"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"
Daerah  

Lingkungan Rusak, Bangka Selatan Masuk Zona Merah Bencana

Kabupaten Bangka Selatan Berada di Puncak Daftar Risiko Bencana Alam

Kabupaten Bangka Selatan, yang terletak di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, memiliki indeks risiko bencana alam yang tinggi. Hal ini disebabkan oleh kondisi geografis yang didominasi wilayah pesisir dan rawa, serta perubahan fungsi lahan yang semakin mengancam kestabilan lingkungan.

Beberapa jenis bencana yang sering terjadi di daerah ini antara lain banjir, banjir rob, abrasi pantai, dan angin puting beliung. Menurut Kepala Bidang Penanggulangan Bencana dan Kebakaran Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran (Satpol PP dan Damkar) Kabupaten Bangka Selatan, Ardiansyah, dalam beberapa tahun terakhir wilayahnya kerap dilanda bencana hidrometeorologi.

“Beberapa tahun ini Kabupaten Bangka Selatan merupakan daerah dengan indeks risiko bencana alam tertinggi. Khususnya bencana banjir dan angin puting beliung,” ujar Ardiansyah.

Faktor Penyebab Tingginya Potensi Bencana

Ardiansyah mencontohkan kejadian banjir yang terjadi di Desa Tepus akibat hujan dengan intensitas tinggi. Ia menjelaskan bahwa bencana tersebut tidak hanya disebabkan oleh faktor alam, tetapi juga oleh kerusakan lingkungan dan sistem aliran air yang tidak optimal.

Perubahan fungsi lahan dari daerah resapan air menjadi permukiman, perkebunan, atau area pertambangan telah mengurangi daya dukung lingkungan. Aktivitas pertambangan timah, baik di darat maupun pesisir, juga berkontribusi pada perubahan bentang alam. Pembukaan lahan dan penggalian tanah menyebabkan rusaknya sistem aliran air alami, sedimentasi sungai, serta pendangkalan saluran drainase.

Selain itu, kerusakan kawasan hutan dan rawa yang sebelumnya berfungsi sebagai penyangga ekologis semakin memperparah kondisi. Hutan lindung yang beralih fungsi menjadi area tambang mengurangi kemampuan tanah dalam menyerap air.

“Memang belakangan ini banjir yang kita tangani terjadi di Desa Tepus. Ada beberapa rumah yang terendam. Penyebabnya salah satunya kerusakan lingkungan, ditambah intensitas hujan yang cukup tinggi, serta hilirisasi banjir dari wilayah hulu,” jelas Ardiansyah.

Mitigasi Dini Melalui Pemetaan Wilayah Rawan Bencana

Untuk mengurangi risiko bencana, pemerintah daerah telah melakukan pemetaan wilayah rawan bencana di seluruh delapan kecamatan. Hasil pemetaan menunjukkan bahwa hampir seluruh kecamatan memiliki potensi bencana, terutama wilayah yang berada di pesisir pantai dan kawasan pertambangan.

Berikut adalah beberapa wilayah yang dikategorikan rawan bencana:

  • Kecamatan Toboali: Kelurahan Toboali dan Desa Keposang tercatat rawan banjir saat hujan berintensitas tinggi.
  • Wilayah pesisir: Kelurahan Toboali dan Kelurahan Tanjung Ketapang rentan terhadap banjir rob.
  • Kecamatan Tukak Sadai: Desa Tukak dan Desa Sadai berpotensi mengalami banjir serta dampak pasang air laut.
  • Kecamatan Lepar: Desa Tanjung Labu dan Desa Tanjung Sangkar berisiko banjir.
  • Kecamatan Kepulauan Pongok: Desa Celagen menjadi satu-satunya wilayah yang masuk kategori rawan.
  • Kecamatan Airgegas: Desa Bencah dan Desa Payung di Kecamatan Payung dipetakan sebagai daerah yang rentan banjir, khususnya saat hujan lebat berlangsung cukup lama.
  • Kecamatan Simpang Rimba: Desa Sebagin dan Desa Rajik dikategorikan rawan banjir rob akibat pasang air laut.
  • Kecamatan Pulau Besar: Relatif aman dan tidak masuk dalam peta wilayah rawan banjir maupun banjir rob.

Selain banjir dan banjir rob, delapan wilayah juga rentan mengalami abrasi pantai saat terjadi pasang tinggi air laut. Sementara itu, 12 wilayah lainnya dikategorikan rawan bencana hidrometeorologi berupa angin puting beliung.

Peringatan untuk Masyarakat

Meski ada wilayah yang dikategorikan relatif aman, Ardiansyah menegaskan bahwa status tersebut tidak boleh membuat masyarakat lengah. Perubahan cuaca yang cepat dan ekstrem dapat meningkatkan potensi bencana sewaktu-waktu.

“Faktor cuaca belakangan ini sering berubah-ubah. Ini bisa berpotensi fatal bagi masyarakat jika tidak diantisipasi,” kata Ardiansyah.

Badriyah Fatinah

Reporter yang menaruh minat pada isu-isu transportasi, publik, dan urbanisasi. Ia gemar naik kereta untuk mengamati dinamika kota, membaca laporan transportasi, dan memotret suasana perjalanan. Motto: “Setiap perjalanan menyimpan cerita baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *