"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"
Daerah  

Menghadapi Tantangan Parkir Motor PIM di Dalam Mal



JAKARTA,

Jarak yang jauh antara area parkir motor resmi dengan lobi Pondok Indah Mall (PIM), Jakarta Selatan, menjadi tantangan bagi pengunjung yang datang menggunakan sepeda motor. Pada Kamis (22/1/2026), penulis mencoba mengikuti jalur yang biasa dilalui pengunjung dari area parkir motor menuju lobi pusat perbelanjaan tersebut.

Berdasarkan pengalaman di lapangan, area parkir motor terasa seperti momok bagi pengunjung sebelum benar-benar memasuki area pusat perbelanjaan. Dari lokasi parkir motor, pintu masuk mal masih berjarak cukup jauh, sehingga pengunjung harus berjalan kaki belasan menit untuk mencapai lobi.

Perjalanan dimulai dari area parkir motor yang berada di kawasan pembangunan PIM 5, tepat setelah Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) PIM. Dari titik ini, pengunjung motor diarahkan menyusuri jalur pedestrian yang sudah dilapisi paving block menuju area utama mal. Namun, jalur tersebut juga digunakan oleh pengendara motor lain yang datang atau meninggalkan area parkir. Pengunjung pun harus berbagi ruang di jalur yang sama, dalam kondisi permukaan jalan yang terlihat becek dan memaksa langkah diperlambat agar tidak terpeleset.

Di sisi kanan dan kiri jalur, aktivitas pembangunan masih berlangsung. Alat berat terparkir di beberapa titik, sementara pekerja konstruksi berlalu-lalang di sekitar jalur yang dilalui pejalan kaki. Setelah berjalan beberapa menit, perjalanan berlanjut dengan menaiki JPO. Tangga JPO menjadi tantangan berikutnya, terutama bagi lansia, ibu hamil, atau pengunjung yang membawa anak kecil. Tidak tersedia eskalator maupun lift di JPO ini. Tangga menjadi satu-satunya akses untuk menyeberang ke sisi lain.

Setibanya di bawah JPO, perjalanan belum usai. Pengunjung masih harus berjalan melewati area parkir mobil PIM 1. Barisan kendaraan roda empat terparkir rapi dan berdekatan dengan akses masuk mal. Beberapa menit kemudian, langkah kaki akhirnya berhenti di Lobby Metro PIM 1. Secara keseluruhan, waktu tempuh berjalan kaki dari area parkir motor hingga lobi mencapai hampir 11 menit dengan langkah santai.

Jarak tersebut membuat pengalaman masuk mal bagi pengunjung motor terasa jauh lebih panjang dan cukup melelahkan dibandingkan mereka yang datang menggunakan mobil.

Lelah Sebelum Masuk Mal

Aldi (26), salah satu pengunjung, mengaku merasakan kondisi tersebut hampir setiap kali datang ke PIM. Ia kerap merasa lelah saat menyusuri jalan menuju lobi karena waktu tempuh yang dihabiskan bisa mencapai sekitar 10 menit.

“Itu jalan santai aja udah kerasa capek, apalagi kalau yang ke mal habis kerja. Kadang belum masuk mal aja bajunya udah basah keringetan duluan,” kata Aldi saat ditemui, Kamis.

Bagi Aldi, setiap pengunjung yang baru pertama kali menggunakan parkiran motor resmi di area PIM akan terasa sebagai kejutan. Bukan hanya soal jauhnya pintu masuk, tetapi juga rangkaian akses yang harus dilalui sejak motor diparkir.

Aldi mengaku keterkejutannya masih terasa hingga kini. “Kaget banget. Masuk ke parkirnya aja jauh, pas jalannya ke mal ternyata emang parkiran motornya jauh banget dari pintu masuk,” ujar dia.

Timbul Rasa Enggan Berkunjung

Jarak yang panjang perlahan memengaruhi keputusan pengunjung untuk kembali datang. Bagi sebagian orang, kelelahan sebelum masuk mal membuat kunjungan terasa tidak sepadan dengan tujuan. Aldi mengaku beberapa kali mengurungkan niat datang ke PIM jika tidak memiliki keperluan penting.

Ia membandingkan dengan pusat perbelanjaan lain yang menyediakan akses parkir motor lebih dekat dan praktis. “Kalau enggak ada keperluan penting, mending ke mal lain yang parkir motornya lebih dekat. Capek duluan sebelum belanja tuh bikin males,” ucapnya.

Merasa Dianaktirikan sebagai Pengunjung Motor

Perbedaan jarak antara parkiran motor dan mobil di PIM memunculkan perasaan diperlakukan tidak setara. Pengunjung yang naik motor harus berjalan jauh, sedangkan pengunjung yang membawa mobil bisa langsung turun di dekat pintu masuk.

Aldi menilai kondisi tersebut tidak wajar. Menurut dia, pengunjung yang naik motor maupun mobil sama-sama datang untuk berbelanja, sehingga seharusnya mendapatkan akses yang sama. “Sama-sama pengunjung, sama-sama mau belanja, masa yang motor disuruh jalan sejauh itu. Kayak nggak dianggap aja,” ujarnya.

