Tim Pencari dan Penyelamat Berhasil Menemukan Black Box Pesawat ATR 42-500
Seorang anggota Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) 45 Universitas Bosowa (Unibos) Makassar, Achmad Kadim, berhasil berkontribusi dalam operasi pencarian dan evakuasi black box pesawat ATR 42-500 di Pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Keberhasilan ini menjadi salah satu momen penting dalam proses penyelidikan kecelakaan pesawat tersebut.
Lokasi Penemuan Black Box
Black box ditemukan di kawasan perbukitan Kabupaten Pangkep dengan koordinat 04°55’48” Lintang Selatan – 119°44’52” Bujur Timur. Wilayah ini memiliki kontur lereng curam, vegetasi rumput dan semak, serta sering diselimuti kabut tebal. Secara geografis, lokasi penemuan berada sekitar 42 kilometer dari pusat Kota Makassar dan sekitar 26 kilometer dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Maros, dengan arah utara dan timur laut dari bandara.
Achmad tergabung dalam Search and Rescue Unit (SRU) 1 yang terdiri dari berbagai unsur seperti Mapala 45, UKM SAR Unibos, Tim Reaksi Cepat (TRC) PT Semen Tonasa, Basarnas, Riders 700 TNI, serta personel Kodam XIV/Hasanuddin.
Proses Evakuasi Black Box
Operasi pencarian dimulai pada hari kelima, yaitu Rabu (21/1/2026). Tim SRU 1 berangkat dari Posko SAR Gabungan di Kantor Desa Tompobulu sekitar pukul 07.30 Wita. Perjalanan menuju Pos 9 memakan waktu hingga pukul 10.00 Wita, lalu melanjutkan perjalanan menuju titik penemuan dan tiba sekitar pukul 12.00 Wita.
Black box ditemukan masih terpasang kuat di bagian ekor pesawat yang tersangkut di pohon setinggi lima meter dari permukaan tanah. Keterbatasan peralatan menjadi kendala utama karena tim tidak membawa perkakas untuk membuka baut yang menempelkan black box ke bagian ekor pesawat.
Tindakan Nekat Achmad Kadim
Berbekal pengalaman panjat tebing saat aktif di Mapala, Achmad berinisiatif memanjat pohon untuk melepaskan black box. Ia membawa parang berukuran sejengkal, yang biasanya digunakan sebagai perlengkapan dasar untuk membuka jalur dan memotong semak. Setibanya di atas, Achmad menggunakan parang tersebut untuk memotong bagian perekat black box sambil menahan badan black box dengan satu tangan.
“Sekitar sepuluh menit saya memotongnya, alhamdulillah akhirnya terlepas,” kata Achmad. Ia menjelaskan bahwa black box harus ditahan agar tidak terjatuh. Jika terlepas, benda tersebut berpotensi jatuh ke jurang tepat di bawah lokasi dengan kemiringan sekitar 90 derajat.
Achmad mengakui tindakannya terbilang nekat. Jika ekor pesawat bergoyang saat proses pemotongan, ia berisiko terjatuh ke jurang. “Modal nekat, tapi alhamdulillah bisa dituntaskan,” ujarnya.
Setelah berhasil dilepaskan, black box dibawa ke Posko SAR Gabungan oleh personel TNI. Sementara itu, Achmad bersama anggota SRU 1 lainnya kembali melanjutkan penyisiran untuk mencari korban.
Pengalaman dan Motivasi Achmad
Achmad mengaku bangga dapat terlibat dalam operasi pencarian tersebut. Ia juga bangga menjadi bagian dari tim penemu black box dan bisa memegang langsung benda penting itu. “Baru saya tahu posisinya di mana, bagaimana bentuknya. Selama ini hanya lihat di TV. Ternyata ini barang yang disebut sangat penting di pesawat,” ucapnya.
Ia mengaku baru pertama kali terlibat dalam operasi pencarian pesawat. Namun sebelumnya, ia pernah mengikuti sejumlah operasi evakuasi, antara lain evakuasi korban banjir di Aceh, gempa bumi di Mamuju, serta banjir bandang di Masamba.
Achmad merupakan alumni Fakultas Teknik Universitas Bosowa angkatan 2009. Ia bergabung dengan Mahasiswa Pencinta Alam sejak tahun yang sama dan mengambil divisi panjat tebing. Ia menyebut Gunung Bulusaraung merupakan lokasi pendidikan dan latihan Mapala 45, sehingga medan di kawasan tersebut sudah sangat familiar baginya.
Dalam kesehariannya, Achmad bekerja sebagai pembersih gedung bertingkat di Makassar. Selain dirinya, delapan anggota Mapala 45 Makassar lainnya juga terlibat dalam operasi pencarian pesawat ATR 42-500 tersebut. “Kalau di Mapala, setiap ada kegiatan evakuasi kami pasti ikut karena itu sudah menjadi panggilan jiwa,” katanya.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











