"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"
Daerah  

Jambi, Ramalan Hard Gumay, Danau Toska, dan Ledakan 2026

Ramalan Hard Gumay dan Misteri Danau Kaco di Jambi

Ramalan Hard Gumay, seorang peramal ternama, kembali menjadi sorotan publik menjelang pergantian tahun. Dalam podcast Curhat Bang Densu bersama Denny Sumargo, ia menyampaikan penglihatannya terkait tahun 2026. Menurutnya, akan ada sebuah lokasi wisata di Indonesia yang mendadak menjadi pusat perhatian dunia meski selama ini nyaris tidak dikenal.

Lokasi tersebut bukan berada di destinasi wisata utama seperti Bali, Yogyakarta, Lombok, atau Sulawesi. Justru, tempat yang dimaksud berada di sebuah kabupaten kecil dan terpencil, di salah satu provinsi di Indonesia. Wilayah tersebut disebut belum pernah terekspose, dieksplorasi, maupun diangkat secara luas ke ruang publik. Di kawasan itu, terdapat bentang alam menyerupai danau dengan air berwarna hijau toska. Keunikan alam ini diperkuat dengan ditemukannya seekor hewan langka yang sebelumnya belum pernah terekspose ke publik.

Penemuan itu disebut akan menjadi viral, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di berbagai negara. Sorotan media internasional diprediksi akan mengikuti, menjadikan lokasi tersebut pusat perhatian global. Menariknya, Hard Gumay menyebut sosok yang pertama kali memviralkan temuan tersebut adalah seorang perempuan muda dari wilayah setempat, yang kemudian turut menjadi figur viral di media.

Jika ramalan tersebut benar, maka peristiwa ini akan membawa dampak positif bagi pariwisata nasional. Hard Gumay menilai ini sebagai kabar baik yang berpotensi mengangkat citra pariwisata Indonesia di mata dunia pada 2026.

Danau Kaco Kerinci Jambi dan Misteri di Dasarnya

Danau Kaco yang terletak di Desa Lempur, Kecamatan Gunung Raya, Kabupaten Kerinci, Jambi, merupakan bagian dari kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yang diakui sebagai salah satu situs warisan dunia oleh UNESCO. Selain keindahannya, Danau Kaco juga menjadi bagian penting dari kehidupan budaya masyarakat adat Lekuk 50 Tumbi Lempur yang merupakan pihak pengelola sejak tahun 2021.

Trekking ke Lokasi

Untuk bisa sampai di Danau Kaco, perjalanan akan dimulai dari Kota Jambi menuju Sungai Penuh sejauh 500 kilometer, dengan waktu tempuh sekitar 10 hingga 11 jam melalui jalur darat. Setibanya di Sungai Penuh, masih harus melanjutkan perjalanan ke Desa Lempur yang terletak di Kecamatan Gunung Raya. Jika jalannya tak lagi beraspal mulus, penuh batu, dan tanjakan, itu artinya sudah makin dekat ke pintu masuk Danau Kaco.

Dari situ, lanjut ke Desa Lempur, titik awal trekking menuju danau. Perlu jalan kaki sejauh 8 kilometer dengan menyusuri jalur tanah yang licin, akar-akar pohon yang menjulur, serta tanjakan yang sedikit curam. Meski luasnya hanya 90 meter persegi, Danau Kaco menawarkan pemandangan alam Indonesia yang bisa menenangkan jiwa dan raga. Airnya yang jernih berwarna hijau toska kebiru-biruan berpadu dengan atmosfer yang alami.

Burung Langka Ratusan Tahun

Burung ini pernah dianggap punah, namun setelah 90 tahun kemunculannya pada 1916, burung ini muncul pada November 1997. Seekor Burung Tokhtor Sumatera (carpoccocyx viridis) berhasil difoto untuk pertama kalinya. Beberapa sumber menyebutkan hingga kini burung endemik Sumatera ini termasuk dalam 18 burung paling langka di Indonesia.

Burung Tokhtor Sumatera didaftar sebagai satwa “Critically Endangered” alias kritis. Burung ini berstatus konservasi dengan keterancaman paling tinggi karena populasinya diduga tidak mencapai 300 ekor. Burung ini sejak 90 tahun sudah sulit ditemukan dan bahkan dinyatakan punah. Namun tiba-tiba ada yang melihat kembali burung itu.

Kabar gembira datang dari Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Burung yang sudah sekian lama dinyatakan punah itu tiba-tiba muncul di taman nasional tersebut. Pegiat Lembaga Flora dan Fauna Internasional pernah mengabarkan ditemukannya burung endemik Sumatera tersebut.

Burung langka tersebut kembali terlihat pada 2007. Seekor burung Tohtor Sumatera sudah berhasil ditemukan. Padahal, sejak tahun 1916, burung tersebut tidak pernah lagi terlihat oleh warga, sehingga sudah banyak yang tidak mengenalinya.

Menurutnya, penemuan burung tersebut secara tidak sengaja, saat peneliti gabungan dari Indonesia dan Inggris sedang meneliti pola perilaku Harimau Sumatera, dengan menggunakan kamera berteknologi tinggi infrared, yang bisa memotret satwa secara otomatis. Burung langka tersebut ditemukan dalam kawasan TNKS, tepatnya di antara perbatasan Kerinci-Bungo, dekat dengan kawasan Danau Gunung Tujuh.

Burung tersebut secara tidak sengaja terpotret kamera. Penemuan burung yang sangat langka tersebut lanjutnya, merupakan kabar yang sangat mengembirakan bagi pecinta burung di Indonesia. Apalagi burung tersebut sudah sempat dinyatakan punah, karena tidak ada lagi yang pernah melihatnya.

Staf Seksi Pemanfaatan dan Pelayanan Balai Besar TNKS mengatakan, jika bisa melihat burung tersebut merupakan kesempatan yang sangat langka. “Berdasarkan referensi yang ada, Burung Tohtor Sumatera merupakan burung yang ukurannya cukup besar, yakni memiliki panjang tubuh hingga 60 sentimeter. Burung tersebut merupakan burung yang pemalu, dan lebih suka hidup di kulit hutan (tanah)”, sebut Agung, yang juga pengamat burung.

Ada dua jenis Tohtor Sumatera, yakni spesies Sumatera dan species Kalimantan. Species yang hidup di Kalimantan, ukurannya lebih kecil dan warnanya lebih hijau, sementara species Sumatera ukurannya agak besar dan sedikit gelap. Hanya saja, dari keterangan sumber yang ada, kepala burung ini saat dewasa bewarna hitam, mantel abu-abu tersapu hijau metalik, ekor dan sayap bewarna hijau, tubuh bagian bawah bergaris-garis hitam dan putih.

Suaranya keras, nada awal temponya tinggi, nada kedua temponya turun. Suaranya terdengar merdu semerdu suara tekukur atau takur, mirip suara Engggang Jambul. Namun burung ini dikenal sebagai burung pemalu.

Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *