TANGERANG SELATAN,
Di tengah permasalahan penumpukan sampah yang masih terjadi di berbagai sudut Kota Tangerang Selatan, sejumlah warga memilih untuk tidak tinggal diam. Mereka mengambil inisiatif dari rumah masing-masing dengan cara sederhana untuk mengurangi sampah sejak dari sumbernya, agar tidak dibuang sembarangan hingga berujung pada penumpukan.
Di Perumahan Bukit Nusa Indah Serua, Ciputat, warga RT 05 dan RT 06 RW 13 membuat ratusan lubang biopori untuk menampung sampah organik. Sementara di RW 09 Kelurahan Bakti Jaya, Kecamatan Setu, warga bahkan sudah tidak lagi mengirim sampah ke TPA Cipeucang sejak beberapa bulan terakhir. Langkah-langkah ini lahir dari kesadaran bersama bahwa persoalan sampah tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah.
Biopori di Halaman Rumah
Ketua RT 06 Bukit Nusa Indah, Pramono Subakti, mengatakan pembuatan biopori sudah lama direncanakan warga. Situasi pengelolaan sampah di Tangsel yang belakangan tersendat membuat warga akhirnya bergerak.
“Sebenarnya kegiatan ini sudah lama kami harapkan. Kami sebagai warga ikut berkontribusi, jadi persoalan sampah semuanya tidak dibebankan ke sana (pemerintah) tapi dari kita juga,” kata Pramono saat dikonfirmasi, Jumat (19/12/2025).
Biopori yang dibuat digunakan untuk menampung sisa makanan, sayuran, dan sampah organik lainnya. Sampah tersebut kemudian terurai menjadi kompos yang bisa dimanfaatkan kembali sebagai pupuk tanaman.
“Dalam hal ini meminimalisir sampah-sampah yang ada, salah satunya dengan membuat biopori organik,” ujarnya.
Di wilayah RT 05 dan RT 06, jumlah biopori yang terpasang mencapai sekitar 200 hingga 300 lubang. Ke depan, warga menargetkan setiap rumah memiliki minimal tiga lubang biopori.
Selain sampah organik, warga juga menyiapkan rencana pengelolaan sampah non-organik melalui bank sampah. Harapannya, sampah rumah tangga bisa diselesaikan di lingkungan sendiri tanpa seluruhnya dibuang keluar kawasan.
“Sampah non-organik akan dikelola melalui bank sampah, sehingga pengolahannya bisa dilakukan oleh warga sendiri,” kata Pramono. Ia pun berharap ada dukungan dari pemerintah daerah, khususnya berupa alat pembuat lubang biopori agar warga lebih mudah memperluas program ini.
“Saya mohon ke DLH Tangsel untuk memberikan bantuan alat pembuatan lubang biopori,” ujarnya.
RW yang Berhenti Kirim Sampah ke TPA
Contoh lain datang dari RW 09 Kelurahan Bakti Jaya, Kecamatan Setu. Di wilayah ini, pengelolaan sampah mandiri sudah berjalan sejak Januari 2025, jauh sebelum krisis penumpukan sampah terjadi.
Ketua RW 09 Bakti Jaya, Maulana Putra (39), mengatakan program tersebut dirancang sejak awal masa jabatannya. Fokusnya ada pada bank sampah dan kelompok wanita tani (KWT).
“Sejak Januari 2025, memang ada beberapa program yang kami jalankan. Salah satunya adalah program bank sampah dan juga kelompok wanita tani. Nah, kebetulan kedua program ini saling berkaitan,” ujar Maulana saat ditemui di Taman KWT Griya Tanam 09, Rabu (17/12/2025).
Melalui bank sampah, warga diminta memilah sampah sejak dari rumah. Sampah anorganik seperti plastik dan minyak jelantah dikumpulkan secara berkala, sementara sampah organik diolah menjadi pupuk.
“Jadi untuk sisa makanan hingga menjadi pupuk itu butuh waktu sekitar satu bulan,” kata Maulana. Selain sisa makanan, daun-daun kering dari rumah warga juga dikumpulkan dan dijadikan kompos. Daun tersebut diletakkan di pot daur ulang yang dibuat dari galon bekas.
Dari program ini, volume sampah yang menjadi residu berkurang cukup signifikan. “Dari dua program ini, kita itu bisa mengurangi residu sampah yang dulunya mungkin 100 persen menjadi sekitar 70–80 persen,” ujar Maulana.
Pengolahan sampah organik dipusatkan di RT 04 yang memiliki lahan pengomposan. Hasilnya dimanfaatkan di Taman Griya Tanam 09, sebuah lahan seluas sekitar 250 meter persegi yang kini ditanami sekitar 250 jenis tanaman pangan. Dulunya, lahan tersebut dikenal warga sebagai “mini Cipeucang” karena sering menjadi tempat pembuangan sampah liar.
“Dulu itu titik-titik yang penuh sampah. Sekarang jadi lahan pertanian, dan warga bisa panen kangkung, terong, bayam, dan sayuran lain secara rutin,” kata Maulana. Perubahan itu dilakukan dengan modal sekitar Rp 20 juta yang berasal dari swadaya warga. Seiring berjalannya program, RW 09 kini tidak lagi mengirim sampah ke TPA Cipeucang.
Sejak akhir Oktober 2025, pengurus RW juga bekerja sama dengan pihak swasta untuk menangani sampah residu yang tidak bisa diolah secara mandiri. “Efektifnya satu bulan, artinya wilayah sini sudah nggak menyumbang sampah ke TPA Cipeucang,” ujar Maulana. Kerja sama tersebut tidak menambah iuran warga. Biaya pengelolaan diambil dari kas RW dan iuran rutin yang sudah berjalan.
Selain dampak lingkungan, bank sampah juga memberi manfaat ekonomi. Warga memiliki tabungan dari hasil pemilahan sampah plastik. “Hampir 70 sampai 80 persen warga sudah punya tabungan bank sampah,” kata Maulana.
Kontras dengan Kondisi Lapangan
Gerakan mandiri warga itu tak lepas dari kondisi lapangan yang memprihatinkan. Penutupan sementara TPA Cipeucang berdampak langsung pada penumpukan sampah di sejumlah titik kota. Di bawah kolong flyover Ciputat hingga kawasan Serpong, tumpukan sampah terlihat menggunung, sebagian hanya ditutup terpal biru. Bau menyengat, air lindi berwarna hitam, dan belatung bermunculan. Warga sekitar mengeluhkan dampaknya.
“Ditutup saja, tapi sampahnya tidak diangkut,” kata Agus Warsojeniawan (57), pemilik warung makan di sekitar lokasi penumpukan sampah. Di depan Puskesmas Serpong 1, bau sampah bahkan tercium hingga ke ruang pelayanan. Sejumlah warga mengaku terganggu dan khawatir terhadap dampak kesehatan.
Penjelasan Pemkot Tangsel
Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie sebelumnya menjelaskan, tersendatnya pengangkutan sampah disebabkan TPA Cipeucang tengah menjalani perbaikan dan penataan konstruksi, khususnya di area landfill 3. “TPA Cipeucang sedang dalam tahap perbaikan dan penataan konstruksi dan timbunan sampahnya, sehingga memang dalam beberapa hari belakangan sampah tidak dapat masuk dulu,” ujar Benyamin saat dikonfirmasi, Minggu.
Perbaikan landfill 3 ditargetkan rampung pada akhir Desember 2025, sehingga TPA Cipeucang dapat kembali menerima sampah dari seluruh wilayah Tangerang Selatan. Selain solusi jangka pendek, Pemkot Tangsel menyiapkan langkah jangka panjang melalui proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang masih menunggu tahapan lanjutan dari Kementerian Lingkungan Hidup.
Pemkot juga berencana membangun Material Recovery Facility (MRF) di TPA Cipeucang pada awal 2026. Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan menyebut, MRF menjadi solusi jangka menengah sambil menunggu realisasi PSEL. “Sambil kita juga persiapan di awal 2026 pembangunan MRF pengolahan sampahnya. Jadi sebagian bisa menggunakan MRF ini, sambil menunggu PSEL yang proses pembangunannya masih panjang,” ujar Pilar.
Saat ini, Pemkot Tangsel masih memaksimalkan penataan landfill di TPA Cipeucang sesuai arahan Kementerian Lingkungan Hidup. “Kita optimis dengan penataan Cipeucang di landfill 4,” kata Pilar.
Langkah mandiri warga Bukit Nusa Indah dan Bakti Jaya menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak harus selalu menunggu pemerintah. Dengan kesadaran dan tindakan sederhana dari rumah ke rumah, masalah lingkungan bisa mulai diselesaikan dari hulu sekaligus memberi manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat.











