dalam satu tahun, angka tersebut melonjak menjadi 28 ribu meter persegi.
Pengaruh Terhadap Wilayah Sekitar
Hampir seluruh lahan perkebunan warga di sekitar titik lokasi kini habis tergerus longsor. Aktivitas pertanian dihentikan total, dan kawasan tersebut ditetapkan sebagai zona merah. Puncak dari kronologi munculnya lubang raksasa terjadi setelah banjir bandang dan longsoran besar melanda Aceh Tengah pada 26 November 2025. Debit air yang sangat tinggi mempercepat penggerusan tanah secara drastis.
Situasi Terkini
Pertengahan Januari 2026, video kondisi terkini lokasi viral di media sosial. Saat itu, lubang belum menyentuh badan jalan utama. Namun dalam hitungan minggu, longsor kembali terjadi dan memutus akses jalan sepanjang 40–50 meter. Kini, petugas berjaga di lokasi untuk mencegah warga mendekat, baik karena rasa penasaran maupun demi membuat konten media sosial. Bagi warga, ini bukan sekadar fenomena alam, melainkan kehilangan ruang hidup.
Bukan Sinkhole, Tapi Piping Erosion
Mengutip dari sumber independen, Dosen Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada, Salahuddin Husein, menegaskan bahwa fenomena ini bukan sinkhole. Menurutnya, lubang raksasa di Ketol lebih tepat disebut sebagai piping erosion, yakni erosi air bawah tanah yang membentuk saluran menyerupai pipa. Fenomena ini lazim terjadi di dasar bendungan atau tanggul sungai.
Ia menjelaskan bahwa Ngarai Ketol berkembang pada batuan piroklastika muda. Erosi Sungai Lampahan terhadap material piroklastika Gunung Geureudong menjadi faktor utama terbentuknya lembah raksasa tersebut. Perpanjangan ngarai terjadi akibat erosi ke arah hulu (headward erosion). Banjir bandang akhir November 2025 mempercepat proses ini karena anak Sungai Lampahan menerima debit air sangat besar yang mengalir deras dari lereng Gunung Geureudong.
Dampak Hidrologi yang Lebih Luas
Lubang raksasa itu juga berpotensi berdampak lebih luas secara hidrologi. Salahuddin menyebut ngarai ini bisa terus tumbuh hingga mencapai Sungai Baleg. Jika tersambung, Sungai Baleg terancam kehilangan aliran airnya dan menjadi sungai terpancung (beheaded stream). Lembah yang kehilangan aliran tersebut nantinya dapat berubah menjadi celah angin (wind gap). Fenomena ini dikenal sebagai pembajakan sungai (river piracy), yakni ketika aliran satu sungai dibelokkan dan bergabung dengan sistem sungai lain yang lebih efisien secara hidrologi.
Opsi Relokasi
Saat ini, Kementerian Pekerjaan Umum bersama tim akademisi Universitas Syiah Kuala masih melakukan kajian teknis. Namun pengendalian fenomena sebesar ini membutuhkan biaya sangat besar, bahkan disebut sebanding dengan proyek pengendalian Sungai Mississippi di Amerika Serikat. Karena itu, tiga langkah realistis disarankan. Pertama, membiarkan proses erosi berlangsung alami. Kedua, menutup jalan Ketol–Pante Raya dan mengalihkan arus kendaraan. Lalu ketiga, merelokasi warga terdampak.
Itulah kronologi munculnya lubang raksasa di Aceh yang berawal dari retakan kecil. Kini, warga Pondok Balik hanya bisa berharap rumah mereka tidak menjadi korban berikutnya dari ngarai yang terus tumbuh.











