"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"
Daerah  

SDBSI: Solusi Banjir Kota, Terapkan Kebijakan Tepat di Malang

Kepadatan Pendudok yang Tidak Sesuai Data Resmi Menjadi Akar Masalah Banjir di Kota Malang

Kepadatan penduduk riil Kota Malang yang jauh melampaui data statistik resmi menjadi salah satu faktor utama penyebab banjir dan genangan yang sering terjadi. Hal ini diungkapkan oleh Guru Besar Teknik Pengairan Universitas Brawijaya (UB), Prof. Dr. Ir. Muhammad Bisri, M.S., I.P.U. Ia menjelaskan bahwa populasi riil Kota Malang diperkirakan mencapai 1,2 hingga 1,5 juta jiwa, jauh dari angka Badan Pusat Statistik (BPS) yang hanya 850 ribu. Lonjakan ini didorong oleh tingginya arus mahasiswa yang masuk ke 62 perguruan tinggi di kota tersebut.

Perubahan besar dalam penggunaan lahan juga turut berkontribusi pada masalah ini. Kawasan resapan air berubah menjadi pemukiman, infrastruktur, dan bangunan komersial. Dalam analisis teknisnya, Prof. Bisri menyebut kondisi permukaan Kota Malang saat ini telah membuat koefisien pengaliran (C) hampir mencapai angka 1. Angka ini menggambarkan bahwa 100% air hujan yang jatuh di suatu permukaan tidak meresap ke dalam tanah, melainkan langsung mengalir di permukaan menjadi limpasan.

Sebagai ilustrasi perbandingan, di area hutan atau tanah bervegetasi, koefisiennya sangat rendah (misal 0,1-0,3), yang artinya sebagian besar air (70-90%) diserap tanah. Sebaliknya, Kota Malang yang semakin tertutup beton dan aspal berperilaku seperti “pelapis anti air” raksasa. Akibatnya, saat hujan turun air tidak punya kesempatan meresap. Kemudian langsung membanjiri jalan serta saluran dalam volume dan kecepatan tinggi, sehingga sistem drainase yang ada sering kewalahan.

SDBSI: Mengalihkan Air ke Bumi, Bukan ke Jalan

Menghadapi realita fisik kota yang sulit diubah drastis, teknologi Saluran Drainase Berbasis Sumur Injeksi (SDBSI) hadir sebagai solusi rekayasa. Prinsip dasar SDBSI adalah menangkap dan menginjeksikan (menyuntikkan) air hujan dari saluran drainase permukaan ke dalam sumur resapan yang dalam, sehingga air dialirkan kembali ke dalam tanah (groundwater recharge).

“Dengan SDBSI, kami berupaya memutus aliran air yang langsung menuju jalan raya dan saluran primer. Air dialihkan untuk diresapkan, mengurangi beban sistem drainase utama dan sekaligus mengisi cadangan air tanah,” papar Prof. Bisri. Teknologi ini diharapkan dapat diterapkan di titik-titik rawan genangan untuk mengurangi volume limpasan langsung.

Teknologi ini telah diterapkan di lingkungan Prof. Bisri sendiri dan berhasil mengurangi volume limpasan air ke jalan raya. Beberapa sekolah di Kota Malang juga pernah menjadi tempat uji SDBSI, termasuk Ponpes Bahrul Maghfiroh yang diasuh Prof. Bisri.

Kebijakan Makro dan Gerakan Bersama

Di sisi lain, Pemerintah Kota Malang, melalui Wali Kota Wahyu Hidayat, terus mendorong upaya kolektif. Minggu (7/12), Wali Kota meninjau langsung pelaksanaan Gerakan Angkat Sedimen dan Sampah (GASS). Walikota yang pernah mengenyam pendidikan planologi itu menegaskan GASS bukan kegiatan seremonial, melainkan langkah konkret mitigasi banjir.

“Kami turun langsung untuk memastikan saluran bersih. Tapi upaya ini tidak akan berarti tanpa dukungan masyarakat,” tegas Wahyu Hidayat, seraya mengajak warga menjaga lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan.

Prof. Bisri pun menekankan bahwa solusi jangka panjang harus multidimensi. Pemkot Malang telah memiliki masterplan drainase kota yang telah dituntaskan beberapa tahun lampau. Sehingga, empat langkah utama yang ia sarankan adalah: (1) Pengendalian arus masuk penduduk, (2) Pengendalian alih fungsi lahan dengan memperketat Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), (3) Penuntasan masterplan drainase kota, dan (4) Peningkatan kesadaran masyarakat melalui revitalisasi budaya kerja bakti.

Kolaborasi untuk Kota Malang yang Lebih Resilien

Dengan demikian, penanganan banjir di Kota Malang memerlukan pendekatan komprehensif. Di satu sisi, kebijakan pengendalian penduduk dan tata ruang yang ketat mutlak diperlukan. Di sisi lain, inovasi teknologi seperti SDBSI dan gerakan membersihkan saluran (GASS) menjadi aksi nyata yang dapat segera dilakukan untuk meredam dampak tingginya curah hujan, mengembalikan fungsi resapan tanah, dan mengamankan kota dari genangan di musim penghujan. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat menjadi kunci utama untuk mewujudkan Kota Malang yang lebih resilien dalam pengelolaan air.

Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *