"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"
Daerah  

Jejak Lumpur dan Kayu di Pesantren Aceh Tamiang: Lebih Tinggi dari Pohon Kelapa

Banjir Dahsyat di Aceh Tamiang Tinggalkan Jejak Mengerikan



Di kawasan Aceh Tamiang, sebuah pemandangan yang tidak biasa terjadi setelah banjir besar melanda Pondok Pesantren Darul Mukhlisin. Di bagian belakang kompleks pesantren, tumpukan kayu besar menumpuk hingga setinggi bangunan dua lantai, sekitar 10 meter. Area ini sebelumnya merupakan kawasan asrama santri putra dengan kolam-kolam untuk ternak ikan dan perkebunan. Namun kini, area tersebut telah berubah menjadi tempat penumpukan kayu yang mengancam keberadaan bangunan.

Di antara tumpukan kayu tersebut, masih terlihat bangunan masjid asrama putra berkelir krem dengan kubah berwarna hijau yang kokoh berdiri. Di sebelahnya, ruang-ruang belajar dan pondokan tempat para santri menginap juga baru berdiri, meski terkubur lumpur dan tumpukan kayu di bagian lantai satu.

Jejak Bekas Lumpur Sampai Lantai Dua

Ketinggian banjir di pesantren ini tergolong ekstrem. Jejak bekas lumpur dan air banjir pun terlihat di dinding dekat atap lantai dua bangunan setinggi kurang lebih 10 meter. Beberapa gelondongan kayu bahkan tersangkut hingga ke atap bangunan satu lantai.

Menurut Kepala Pelaksana Pondok Pesantren Darul Mukhlisin, Mulkana, banjir mulai terjadi setelah hujan lebat mengguyur wilayah tersebut selama beberapa hari berturut-turut. Awalnya, air banjir masih jernih dan murni berasal dari kumpulan air hujan. Namun, seiring waktu, air mulai meluap dan berubah menjadi lumpur.

Kayu Terus Bertambah, Menimbulkan Ke Khawatiran

Awalnya, air banjir belum membawa material kayu. Namun, lama kelamaan, kayu mulai terbawa arus. “Itu bertahap tuh, Bang. Kami lihat sendiri satu, dua. Itu kami masih logis,” ujar Mulkana.

Jumlah kayu yang terbawa arus terus bertambah hingga menimbulkan kekhawatiran akan merusak bangunan pesantren dan rumah warga di sekitarnya. “Itu kayu terus bertambah, Bang. Kami takut mereka akan menghantam bangunan,” tambahnya.

Akibatnya, situasi tersebut memaksa Mulkana dan para santri serta warga sekitar memilih untuk mengungsi lebih jauh. Meskipun lokasi awal pengungsian berada di lantai dua saat itu belum terendam banjir.

Tumpukan Kayu Lebih Tinggi dari Pohon Kelapa

Setelah air mulai surut beberapa hari setelahnya, pengurus pesantren baru bisa kembali melihat kondisi asrama. Akses menuju bangunan hanya bisa dilalui dengan memanjat tumpukan kayu. “Jadi kita itu memang benar-benar berdiri di atas kayu. Jadi tumpukan kayu dan lumpur pun sampai setinggi lantai dua bangunan,” tutur Mulkana.

Dia bahkan menyebut ketinggian kayu membuat posisi manusia berada lebih tinggi dibandingkan pepohonan di sekitar pesantren. “Saking tingginya kayu itu memang, Bang, kami bisa ngambilin kelapa. Ngambil kelapanya nunduk kita, bukan ke atas. Karena kita di atas, pohon kelapanya di bawah,” katanya.

Belum Ada Bantuan Evakuasi Kayu

Hingga hampir dua pekan pascabanjir, Mulkana menyebut belum ada bantuan alat berat untuk mengevakuasi tumpukan kayu tersebut. Aktivitas yang terlihat sejauh ini baru sebatas penyelidikan oleh aparat dari kepolisian dan Kementerian Kehutanan.

“Kalau untuk kayu, sependek ilmu kami belum ada. Belum ada. Yang ada kemarin orang dari Bareskrim sama orang yang bekerja sama dengan Kementerian Kehutanan,” ujar dia.

Menurut Mulkana, aparat hanya melakukan pengecekan untuk memastikan asal-usul kayu yang terbawa banjir, termasuk kemungkinan adanya kayu hasil pembalakan liar. “Mereka kayak neliti apakah di antara kayu ini ada kayu gelondongan yang merupakan hasil pembalakan. Dikasih police line juga di kayu-kayu yang besar,” katanya.

Harapan Bantuan dari Pemerintah

Mulkana berharap ada perhatian dan bantuan nyata dari pemerintah untuk menangani tumpukan kayu tersebut. Sebab, pihak pesantren tidak mungkin mampu membersihkan seluruhnya secara mandiri. “Kalau bisa, ‘Pak, bantu kamilah’. Cuma yang memang sekarang kita belum ada bantuan itu, belum ada sama sekali. Belum ada solusi, kayu itu siapa yang mau menghabisin,” ucap Mulkana.

Saat ini, pengurus Pondok Pesantren Darul Mukhlisin masih berupaya memulihkan kondisi pascabanjir secara perlahan. “Sekarang ya kita masih lebih kayak recovery diri dulu sih, lebih kayak menguatkan mental, menguatkan hati,” pungkasnya.

Ratna Purnama

Seorang reporter yang gemar meliput isu publik, transportasi, dan dinamika perkotaan. Ia memiliki kebiasaan membaca opini koran setiap pagi untuk memperluas perspektif. Hobi utamanya adalah jogging, fotografi, dan menikmati senja. Motto: "Kepekaan adalah modal utama seorang penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *