Polemik Ijazah Rismon Sianipar: Dugaan Palsu dan Kekurangan Bukti
Polemik seputar dugaan keaslian ijazah yang dimiliki oleh Rismon Sianipar kian memanas, terutama setelah ia dilaporkan ke Polda Metro Jaya atas dugaan penggunaan ijazah magister (S2) dan doktoral (S3) yang disebut tidak valid. Laporan ini berawal dari temuan-temuan yang menunjukkan kejanggalan dalam ijazah tersebut, termasuk perbedaan fisik, format penulisan, hingga kesesuaian nama rektor.
Penelusuran Tesis Tak Ditemukan di Sistem Universitas
Salah satu kejanggalan awal diungkap oleh Rony Teguh, seorang peneliti sistem informasi yang tinggal di Jepang. Ia melakukan pemeriksaan langsung terhadap data akademik yang berkaitan dengan Rismon. Menurutnya, tesis yang tercantum dalam CV Rismon tidak ditemukan dalam sistem administrasi akademik di Jepang. Sistem ini bekerja secara berjenjang dan terintegrasi, sehingga apabila ada tesis yang asli, maka akan tercatat secara resmi.
Ia menjelaskan bahwa proses evaluasi akademik di Jepang melibatkan beberapa tingkatan, mulai dari fakultas hingga departemen jurusan. Namun, hasil pengecekan menunjukkan bahwa tesis Rismon tidak ditemukan sama sekali.
Hanya Ditemukan Satu Prosiding Tahun 2006
Rony juga menyebut bahwa hanya ditemukan satu prosiding atas nama Rismon yang terbit pada tahun 2006. Prosiding ini merupakan kumpulan makalah dari seminar atau konferensi ilmiah, bukan tesis atau disertasi. Menurut Rony, prosiding memiliki tingkat kasta terendah dalam penelitian karena hanya menampilkan data baru yang belum bisa dijadikan sebagai paper utama.
Selain itu, posisi Rismon sebagai penulis keempat dalam makalah tersebut menunjukkan bahwa ia hanya bertindak sebagai penulis pembantu. Biasanya, penulis utama adalah yang pertama, sedangkan penulis keempat hanya membantu dalam analisis dan penyusunan.

Perbedaan Fisik Ijazah Jadi Sorotan Ahli Forensik Digital
Ahli forensik digital, Josua Sinambela, turut mengulas dugaan kejanggalan ijazah tersebut. Menurutnya, ijazah Rismon memiliki perbedaan signifikan dengan ijazah asli alumni Universitas Yamaguchi. Contohnya, warna kertas dan jumlah stempel yang digunakan. Ijazah asli memiliki dua stempel, sementara ijazah Rismon hanya memiliki satu.
Josua juga menyoroti perbedaan format huruf, tata letak, serta ketiadaan bidang ilmu dalam ijazah yang ditunjukkan Rismon. Ia menambahkan bahwa ijazah resmi dari Universitas Yamaguchi selalu mencantumkan bidang ilmu di bagian atas.
Nama Rektor Dipertanyakan
Selain itu, Josua menilai kejanggalan paling serius terletak pada nama rektor yang tercantum dalam ijazah. Ia menyatakan bahwa pada tahun 2006, bulan Mei, Hiroshikato sudah tidak lagi menjabat sebagai rektor. Artinya, ijazah yang dikeluarkan pada masa tersebut tidak mungkin menggunakan nama rektor yang salah.
Menurut Josua, ini merupakan kesalahan fatal yang menunjukkan bahwa ijazah tersebut tidak dikeluarkan oleh universitas yang bersangkutan.
Respons Rismon: Siap Hadapi Proses Hukum
Menanggapi laporan tersebut, Rismon menyatakan siap mengikuti seluruh proses hukum. Ia menyatakan bahwa ia menghargai hak hukum orang lain dan akan merespons sesuai mekanisme yang berlaku. Namun, jika tidak terbukti, ia akan melaporkan balik pihak yang menuduhnya.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak Universitas Yamaguchi terkait tudingan tersebut. Proses hukum di Polda Metro Jaya masih berjalan, dan publik menunggu pembuktian lebih lanjut melalui mekanisme yang berlaku.
Profil Rony Teguh dan Josua Sinambela
Rony Teguh adalah seorang peneliti dan dosen IoT dan AI dengan pengalaman lebih dari 16 tahun dalam komputer jaringan. Ia mahir dalam Python, C++, MATLAB, dan Sistem Informasi Geografis (GIS). Selain itu, Rony juga terlibat dalam proyek inovatif yang menggunakan teknologi pembelajaran mendalam untuk pemantauan ekologi.
Sementara itu, Josua M. Sinambela adalah pakar keamanan siber dan forensik digital. Ia pendiri dan CEO dari RootBrain IT Security Training & Consulting serta PT Analis Forensik Digital. Dengan pengalaman lebih dari 18 tahun di bidang infrastruktur jaringan dan keamanan sistem informasi, Josua telah memberikan kontribusi signifikan dalam berbagai proyek dan pelatihan di sektor korporat, akademik, dan pemerintahan.











