Petani Tambak Bireuen Menghadapi Kekacauan Akibat Banjir Bandang
Banjir bandang yang terjadi di Kabupaten Bireuen tidak hanya menghancurkan rumah-rumah warga, tetapi juga merusak usaha tambak yang menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga. Para petani tambak kini menghadapi kesedihan mendalam setelah berbagai jenis ikan seperti udang, bandeng, nila, dan kerapu hilang terbawa arus air. Bahkan, beberapa tambak yang sebelumnya menjadi lahan produktif kini telah berubah menjadi muara akibat tertimbun lumpur.
Berdasarkan data dari Dinas Pangan, Kelautan, dan Perikanan, luas tambak yang rusak mencapai 4.943 hektar. Dari jumlah tersebut, sebagian besar tambak mengalami kerusakan berat hingga ringan. Menurut Kepala Dinas, Ir M Jafar MM, lebih dari 4.700 pelaku usaha perikanan kini terdampak oleh bencana ini. Mereka kehilangan harapan di tengah lumpur yang menutupi tambak mereka, sehingga sulit untuk segera bangkit.
Selain tambak, infrastruktur pendukung juga ikut porak-poranda. Jembatan-jembatan yang menghubungkan daerah tambak putus, saluran air sepanjang ratusan kilometer rusak, serta balai benih ikan dan hatchery rumah tangga tidak lagi bisa berfungsi. Nelayan pun tidak luput dari dampak banjir ini. Ratusan kapal dan alat tangkap hilang atau rusak, membuat 644 orang nelayan kehilangan sumber penghidupan mereka.
Di tengah kesedihan itu, secercah harapan datang ketika tiga menteri – Menteri Perdagangan, Menteri Koperasi, dan Menteri Kelautan dan Perikanan – hadir langsung ke Desa Alue Kuta Jangka untuk melihat kondisi warga. Mereka berjanji akan menyalurkan bantuan hidup dan mendukung pemulihan tambak yang rusak ringan agar bisa segera berproduksi kembali.
Menjelang bulan suci Ramadan, warga berharap ada program padat karya seperti normalisasi saluran yang bisa dilakukan dengan tenaga manusia. “Setidaknya kami bisa bekerja, punya penghasilan, sambil menunggu tambak kembali pulih,” kata seorang petani tambak dengan mata berkaca-kaca.
Banjir bandang memang merenggut banyak hal, tetapi semangat gotong royong dan harapan untuk bangkit tetap hidup di hati masyarakat Bireuen.
Kerusakan Tambak dan Infrastruktur
Dari data yang diperoleh, tambak yang rusak berat mencapai 311,99 hektar, sedangkan tambak yang rusak berat mencapai 695,37 hektar. Tambahannya, 1.321,02 hektar tambak mengalami kerusakan sedang, dan 2.614,95 hektar tambak mengalami kerusakan ringan. Berbagai komoditas budidaya seperti udang, nila, lele, bandeng, kakap, dan kerapu terdampak oleh kerusakan tambak ini.
Selain tambak, sebanyak 19 jembatan pada ruas jalan untuk usaha tambak dan budidaya putus. Saluran air sepanjang 170,87 km juga ikut rusak. Satu unit Balai Benih Ikan (BBI) dan dua unit hatchery skala rumah tangga juga rusak. Selain itu, jalan produksi lingkungan budidaya ikan sepanjang 8.376 meter ikut rusak akibat banjir.
Tambak pemerintah juga mengalami kerusakan, yaitu 3 unit pembenihan rakyat yang hancur. Di bidang perikanan tangkap, sebanyak 644 orang nelayan terdampak banjir bandang. Kapal, perahu, dan motor hilang atau rusak berat sebanyak 110 unit, sedangkan 113 unit mengalami kerusakan ringan. Alat tangkap yang rusak dan hilang mencapai 415 unit.
Di bidang pengolahan, Unit Pengolahan Ikan (UPI) terdampak sebanyak 7 unit. Sementara itu, Unit Pengembangan Usaha Garam Rakyat (PUGaR) terdampak sebanyak 228 unit, dan lahan garam terdampak mencapai 1.000 meter. Dari berbagai kerusakan tersebut, sebanyak 4.717 pelaku usaha terdampak.
Kunjungan Menteri dan Harapan Masyarakat
Kemarin, tiga menteri yaitu Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Zulkifli Hasan, Menteri Perdagangan, Dr Budi Santoso MSi, dan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), Sakti Wahyu Trenggono, melakukan kunjungan ke kawasan terdampak banjir di Desa Alue Kuta Jangka. Dalam kunjungan tersebut, mereka didampingi Direktur Sarana dan Prasarana dari Ditjen Perikanan Budidaya, Kementerian KKP, Ir Ujang Kamaruddin MSc, dan Ditjen Perikanan Budidaya, TB Haeru Rahayu.
Para menteri sudah melihat langsung kondisi dampak bencana hydro meteorologi tersebut dan berharap segera ada skema penanganan yang cepat agar perekonomian masyarakat bisa segera pulih. Sebagian besar warga terdampak banjir mengungsi, dan kondisi rumah mereka juga tertimbun lumpur dan tanah terbawa banjir.
Menjelang bulan suci Ramadan, masyarakat berupaya agar ada program yang dapat memberdayakan petani tambak seperti pekerjaan normalisasi saluran tersumbat yang bisa dilakukan oleh tenaga manusia tanpa harus menggunakan alat berat. Program ini diharapkan bisa membantu masyarakat setempat memiliki penghasilan.
Dalam kunjungan tersebut, Menteri KKP juga menjanjikan adanya bantuan jadup dan berharap bantuan ini bisa segera terealisasi untuk petani tambak. “Dalam kunjungan tersebut, kita juga sudah menyampaikan kepada bapak Dirjen Budidaya bagi tambak rusak ringan segera dibantu agar bisa berproduksi,” jelasnya.