Jalur Becek dan Tak Ramah Saat Hujan

Masalah jarak semakin terasa ketika hujan turun. Jalur dari parkiran motor menuju mal menjadi licin dan becek, membuat perjalanan semakin tidak nyaman. Aldi menyebut kondisi tersebut membuat pengunjung motor harus ekstra hati-hati, bahkan sebelum benar-benar menikmati fasilitas mal.

“Kerasa banget. Mobil tinggal turun, langsung masuk. (Pengendara) motor jalan dulu, panas-panasan, apalagi jalannya enggak enak, becek kalau hujan,” katanya. Ia juga kerap melihat pengunjung lain yang tampak kesulitan di jalur tersebut, mulai dari ibu membawa anak hingga orang yang menenteng barang.

“Paling ada ibu-ibu bawa anak, ada yang bawa barang, kelihatan ngos-ngosan. Kadang kasihan juga lihatnya,” ucap Aldi.

Akses Parkir yang Dinilai Tidak Adil

Pengunjung lainnya, Lita (29), menilai jarak parkir motor yang jauh tidak sebanding dengan peran pengendara motor sebagai mayoritas pengunjung. Menurut dia, kondisi tersebut menciptakan kesan bahwa pengguna sepeda motor adalah pengunjung kelas dua.

“Menurut saya enggak wajar. Motor itu kan juga mayoritas pengunjung. Masa malah disuruh jalan paling jauh,” katanya. Perasaan dianaktirikan juga kerap muncul saat ia berjalan menuju mal. “Kepikiran rasanya kayak yang motor itu kelas dua. Padahal kita juga datang buat ngeluarin duit,” ujar Lita.

Minim Kenyamanan

Situasi menjadi semakin merepotkan saat hujan turun atau ketika malam hari. Jalur pejalan kaki dari parkiran motor menuju mal dinilai belum cukup aman dan nyaman. “Kalau hujan ya basah, licin, tolong deh PIM,” kata Lita singkat. Ia menilai penyediaan parkir tidak cukup hanya soal ketersediaan lahan, tetapi juga soal akses yang layak dan manusiawi.

“Menurut saya belum. Parkir itu bukan cuma ada atau enggaknya, tapi juga aksesnya manusiawi atau enggak,” ujarnya.

Merugikan Konsumen dan Diskriminatif

Manajer Pengaduan dan Hukum Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Arianto, menilai jarak parkir motor yang terlalu jauh dari pintu masuk pusat perbelanjaan berpotensi merugikan konsumen. Kerugian itu tidak hanya berkaitan dengan waktu dan biaya tambahan, tetapi juga menyangkut akses kelompok rentan serta hak konsumen.

“Hak konsumen dirugikan tidak hanya soal biaya tambahan dan juga bagaimana kenyamanan, keselamatan dan rasa aman yang diberitakan pelaku usaha,” katanya saat dihubungi, Kamis. Selain itu, Arianto menegaskan pelayanan parkir merupakan bagian yang melekat dari aktivitas pembelanjaan dan tidak bisa dipisahkan dari kewajiban pelaku usaha.

Menurut Arianto, pusat perbelanjaan sebagai ruang publik harus memberikan pelayanan yang adil dan tidak diskriminatif, termasuk dalam penyediaan akses parkir bagi pengunjung bermotor maupun pejalan kaki. “Perlakuan pelayanan yang tidak fair terhadap pengunjung berkendara mobil dengan motor, tentu tidak baik. Seharusnya pelayanan dilakukan tanpa diskriminatif, memiliki akses yang sama dan mudah,” ujarnya.

Skema Tarif Bisa Jadi Jalan Tengah

Pengamat Kebijakan Publik Trubus Rahadiansyah menilai persoalan jauhnya akses parkir motor di pusat perbelanjaan sebenarnya dapat disiasati melalui kebijakan pengelola. Menurut dia, pengelola mal memiliki ruang untuk mengatur pilihan layanan parkir yang lebih adil bagi pengunjung, tanpa harus sepenuhnya menyeragamkan perlakuan antara kendaraan roda dua dan roda empat.

“Disamakan aja tarif parkirnya, tapi dia posisinya dekat, tapi dia juga menyediakan yang jauh Kalau mau harganya biasa (Rp 2.000 per jam),” kata dia saat dihubungi, Kamis. Ia menilai, skema tarif parkir bisa diterapkan agar pengunjung memiliki pilihan untuk parkir lebih dekat dengan biaya lebih mahal atau parkir lebih jauh dengan tarif yang lebih murah.

“Jadi ada pilihan, kalau mau milih perjamnya sama dengan mobil, misalnya Rp 5.000, yaudah masuk yang dekat. Tapi kalau mau perjamnya yang Rp 2.000 yang jauh itu, kalau perlu juga menyediakan tempat yang gratis juga,” ujarnya.

Bahjah Jamilah

Bahjah Jamilah adalah seorang penulis berita yang menyoroti dunia kuliner dan perjalanan. Ia suka mengeksplorasi makanan baru, memotret hidangan, serta menulis ulasan perjalanan. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca blog kuliner. Motto: “Setiap rasa menyimpan cerita.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *