Pelabuhan Tanjung Gudang Belinyu, Dulu Penuh Kehidupan, Kini Tersisa Kenangan
Di tengah keheningan yang mengelilingi Pelabuhan Tanjung Gudang Belinyu, tidak terdengar lagi deru mesin kapal atau riuhnya suara penumpang. Terminal penumpang tampak sepi, tidak ada antrean, dan aktivitas bongkar muat pun nyaris tidak terlihat. Kendaraan terparkir tanpa pergerakan, sementara warung-warung di sekitar pelabuhan hanya melayani pekerja. Kondisi ini jauh berbeda dengan masa lalu ketika Belinyu menjadi pelabuhan utama di Pulau Bangka.
Bagi warga setempat, pelabuhan ini bukan sekadar dermaga. Ia adalah pintu masuk harapan, tempat ribuan orang datang dan pergi, sekaligus simpul ekonomi yang pernah menghidupi Pulau Bangka. Di sebuah rumah sederhana, M Toha menyimpan potongan sejarah Belinyu dalam bentuk poster foto berukuran besar. Gambar itu menampilkan PLTUG Mantung, pembangkit listrik tenaga uap dan gas yang dibangun pada 1908. Dari kawasan inilah, listrik pertama kali mengalir ke berbagai penjuru Bangka.
“Dulu sebelum ada PLN, listrik Bangka itu dari Belinyu. Sampai ke Pangkalpinang, Mentok, Sungailiat, Sungaiselan, Lampur, semua dari sini,” kata Toha, Rabu (21/1). Di usia 84 tahun, ingatan Toha tentang Belinyu tak lekang oleh waktu. Ia masih mengingat jelas masa ketika Pelabuhan Tanjung Gudang menjadi denyut nadi kehidupan Bangka, terutama pada dekade 1980-an.
Dermaga memang masih kayu, namun aktivitas tak pernah sepi. “Dulu ramai Belinyu nih, sembako masuk dari sini galo untuk Bangka. Semen, besi, bahan bangunan, beras, gula, semuanya masuk dari sini semua,” ujarnya. Belinyu kala itu adalah pintu utama Bangka. Truk-truk berjejer membawa muatan ke Pangkalpinang, Sungailiat, hingga Sungaiselan.
Nama PT Sederhana Makmur dikenal luas sebagai simbol pelayaran niaga. Dari pelabuhan ini pula, hasil bumi Bangka dikirim ke luar pulau. “Karet, lada, kaolin dari sini. Timah kadang-kadang,” kata Toha. Kenangan tentang ramainya pelabuhan juga melekat pada Jamilah, pedagang yang telah berjualan di sekitar kawasan ini sejak 1997.
Ia masih ingat betul suasana ketika setiap kedatangan kapal menjadi peristiwa besar bagi warga. “Dulu tuh masih seger di pelabuhan ini. Banyak orang, kami sering main voli, mandi dekat kapal laut,” kenangnya. Menurut Jamilah, kapal penumpang dan kargo rutin datang dari Jakarta, Palembang, hingga Kijang, Riau. Kapal-kapal itu membawa beras, gula, dan kebutuhan pokok lainnya, sementara dari Bangka dikirim kaolin. “Kalau kapal datang, kami panen. Orangnya ribuan,” katanya.
Namun, waktu perlahan mengubah segalanya. Memasuki awal 1990-an, Pelabuhan Tanjung Gudang mulai dibangun ulang secara permanen melalui tiga tahap, mulai dari pembebasan lahan, pembangunan dermaga, hingga terminal penumpang. Modernisasi fisik berjalan, tetapi keramaian justru tak ikut kembali. “Dari segi keramaian, jauh kalah dengan dulu,” ucap Toha. Pembatasan kapal kayu, hadirnya pelabuhan pesaing seperti Pangkalbalam dan Tanjung Kalian Mentok, serta pergeseran jalur logistik membuat Belinyu perlahan tersisih.
Aktivitas menurun, dan bersama itu pula ekonomi warga yang dahulu bergantung pada arus kapal ikut meredup. Kini, Pelabuhan Tanjung Gudang lebih sering dikenang lewat cerita daripada disaksikan lewat aktivitas.
Proyek FTZ: Harapan Kebangkitan Baru
Di tengah sunyi yang tersisa, muncul harapan akan kebangkitan baru. Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melalui BUMD PT Bumi Bangka Belitung Sejahtera menjajaki kerja sama dengan investor asal Tiongkok, PT Hai Yin. Pelabuhan Belinyu diproyeksikan menjadi kawasan Free Trade Zone (FTZ) yang terintegrasi dengan kawasan industri, dengan nilai investasi mencapai Rp3 triliun.
“Kalau skema bisnisnya nanti pelabuhan itu menjadi pelabuhan FTZ, kemudian jadi kawasan berikat daerah itu. Kemudian mereka juga menginginkan pembangunan pelabuhan itu terintegrasi dengan kawasan industri,” ujar Direktur PT Bumi Bangka Belitung Sejahtera, Eka Mulya Putra. Saat ini, kerja sama tersebut masih berada pada tahap penandatanganan nota kesepahaman dan pengurusan perizinan di tingkat pusat. “Untuk perizinannya banyak di pusat semua, secara teknis belum sampai ke pembahasan AMDAL,” jelasnya.
Pengelolaan pelabuhan direncanakan menggunakan skema bagi hasil dengan masa kerja sama 20 hingga 30 tahun. Pemerintah daerah berharap proyek ini dapat menghidupkan kembali pelabuhan yang kini lebih sering hidup dalam ingatan warganya. “Kita yakin dampak positifnya akan lebih besar untuk Bangka Belitung, terutama dalam hal perekonomian,” ujar Eka.











