Bencana Tanah Bergerak di Desa Padasari, Kabupaten Tegal
Bencana tanah bergerak yang disebut dengan fenomena creeping atau rayapan tanah terjadi di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Peristiwa ini telah berlangsung sejak awal Februari 2026 dan masih terus berlangsung hingga saat ini.
Hingga Minggu, 8 Februari 2026, jumlah warga yang mengungsi akibat bencana tersebut mencapai 2.453 jiwa. Mereka tersebar di delapan titik pengungsian. Data menunjukkan bahwa pengungsi terdiri dari laki-laki (945 orang), perempuan (982 orang), serta kelompok rentan seperti lansia (220 orang), ibu hamil (tiga orang), ibu menyusui (tiga orang), anak-anak (179 orang), balita (40 orang), dan batita (65 orang).
Pergerakan tanah dipicu oleh hujan deras dengan intensitas tinggi, yang menyebabkan kerusakan signifikan pada ratusan rumah warga. Selain itu, infrastruktur publik seperti jalan umum, bangunan sekolah, dan tempat ibadah juga terdampak.
Pengalaman Warga Terdampak
Salah satu warga terdampak, Siti Waridah, mengatakan bahwa pergerakan tanah mulai terasa setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut pada Senin, 2 Februari 2026 sore. Ia menyebutkan bahwa hujan berlangsung dari pukul 14.00 WIB hingga sekitar pukul 19.00 WIB. Setelah mendeteksi adanya pergerakan tanah, ia bersama warga lainnya memutuskan untuk mengungsi keesokan harinya demi keselamatan.
“Rumah rusak karena takut akhirnya mengungsi. Untuk suami dan orangtua masih di sana karena sebagian barang masih di rumah,” katanya. Menurut Siti, hampir seluruh rumah di lingkungannya terdampak, dengan kerusakan paling banyak terjadi pada bagian dinding yang ambrol serta lantai rumah yang mengalami retak-retak.
Penanganan Darurat oleh Pemerintah
Pemerintah Daerah Kabupaten Tegal telah menetapkan langkah tanggap darurat sejak malam kejadian. Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman menyampaikan bahwa pihaknya telah menyiapkan tenda darurat lengkap dengan alas, dapur umum di dua titik, serta toilet portabel sebanyak lima unit. Selain itu, toilet existing di rumah warga juga masih dimanfaatkan.
Menurut Bupati, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, meskipun kerusakan cukup signifikan baik pada rumah warga maupun fasilitas umum. Ia juga memastikan bahwa status tanggap darurat bencana telah ditetapkan melalui SK Bupati, sekaligus mengaktifkan pos komando dan satgas kebencanaan.
Peran Gubernur Jawa Tengah
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menekankan pentingnya kesiapsiagaan seluruh unsur serta penanganan yang tidak bersifat sementara. Ia menegaskan bahwa penanganan bencana harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemenuhan kebutuhan dasar hingga jaminan masa depan warga terdampak.
“Kita tidak bisa hanya memberi bantuan lalu selesai. Semua yang membutuhkan hunian sementara dan hunian tetap harus didukung. Hari ini di Tegal, semua harus cukup, mulai dapur, sekolah, dan kebutuhan lainnya. Jalan dan jembatan itu prioritas,” ujarnya.
Ia juga menyebutkan bahwa sekitar 250 rumah diperkirakan tidak dapat dibangun kembali di lokasi semula. Oleh karena itu, penyediaan hunian sementara dan hunian tetap menjadi prioritas utama.
Fenomena Creeping dan Upaya Relokasi
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah Agus Sugiharto menjelaskan bahwa bencana tanah bergerak di Desa Padasari terjadi karena fenomena creeping. Menurutnya, hasil investigasi dan kajian di lapangan menunjukkan bahwa lapisan tanah di wilayah tersebut berjenis clay atau lempung, sehingga mudah merayap ketika terkena air.
Fenomena ini berbeda dengan likuifaksi, karena creeping memerlukan kemiringan lahan. Di lahan datar, likuifaksi bisa terjadi, tetapi creeping pasti terjadi di lahan yang memiliki kemiringan.
Pemprov Jateng sedang mencari lokasi baru untuk hunian warga yang tempat tinggalnya sudah tidak bisa ditinggali. Sampai saat ini, sudah ada dua lokasi yang dipertimbangkan, yaitu tanah milik Perhutani di Tegal. Namun, masih perlu dilakukan kajian secara detail, menyeluruh, dan teliti agar aman untuk ditinggali.











