"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"
Daerah  

Api Abadi Mrapen Grobogan Padam, Ini Langkah ESDM Jateng

Penyebab dan Upaya Pemulihan Api Abadi Mrapen

Api Abadi Mrapen, yang merupakan salah satu ikon wisata alam di Jawa Tengah, mengalami padam sejak 1 Januari 2026. Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jateng menemukan bahwa penyebab utama kepadaman tersebut adalah adanya sumbatan lumpur yang menghambat aliran gas dari sumur. Proses ini menyebabkan api yang biasanya terus menyala tidak lagi berfungsi seperti semula.

Upaya pemulihan sedang dilakukan oleh tim ESDM Jateng. Mereka akan menggunakan teknik flushing untuk membersihkan sumbatan lumpur yang menghalangi aliran gas. Diharapkan dengan pembersihan ini, aliran gas dapat kembali lancar sehingga Api Abadi Mrapen bisa menyala kembali dalam waktu satu minggu. Tim ESDM telah melakukan kunjungan ke lokasi untuk menindaklanjuti masalah ini dan memastikan proses pembersihan berjalan sesuai rencana.

Kepala Bidang Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Dinas ESDM Jateng, Dwi Suryono menjelaskan bahwa hasil kajian lapangan menunjukkan bahwa sumur gas Api Abadi Mrapen tertutup oleh lumpur. Hal ini menyebabkan aliran gas terhambat dan akhirnya membuat api padam. Meski demikian, sumber gas yang menyuplai api abadi masih cukup. Pihaknya optimis bahwa setelah sumbatan dibersihkan, gas akan kembali mengalir dan api bisa menyala kembali.

Proses pembersihan ini diharapkan selesai dalam waktu satu minggu. Teknik flushing yang digunakan melibatkan pembersihan agar lumpur-lumpur yang menyumbat bisa terangkat, sehingga gas dapat mengalir kembali. Tim ESDM juga sudah melakukan penelitian lebih lanjut untuk mencari titik lokasi sumbatan dan memperbaikinya.

Sejarah dan Tantangan Api Abadi Mrapen

Api Abadi Mrapen memiliki nilai budaya dan wisata yang sangat penting. Tempat ini tidak hanya menjadi sumber nyala api obor dalam acara nasional seperti Pekan Olahraga Nasional (PON), tetapi juga memiliki makna historis. Bagi warga sekitar, api Mrapen dikaitkan dengan cerita persinggahan Sunan Kalijaga dan Empu Supo, seorang ahli pembuat keris sakti di zaman Majapahit. Oleh karena itu, kepadaman api abadi ini sering dikaitkan sebagai pertanda bahaya atau munculnya bencana alam.

Sebelumnya, Api Abadi Mrapen juga pernah padam pada tahun 2020. Saat itu, penyebabnya adalah proses pelapukan secara fisika maupun kimia di rekahan-rekahan yang menjadi saluran gas ke api Mrapen. Setelah delapan bulan, api kembali menyala setelah ditangani oleh tim Geologi. Kali ini, kepadaman api diduga akibat aktivitas pengeboran sumur yang berjarak hanya 200 meter dari lokasi api. Pengeboran dilakukan oleh perusahaan ritel yang ingin membuka toko minimarket. Pengeboran ini diduga berdiameter lebih luas, sehingga mengakibatkan api Mrapen padam.

Meskipun sumber gas metana di Api Abadi Mrapen masih ada, pihak terkait mengatakan bahwa kejadian matinya sumber api ini pernah terjadi sebelumnya. Menurut Agus Sugiharto, Kepala Dinas ESDM Jateng, sumber gas dalam reservoir tersebut dimungkinkan berkurang karena telah berusia ratusan tahun. Selain itu, aktivitas penggalian sumur di sekitar Mrapen juga mempercepat berkurangnya gas dalam reservoir.

Kejadian Pemulihan dan Peran Alat Bantu

Setelah kejadian 2020, Api Abadi Mrapen kembali menyala setelah dilakukan pengeboran kembali. Selepas menemukan sumber gas baru, alat bantu berupa tabung dipasang untuk mengatur tekanan gas yang keluar dari tanah. Alat ini membantu mengatur nyala api Mrapen, baik ketika gas keluar berlebihan maupun terlalu sedikit.

Tenaga Teknis Api Abadi Mrapen, Davi Dyanto, menjelaskan bahwa keberadaan gas metana di api abadi masih ada, sehingga bisa menyala kembali. Ia juga menyarankan agar warga sekitar memberi pemberitahuan atau izin ke pihak ESDM jika ada aktivitas pengeboran agar dapat didampingi. Namun, aktivitas pengeboran kian jarang ditemukan lantaran warga sekitar menggunakan PDAM.

Di area persawahan sekitar Mrapen, seringkali muncul sumber gas alami yang ditandai dengan gelembung air disusul bau gas yang menyengat. Air lumpur di persawahan ini ketika ditemukan gas juga memiliki sedotan lumpur yang lebih dalam.


Rizal Hartanto

Penulis berita dengan ketertarikan pada human interest dan kisah inspiratif. Ia senang berbincang dengan masyarakat untuk memahami realitas kehidupan. Ketika tidak menulis, ia menikmati hobi memasak dan mendengar podcast. Motto: "Menulis adalah cara merawat empati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *