"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"
Daerah  

Ratusan Korban Banjir Di Pati Mengungsi Ke Tempat Ibadah

Warga Terdampak Banjir di Pati Mengungsi ke Masjid dan Gereja

Di Kelurahan Kalidoro, Kecamatan/Kabupaten Pati, sebanyak 250 warga dari dua rukun warga (RW) terpaksa mengungsi ke Masjid Jami’ Rohmanti An-Nur. Keputusan ini diambil sebagai dampak dari banjir yang melanda wilayah tersebut. Mayoritas pengungsi merupakan kelompok rentan seperti lansia.

Sekretaris Kelurahan Kalidoro, Agung Gumelar menjelaskan bahwa evakuasi warga telah dilakukan sejak banjir pertama terjadi pada Jumat (9/1/2026) malam. “Sejak Jumat malam, kami sudah mulai mengevakuasi warga. Sekitar pukul 22.00, kami mengevakuasi dua orang lansia langsung dari rumahnya. Saat itu air sudah setinggi perut orang dewasa,” jelas Agung kepada Tribun Jateng, Senin (12/1/2026).

Genangan banjir membuat saluran drainase dan jalan sulit dibedakan. Kondisi ini membahayakan warga. “Kami tidak tahu mana drainase, mana jalan. Saya sendiri sempat tercebur ke selokan karena tidak kelihatan,” ucap Agung.

Hingga kini debit air masih terus meningkat sehingga warga masih bertahan di pengungsian. Di pengungsian, pihak kelurahan sudah menyiapkan kebutuhan dasar, terutama untuk lansia. “Ada obat-obatan, air minum, beras, dan susu. BPBD juga sudah mengirimkan bantuan logistik, antara lain mi instan dan air mineral,” papar dia.

Namun demikian, Agung menilai, warga masih membutuhkan bantuan, terutama makanan siap santap. “Yang sangat kami butuhkan saat ini adalah nasi bungkus. Karena ketinggian banjir bertambah, warga tidak bisa memasak. Kompor mereka terendam. Idealnya nasi bungkus tiga kali sehari untuk sekitar 200 sampai 250 orang,” ucap dia.

Di tengah situasi banjir ini, untuk sementara pihak kelurahan juga membuka layanan administrasi darurat bagi warga di lokasi pengungsian. Sebab, kantor kelurahan saat ini lumpuh akibat genangan air setinggi lutut. “Untuk pelayanan seperti legalisir, SKCK, KTP, KK, dan surat keterangan lainnya tetap kami layani di masjid sini. Kantor kelurahan saat ini lumpuh karena air kembali naik,” ucap Agung.

Pengungsian di Gereja Bethel Indonesia

Sementara itu, korban banjir di Desa Semampir, Kecamatan/Kabupaten Pati mengungsi ke Gereja Bethel Indonesia (GBI) Duta Kristus Pati yang berlokasi di desa setempat. Sedikitnya, 50 rumah di lingkungan gereja yang berlokasi di RT 03 RW 1, Desa Semampir, kebanjiran dengan ketinggian air yang bervariasi.

Pengurus gereja, Edi Suyitno, selain menjadi tempat ibadah, GBI Pati kini juga difungsikan sebagai posko pengungsian bagi warga sekitar yang terdampak banjir. Sejak Minggu malam, beberapa warga mulai mengungsi dan menitipkan barang-barang mereka, seperti pakaian, di area gereja yang bangunannya lebih tinggi.

“Peninggian bangunan yang dilakukan beberapa tahun silam memang ditujukan agar gereja bisa bermanfaat bagi masyarakat luas, terutama saat terjadi bencana seperti sekarang ini,” kata Edi.

Edi mengungkapkan, area GBI Duta Kristus Pati juga kebanjiran. Air mulai memasuki area gereja, sejak beberapa hari lalu. Banjir kali pertama datang, pada Jumat malam pukul 21.30. Banjir sempat surut, namun disusul gelombang kedua, pada Minggu (11/1/2026) sore.

Hingga Senin kemarin, air setinggi lutut orang dewasa, antara 40-50 sentimeter, masih menggenang di halaman gereja serta area permukiman di sekitarnya. Meskipun merendam jalan dan halaman, banjir hanya sampai ke teras, tidak sampai masuk ke dalam ruang utama gereja. Hal ini dikarenakan bangunan gereja telah ditinggikan, sejak tahun 2016, sebagai langkah antisipasi terhadap banjir yang kerap melanda wilayah tersebut.

Meski pada Minggu pagi banjir sempat surut, akibat kondisi jalan yang tertimbun lumpur tebal, pihak gereja memutuskan untuk menggelar Ibadah Raya Minggu secara daring melalui Zoom. “Kemarin (Minggu lalu–Red) kami ibadah online karena meskipun jalan sudah dibersihkan, tapi belum optimal,” kata Edi.

“Khawatir jemaat terganggu, jadi kami putuskan online,” sambungnya.

Ketua RT setempat, Nasikin menjelaskan, meski wilayah tersebut didominasi oleh warga Muslim, keberadaan GBI Duta Kristus Pati di tengah permukiman menjadi penolong bagi warga terdampak. Bangunan gereja yang ditinggikan memang sengaja dipersiapkan untuk menjadi tempat evakuasi bagi masyarakat sekitar saat bencana banjir terjadi.

“Di sini lingkupnya Muslim, tapi adanya gereja. Kami tidak masalah, yang penting toleransi. Alhamdulillah sampai sekarang damai. Tadi waktu air tinggi, warga banyak yang mengungsi ke gereja ini,” tuturnya.

Selama masa pengungsian, pihak gereja juga menyediakan berbagai fasilitas logistik untuk para pengungsi. “Pengelola gereja menyediakan makanan, cemilan, hingga minuman hangat seperti kopi dan teh untuk menjaga kondisi fisik warga di tengah cuaca dingin,” ujarnya.


Daliyah Ghaidaq

Jurnalis yang membahas isu anak muda, dunia komunitas, dan tren karier modern. Ia suka membaca blog produktivitas, mencoba teknik manajemen waktu, serta membuat jurnal harian. Motto: “Pemuda yang tahu informasi adalah pemuda yang kuat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *