Persebaya Surabaya dan Kiprah Pelatih yang Terus Berganti
Persebaya Surabaya, salah satu klub sepak bola terbesar di Indonesia, telah mengalami perubahan pelatih sebanyak 11 kali sejak promosi ke Liga 1 pada tahun 2018 hingga kini berganti nama menjadi Super League. Dari jumlah tersebut, terdapat sembilan sosok berbeda yang menjabat sebagai pelatih kepala. Angka ini menunjukkan betapa dinamisnya posisi pelatih di klub yang dikenal dengan julukan Green Force ini.
Kisah terbaru datang dari pengunduran diri Eduardo Perez setelah masa kerjanya berakhir pada pekan ke-13 Super League 2025/26. Pengumuman resmi dilakukan oleh klub melalui akun media sosialnya pada Sabtu (22/11/2025) malam, hanya beberapa jam setelah pertandingan imbang 1-1 melawan Arema FC di Gelora Bung Tomo.
Pertandingan tersebut berlangsung sangat ketat, dan reaksi penonton pun beragam. Namun, Perez tetap menjaga sikap tenang dan profesional. “Yang pertama, kami memiliki pendukung terbaik. Tentu saja, sebagai seorang pelatih, saya harus menghormati semua pendapat mereka,” ujarnya seusai laga.
Pelatih asal Spanyol ini mengaku sangat menyukai atmosfer Persebaya Surabaya sejak hari pertama ia tiba di Surabaya. “Saya sangat senang di sini, bekerja di klub ini, dengan pemain-pemain ini,” kata pelatih berlisensi UEFA Pro itu.
Selama 172 hari bekerja, Perez memimpin Persebaya dalam 11 pertandingan dengan rata-rata 1,45 poin per pertandingan. Meski menunjukkan sikap hormat, catatan tersebut tidak cukup untuk membuatnya bertahan hingga akhir putaran pertama.
Manajemen Persebaya kemudian merilis pernyataan resmi yang menyatakan bahwa kerja sama dengan Perez telah diakhiri. “Persebaya hari ini (22/11) memutuskan untuk mengakhiri kerja sama dengan Coach Eduardo Perez,” tulis klub dalam keterangan tertulis yang dirilis malam itu.
Dalam pernyataan yang sama, manajemen juga menyatakan bahwa proses pergantian pelatih sudah memasuki tahap akhir. Mereka menyebut bahwa kesepakatan jangka panjang telah dicapai dengan sosok baru, namun klub memilih menyelesaikan segala aspek administratif sebelum mengumumkannya ke publik.
“Perihal pelatih pengganti, Persebaya telah mencapai kesepakatan jangka panjang. Namun, Persebaya akan bersikap profesional menunggu tuntasnya segala urusan legalitas,” demikian pernyataan klub.
Pergantian pelatih yang sering terjadi bukanlah hal baru bagi Persebaya Surabaya setelah promosi ke Liga 1. Klub ini sering mengalami pasang surut performa yang berujung pada pergantian pelatih, termasuk beberapa periode yang hanya berlangsung hitungan minggu.
Aji Santoso menjadi pelatih dengan masa kerja terlama sejak promosi, yaitu selama 1.382 hari dengan 91 pertandingan dan rata-rata 1,66 poin per pertandingan. Setelah Aji berpisah dengan klub pada 2023, instabilitas kembali muncul dengan pergantian pelatih yang cepat dalam beberapa bulan.
Uston Nawawi dua kali naik sebagai caretaker dalam durasi singkat pada 2023, masing-masing 39 hari dan 64 hari. Bejo Sugiantoro juga sempat dua kali mengisi posisi pelatih sementara dalam masa transisi pada 2018 dan 2019.
Beberapa pelatih asing seperti Josep Gombau dan Wolfgang Pikal juga pernah berada di kursi pelatih, meskipun hanya bertahan dalam waktu yang sangat singkat. Gombau memimpin selama 68 hari dengan enam pertandingan, sedangkan Pikal hanya bertahan 29 hari dan empat pertandingan.
Paul Munster kemudian membawa angin segar dengan masa kerja 516 hari dan rata-rata 1,55 poin per pertandingan. Namun, ketika Munster pergi pada Mei 2025, Persebaya kembali masuk ke siklus pencarian pelatih baru hingga akhirnya memilih Eduardo Perez sebagai penerus.
Kedatangan Perez sempat dianggap sebagai langkah awal membangun stabilitas baru bagi tim. Namun, perjalanan itu terhenti lebih cepat dari prediksi karena performa yang belum cukup konsisten untuk mengangkat posisi Persebaya.
Perez memahami tekanan besar itu sejak hari pertama, dan ia menegaskannya lagi seusai derbi. “Persebaya adalah klub besar, dan kami memiliki pendukung terbaik,” ujarnya dengan nada hormat yang menjadi penutup elegan perjalanannya bersama Green Force.
Ia juga mengakui profesinya memang penuh tuntutan tanpa ruang untuk beristirahat. “Dan tentu saja, dalam profesi saya, anda tidak beristirahat setiap hari. Saya tahu kita adalah klub yang besar,” sambungnya.
Kini Persebaya Surabaya kembali berada di persimpangan sambil menunggu kedatangan pelatih baru. Klub memastikan prosesnya hampir selesai sehingga publik hanya tinggal menunggu siapa sosok yang akan memimpin tim Kota Pahlawan dalam lanjutan putaran pertama Super League 2025/26.
Bagi suporter, harapan terbesar tentu bukan sekadar hadirnya pelatih baru, tetapi juga adanya kestabilan yang lebih kuat setelah bertahun-tahun terjebak dalam pola bongkar pasang. Konsistensi menjadi kunci agar Persebaya Surabaya mampu bersaing lebih tinggi dan tidak terus mengulang siklus lama.
Kursi pelatih Persebaya Surabaya selalu menjadi posisi paling menantang, namun juga paling dinantikan siapa pengisinya. Dalam waktu dekat, Babak baru bagi Green Force segera dimulai lagi bersama sosok yang akan memikul ekspektasi penuh dari Kota Pahlawan.

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











