Pukul 14.00 Wita, bendungan Temef yang berada di Kecamatan Oenino dan Kecamatan Polen, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur, tampak tenang di bawah langit yang cerah dan berawan. Beberapa kendaraan pribadi serta sepeda motor parkir di depan gerbang bendungan. Belasan pengunjung sibuk mengambil foto bersama rombongan mereka di beberapa titik foto yang menarik di area tersebut. Mereka bergantian memotret dengan berbagai gaya pose yang kreatif.
Salah satu spot favorit untuk foto adalah dua pilar beton yang memiliki motif khas Timor di pintu masuk. Pengunjung bisa berdiri di antara dua pilar tersebut dan mengambil foto sesuka hati. Titik lain yang sangat diminati adalah tulisan “BENDUNGAN TEMEF” yang terletak di taman yang berada di tempat agak tinggi dan membelakangi bendungan. Tulisan ini menjadi landmark dan validasi bagi pengunjung yang datang. Banyak orang bergantian berfoto di sini. Di depan tulisan tersebut terdapat batu besar yang ditempeli prasasti peresmian bendungan.
Di taman bendungan juga tumbuh pohon-pohon yang dibonsai dan bisa menjadi spot foto pilihan. Rupanya, pohon-pohon besar ini dipindahkan dari suatu tempat dan ditanam di sini saat pembangunan bendungan. Beberapa pohon masih ditopang dengan kayu dan terlihat bekas potongan di akarnya. Pohon-pohon boabab berderet rapi dalam dua baris. Terdapat pula beberapa pohon pule yang dikenal di sini dengan nama pohon taduk atau dalam Bahasa Dawan disebut lete. Salah satu pohon pule dipasang papan bertuliskan nama Joko Widodo dan Iriana Joko Widodo sebagai presiden dan ibu negara RI.
Para pengunjung kebanyakan membawa ponsel sendiri untuk memotret. Namun, ada seorang pria muda yang menenteng kamera mirrorless berlensa kit dan menawarkan jasa foto. “Foto bayar berapa?” tanya seorang pengunjung kepada sang tukang foto. Jawabnya, “Per foto dua ribu”. Dua gadis datang dan menawar tukang foto, “Seribu sudah”. Sang tukang foto pun bergegas dan memotret kedua gadis tersebut dengan arahan berbagai gaya di depan tulisan nama bendungan.
Matahari agak terik dan beberapa pengunjung duduk lesehan di bawah naungan pohon sambil makan dan ngobrol. Hamparan rumput hijau yang bagaikan karpet membuat nyaman untuk duduk lesehan. Pengunjung lainnya bersantai bersama kelompoknya di gazebo-gazebo yang tersedia. Area utama bendungan tertutup dan pengunjung dilarang masuk karena bendungan dengan ketinggian air puluhan meter berbahaya bagi pengunjung.
Inilah sepintas pemandangan bendungan Temef di awal tahun baru, Kamis (1/1/2025). Hari ini masih dalam suasana libur Natal dan tahun baru sehingga ada warga yang memilih berwisata di sini. Di daratan Timor khususnya Kabupaten Timor Tengah Selatan, bendungan Temef menjadi salah satu pilihan wisata.
Bendungan Temef sejak diresmikan Presiden Joko Widodo pada 2 Oktober 2024 sangat populer dan menjadi destinasi wisata yang banyak dicari. Setiap akhir pekan bendungan kerap dipadati pengunjung dan setelah itu media sosial dipenuhi dengan konten-konten wisata di Temef. Usia bendungan sudah satu tahun lebih dan masih jadi pilihan warga untuk wisata saat hari libur atau akhir pekan. Tepian genangan bendungan di bagian hulu sering menjadi spot memancing ikan oleh warga sekitar.
Akses ke bendungan Temef sangat mudah karena jalannya hotmix dan berjarak sekitar 1 kilo meter dari jalan raya trans Timor. Bendungan ini bisa dipandang dari jalan raya pada titik tertentu dengan view indah. Jaraknya dari Kupang ibu kota propinsi sekitar empat jam perjalanan darat. Di sekitar bendungan tidak ada penjual makanan dan minuman seperti tempat wisata pada umumnya. Kios-kios kecil hanya ada di simpang jalan raya menuju bendungan. Para pengunjung biasanya membawa makanan dan minuman sendiri. Berwisata di bendungan Temef tanpa pungutan biaya masuk alias gratis.
Bendungan yang dibangun dengan biaya Rp 2,7 triliun ini memiliki luas genangan 298 hektar dengan daya tampung 45 juta meter kubik air untuk pertanian, sumber air baku, pengendali banjir dan pembangkit listrik tenaga air (presidenri.go.id).
Ketika melihat bendungan Temef layak untuk ucapkan, “Sekarang sumber air sudah dekat”, sebuah ungkapan yang dulu populer dan menjadi candaan untuk orang Timor. Bendungan Temef menjadi sumber air penawar dahaga wisata, memuaskan jiwa-jiwa yang rindu healing. Lebih dari itu, bendungan Temef menjadi sumber air untuk air bersih dan pertanian di wilayah sekitar.
Penduduk Kabupaten Timor Tengah Selatan khususnya warga sekitar bendungan kebanyakan adalah petani. Keberadaan bendungan bisa mengembangkan pertanian seperti sawah dan holtikultura. Sistem pertanian di sini masih mengandalkan musim hujan sehingga adanya bendungan diharapkan dapat melangsungkan pertanian sepanjang tahun tanpa kenal musim. Warga di desa-desa seputaran bendungan sering kesulitan air bersih terutama saat musim kemarau. Mereka biasanya membeli air yang dibawa dari kecamatan tetangga dengan kisaran harga Rp 15.000 sampai Rp 20.000 per drum berkapasitas 200 liter.
Sementara air yang dijual dalam jerigen berukuran 20 liter biasanya dijual dengan harga Rp 5.000 per tiga jerigen. Bendungan Temef dengan puluhan juta meter kubik air ini kiranya dapat menjadi sumber air bagi masyarakat sekitar yang selama ini kesulitan air. Bendungan terletak di tempat yang rendah karena membendung kali Temef yang mengalir melalui kaki perbukitan sementara itu pemukiman warga berada di tempat yang lebih tinggi. Jika air bendungan hanya dialirkan mengikuti gravitasi alam, hanya masyarakat di daerah hilir yang akan menikmatinya.
Semoga nanti air dari bendungan dapat diolah dan dipompa ke tempat yang lebih tinggi lalu didistribusikan ke desa-desa sekitar untuk kebutuhan pertanian atau air bersih. Biarlah masyarakat yang selama ini kekeringan dan bermandikan debu berkata, “Sekarang sumber air sudah dekat”.
Bendungan Temef dibangun dengan triliunan rupiah bukan hanya sekedar sebagai tempat foto-foto namun merupakan infrastruktur untuk membangun daerah dan manusia di sekitar bendungan. Bangun pertanian, bangun perekonomian dan bangun peradaban. Bendungan Temef, sekarang sumber air sudah dekat. Semoga sumber air ini tidak hanya bisa didekati warga namun sumber airnya bisa didekatkan ke rumah-rumah dan lahan-lahan pertanian milik warga.
Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.











