Banjir Meluas di Pulau Bangka, Banyak Wilayah Terendam
Beberapa ruas jalan utama di tiga wilayah kabupaten di Pulau Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sempat tidak dapat dilalui akibat tingginya genangan air setelah hujan mengguyur sejak Jumat (9/1/2026) pagi hingga sore. Aktivitas masyarakat di wilayah terdampak banjir juga lumpuh. Sementara itu, puluhan rumah warga terendam hingga setinggi lutut orang dewasa, bahkan ada yang lebih.
Banjir paling parah terjadi di Kecamatan Lubuk Besar, Kabupaten Bangka Tengah. Cuaca ekstrem yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sejak Jumat (9/1/2026) pagi menyebabkan banjir meluas. Di Kecamatan Lubuk Besar, sedikitnya 52 rumah tergenang. Data sementara tersebut mencakup dua desa terdampak paling parah, yakni Desa Lubuk Lingkuk dan Desa Lubuk Pabrik.
Bupati Bangka Tengah Algafry Rahman menyebutkan, 32 rumah berada di Lubuk Lingkuk, sedangkan 20 rumah lainnya di Lubuk Pabrik. “Ini masih data sementara dan kemungkinan bisa bertambah karena air belum sepenuhnya surut,” kata Algafry saat meninjau lokasi. Ia menjelaskan, ketinggian air di sejumlah titik tergolong cukup tinggi, bahkan mencapai dada orang dewasa. Menurutnya, banjir kali ini dipicu curah hujan tinggi yang terjadi secara terus-menerus dan bersamaan dengan pasang air laut.
“Kondisi ini membuat aliran sungai dan saluran air tidak mampu menampung debit air,” ujarnya. Sebagai langkah awal, Pemkab Bangka Tengah berencana melakukan normalisasi dan pelebaran saluran air setelah kondisi memungkinkan. Dua unit alat berat akan diturunkan untuk pengerukan.
Warga Mengeluh Banjir Datang Mendadak
Warga Desa Lubuk Lingkuk, Septi, mengatakan air mulai masuk ke permukiman sejak sekitar pukul 07.00 WIB. Menurutnya, banjir datang secara tiba-tiba dan langsung naik dengan cepat. “Sekitar setengah tujuh pagi air mulai masuk. Datangnya mendadak,” katanya. Debit air terus meningkat karena hujan tidak kunjung reda hingga siang hari.
Septi menyebut wilayahnya memang kerap menjadi langganan banjir saat hujan deras berlangsung lama. “RT 5 ini memang rawan karena ada aliran sungai cukup besar,” ujarnya. Banjir juga melumpuhkan sejumlah ruas jalan. Salah satu titik terparah berada di depan SMA Negeri 1 Lubuk Besar, Desa Lubuk Pabrik. Arus air yang deras membuat banyak pengendara memilih berhenti menunggu air surut.
Seorang sopir truk, Een, mengaku tertahan lebih dari tiga jam di lokasi tersebut. “Saya dari Pangkalpinang bawa barang. Takut mogok kalau nekat lewat,” katanya. Kondisi serupa terjadi di Jembatan Desa Nibung, Kecamatan Koba, jalur penghubung Bangka Tengah dan Bangka Selatan. Genangan mencapai setinggi lutut orang dewasa, sehingga pengendara harus melaju perlahan.
Satlantas Polres Bangka Tengah memberlakukan sistem buka-tutup jalan untuk menghindari kemacetan dan potensi kecelakaan. Kasatlantas Iptu Elman Fafdi mengatakan langkah itu dilakukan demi keselamatan. “Kami atur lalu lintas agar tidak terjadi penumpukan kendaraan di titik genangan tertinggi,” ujarnya.
Sungai Dangkal Memicu Banjir
Saat meninjau lokasi, Bupati Algafry menyoroti kondisi alur sungai yang mengalami pendangkalan. Menurutnya, sedimentasi yang diduga akibat aktivitas tambang inkonvensional memperparah banjir. “Selain hujan deras dan pasang laut, alur sungai juga banyak mengalami pendangkalan,” katanya. Ketua DPRD Bangka Tengah Batianus juga meminta pemerintah daerah segera melakukan pengerukan di sejumlah titik. “Kalau tidak dinormalisasi, banjir akan terus berulang,” ujarnya.
Jembatan Culong Tergenang
Banjir turut melanda Kecamatan Mentok, Kabupaten Bangka Barat. Jembatan Culong di Kelurahan Sungai Daeng sempat tergenang hingga tidak dapat dilalui kendaraan. Ketinggian air mencapai dada orang dewasa sebelum perlahan surut. Warga terpaksa memutar arah karena genangan menutup badan jalan. Seorang warga, Apet (70), mengatakan banjir kali ini tergolong paling parah dibandingkan kejadian sebelumnya. “Kami memang sering banjir, tapi hari ini paling parah,” katanya.
Ia menduga timbunan pasir di sekitar talud turut menghambat aliran air. Kepala BPBD Bangka Barat Safrizal mengatakan pihaknya telah melakukan pemantauan dan menyalurkan bantuan berupa makanan siap saji kepada warga terdampak. “Kami terus memantau dan mendistribusikan bantuan,” ujarnya.
Basel Ikut Terdampak
Di Kabupaten Bangka Selatan, banjir juga merendam permukiman warga di Desa Tepus, Kecamatan Airgegas. Sedikitnya delapan rumah terdampak akibat luapan sungai setelah hujan deras. Kepala Bidang Penanggulangan Bencana Satpol PP dan Damkar Bangka Selatan Ardiansyah mengatakan air sungai meluap setelah hujan berlangsung cukup lama. “Ketinggian air bervariasi, mulai dari selutut hingga sepinggang orang dewasa,” katanya. Ia memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Kerugian materi masih dalam pendataan.
Daya Serap Tanah Berkurang
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Budi Utama mengatakan pihaknya memantau banjir yang terjadi di tiga kabupaten di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Jumat (9/1). Banjir didorong meningkatnya debit air di sejumlah titik akibat hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang terjadi secara terus-menerus. “Benar, saat ini ada tiga kabupaten yang terdampak, yaitu Bangka Barat, Bangka Tengah, dan Kabupaten Bangka.” Debit air di beberapa lokasi cukup deras. Kami dari BPBD provinsi terus melakukan pemantauan,” ujar Budi.
Ia mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya mereka yang bermukim di kawasan rawan banjir. Menurutnya, kondisi lingkungan turut berkontribusi terhadap meningkatnya risiko bencana. “Daya serap tanah, terutama di kawasan hutan, mulai berkurang. Air akhirnya banyak mengalir ke jalan, sementara saluran-saluran drainase juga tidak lagi optimal karena tersumbat. Kami mengajak masyarakat bersamasama menjaga lingkungan dan kembali menghidupkan semangat gotong royong,” katanya.
Selain itu, Budi meminta warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai, jembatan, dan saluran besar untuk memeriksa kondisi bangunan mereka. “Perhatikan kekokohan rumah, terutama bagian pondasi dan dinding. Jangan sampai terjadi abrasi atau longsor. Ini menjadi perhatian kami karena debit air cukup tinggi,” ujarnya.
Waspada Angin
Berbeda dengan sejumlah wilayah lain, Kota Pangkalpinang hingga Jumat siang dilaporkan relatif aman dari genangan. Kepala BPBD Kota Pangkalpinang, Dedi Revandi, mengatakan hujan yang mengguyur wilayah itu dalam beberapa hari terakhir belum memicu banjir. “Alhamdulillah, intensitas hujan memang berlangsung seharian, tetapi tidak terlalu lebat. Selain itu, hujan juga tidak dibarengi dengan pasang air laut, sehingga tidak menimbulkan genangan di titik-titik rawan,” kata Dedi.
Ia menjelaskan, hujan yang turun pada pagi hari umumnya hanya berupa gerimis, sehingga tidak menyebabkan luapan air di kawasan dataran rendah. “Pagi hari biasanya hanya gerimis. Jadi tidak memicu genangan ataupun banjir,” ujarnya. Meski demikian, Dedi mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi bencana lain yang bisa muncul akibat hujan berdurasi panjang, seperti angin kencang, pohon tumbang, hingga puting beliung.
“Yang perlu diwaspadai justru angin kencang yang menyertai hujan seharian. Ini berpotensi menyebabkan pohon tumbang, bahkan puting beliung, yang biasanya berdampak pada rumah warga, seperti atap terbang,” jelasnya. Ia memastikan BPBD Kota Pangkalpinang terus melakukan pemantauan dan menyampaikan imbauan kepada masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan. “Kami mengingatkan warga untuk berhati-hati, terutama saat beraktivitas di luar rumah. Jika terjadi kondisi darurat, segera laporkan agar bisa ditangani dengan cepat,” tegasnya.











